ETF EIDO: Isi, Indeks MSCI Indonesia, dan Dampak Usulan Standalone Market

Ringkasan Gotrade
- ETF EIDO adalah ETF yang memberikan eksposur terhadap saham Indonesia melalui bursa AS, dengan indeks acuan MSCI Indonesia IMI 25/50.
- Komposisi indeks acuannya cukup terkonsentrasi pada sektor keuangan, terutama saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
- Pergerakan EIDO dapat membantu membaca sentimen investor global terhadap saham Indonesia, tetapi bukan indikator yang dapat memastikan arah IHSG.
ETF EIDO adalah iShares MSCI Indonesia ETF, yang merupakan produk investasi berisi saham perusahaan Indonesia tetapi diperdagangkan dalam dolar AS di bursa Amerika Serikat.
ETF ini berkorelasi dengan kinerja beberapa saham Indonesia, terutama perusahaan berkapitalisasi besar, karena mengikuti indeks MSCI Indonesia IMI 25/50.
Ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) tutup, investor sering melirik EIDO. Selain itu, MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi market Indonesia pada 15 Oktober 2026.
Apa sebenarnya saham yang termasuk dalam ETF EIDO, dan bagaimana risikonya bagi investor Indonesia?
Apa Itu ETF EIDO?
Dirancang untuk mengikuti kinerja indeks saham Indonesia, ETF EIDO adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa.
BlackRock Fund Advisors mengelola produk ini melalui iShares. ETF ini tercatat di NYSE Arca di Amerika Serikat sejak 5 Mei 2010.
Investor EIDO membeli unit dana yang memberikan eksposur terhadap sekumpulan saham Indonesia. Ini berbeda dengan membeli saham BBCA atau BBRI secara langsung di BEI.
Prospektus iShares MSCI Indonesia ETF yang terdaftar di SEC menyatakan bahwa EIDO mengikuti hasil investasi indeks acuannya sebelum biaya dan pengeluaran, menggunakan pendekatan investasi pasif.
Berikut informasi dasarnya.
Informasi | ETF EIDO |
|---|---|
Nama lengkap | iShares MSCI Indonesia ETF |
Kode perdagangan | EIDO |
Penerbit | iShares Trust |
Penasihat investasi | BlackRock Fund Advisors |
Bursa | NYSE Arca |
Mata uang perdagangan | Dolar AS |
Indeks acuan | MSCI Indonesia IMI 25/50 |
Tanggal peluncuran | 5 Mei 2010 |
Rasio biaya | 0,59% per tahun |
Jumlah saham dalam indeks | 43 per 30 September 2026 |
Sumber: factsheet MSCI tanggal 30 September 2026 dan prospektus EIDO tanggal 30 Desember 2025.
Peninjauan indeks dapat menyebabkan jumlah konstituen berubah.
Rasio biaya 0,59% bukan biaya yang harus dibayarkan secara terpisah setiap tahun, melainkan biaya operasional tahunan dana yang tercermin dalam nilai asetnya.
Investor dapat mengunjungi halaman ETF EIDO di Gotrade untuk melihat perkembangan harga EIDO.
Perbedaan IHSG, Indeks MSCI Indonesia, dan EIDO
Ketika berbicara tentang market Indonesia, istilah "indeks EIDO" sering digunakan. Meskipun demikian, EIDO sendiri bukan sebuah indeks.
Sementara IHSG adalah indeks saham yang dihitung oleh Bursa Efek Indonesia, EIDO adalah ETF yang mengikuti indeks.
Ketiganya memiliki karakteristik berbeda.
Komponen | EIDO | MSCI Indonesia IMI 25/50 | IHSG |
|---|---|---|---|
Jenis | ETF | Indeks saham | Indeks saham |
Cakupan | Portofolio saham Indonesia | Saham Indonesia yang dipilih berdasarkan metodologi MSCI | Saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan memenuhi ketentuan indeks |
Mata uang | USD | Dihitung dalam berbagai mata uang, termasuk dolar AS | IDR |
Perdagangan | Bursa AS | Tidak diperdagangkan langsung | Tidak diperdagangkan langsung |
Biaya dana | 0,59% per tahun | Tidak ada | Tidak ada |
Komposisi menjadi salah satu perbedaan utamanya.
Sementara MSCI Indonesia IMI 25/50 menggunakan kriteria seleksi dan pembobotan sendiri, IHSG mencakup saham-saham yang memenuhi ketentuan indeks BEI.
Akibatnya, kenaikan IHSG dan EIDO tidak selalu bergerak dengan persentase yang sama.
Selain komposisi saham, jam perdagangan, biaya pengelolaan, perubahan nilai tukar, dan perbedaan mata uang juga dapat memengaruhi kinerja.
Bagaimana ETF EIDO Berfungsi?
Ada tiga hal penting yang harus diketahui untuk memahami cara kerja EIDO: indeks acuan, cara dana mengikuti indeks, dan mekanisme perdagangan di bursa AS.
1. Arti IMI dan 25/50 pada Indeks MSCI
EIDO mengikuti indeks MSCI Indonesia IMI 25/50.
IMI adalah singkatan dari Investable Market Index, yaitu indeks yang mencakup saham berkapitalisasi besar, menengah, dan kecil yang memenuhi persyaratan MSCI.
Sementara itu, angka 25/50 menunjukkan batas konsentrasi bobot dalam indeks.
Singkatnya:
Batas 25%: Dalam penerapan batas diversifikasi ini, bobot satu kelompok penerbit tidak boleh melebihi 25%.
Batas 50%: Total bobot kelompok penerbit yang masing-masing memiliki bobot lebih dari 5% dibatasi hingga 50%.
Sebagaimana dijelaskan dalam 26 U.S. Code Section 851, ketentuan ini berkaitan dengan aturan diversifikasi dana investasi.
Sebagai ilustrasi, menurut factsheet MSCI per 30 September 2026:
BBCA memiliki bobot 22,07%.
BBRI memiliki bobot 13,52%.
BMRI memiliki bobot 10,42%.
Secara keseluruhan, ketiga saham tersebut memiliki bobot sekitar 46,01%.
Angka ini menunjukkan seberapa besar pengaruh saham perbankan terhadap indeks acuan EIDO.
Namun, pada tingkat kelompok penerbit, aturan 25/50 diterapkan melalui metodologi penyeimbangan indeks. Karena itu, batas tersebut tidak cukup dihitung hanya dengan menjumlahkan tiga saham tanpa mempertimbangkan seluruh konstituen.
2. EIDO Tidak Harus Memiliki Semua Saham dalam Indeks
EIDO tidak selalu memiliki setiap saham dalam indeks dengan bobot yang sama persis, meskipun mengikuti indeks MSCI Indonesia IMI 25/50.
Dana ini menggunakan representative sampling, yaitu memilih saham yang dianggap mewakili karakteristik indeks acuannya.
Prospektus menunjukkan bahwa EIDO menerapkan kebijakan investasi setidaknya 80% asetnya pada sekuritas yang termasuk dalam indeks acuan atau instrumen terkait yang memenuhi syarat.
Akibatnya, kinerja ETF dapat sedikit berbeda dari indeksnya.
Sebagai contoh, perbandingan berikut dicatat dalam prospektus EIDO untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2024.
Periode | Return EIDO | Return indeks acuan |
|---|---|---|
1 tahun | -11,41% | -10,79% |
5 tahun, rata-rata per tahun | -3,54% | -3,07% |
Biaya pengelolaan, komposisi portofolio, dan perbedaan antara dana dan indeks dapat berkontribusi terhadap selisih tersebut.
Dengan kata lain, investor tidak boleh berasumsi bahwa hasil investasi EIDO akan selalu sama dengan tingkat kinerja MSCI.
3. Jam Perdagangan, NAV, dan Harga EIDO
EIDO diperdagangkan di bursa AS seperti saham biasa.
Nilai aset bersih atau net asset value (NAV) menunjukkan nilai aset bersih dana, sedangkan permintaan dan penawaran investor menentukan harga transaksinya.
Keduanya dapat berbeda.
Premium terjadi ketika harga EIDO lebih tinggi daripada NAV. Sebaliknya, discount terjadi ketika harga lebih rendah daripada NAV.
Ketika saham Indonesia sebagai aset utamanya tidak diperdagangkan, perbedaan tersebut dapat menjadi lebih jelas.
Jam perdagangan reguler EIDO dalam WIB adalah sebagai berikut:
Periode | Jam perdagangan |
|---|---|
Saat Amerika Serikat menerapkan daylight saving time | 20.30–03.00 WIB |
Saat Amerika Serikat menggunakan standard time | 21.30–04.00 WIB |
Pada 2026, perubahan ke standard time terjadi pada 1 November.
Sesi reguler BEI sudah berakhir ketika EIDO mulai diperdagangkan pada malam hari WIB. Akibatnya, harga EIDO dapat menunjukkan sentimen dan informasi baru yang belum terlihat dalam harga penutupan saham di Indonesia.
Investor juga harus memperhatikan bid-ask spread—selisih antara harga beli dan harga jual yang tersedia di market—menurut FINRA tentang exchange-traded funds.
Biaya transaksi dapat meningkat dengan spread yang lebih lebar, terutama saat likuiditas berkurang atau volatilitas meningkat.
Saham Apa yang Termasuk dalam ETF EIDO?
ETF EIDO memberikan eksposur terhadap sejumlah perusahaan besar di Indonesia yang bergerak di berbagai bidang, seperti pertambangan, telekomunikasi, perbankan, dan konsumsi.
Namun, komposisinya tidak terbagi secara merata.
Menurut factsheet MSCI Indonesia IMI 25/50 per 30 September 2026, berikut sepuluh saham yang memiliki bobot terbesar dalam indeks acuannya.
Saham | Perusahaan | Bobot |
|---|---|---|
BBCA | Bank Central Asia | 22,07% |
BBRI | Bank Rakyat Indonesia | 13,52% |
BMRI | Bank Mandiri | 10,42% |
ASII | Astra International | 4,10% |
TLKM | Telkom Indonesia | 3,89% |
BBNI | Bank Negara Indonesia | 3,76% |
BRMS | Bumi Resources Minerals | 2,66% |
INDF | Indofood Sukses Makmur | 2,38% |
BRPT | Barito Pacific | 2,36% |
MDKA | Merdeka Copper Gold | 2,13% |
Sumber: MSCI, 30 September 2026.
Berbeda dengan daftar kepemilikan ETF EIDO setiap hari, bobot tersebut merupakan komposisi indeks acuan. Jumlah sepuluh saham terbesar mencapai sekitar 67,29%.
Saham BBCA memiliki bobot terbesar dari daftar tersebut. Bersama BBRI, BMRI, dan BBNI, empat bank ini menyumbang sekitar 49,77% dari seluruh bobot indeks.
Artinya, perubahan signifikan dalam harga saham perbankan dapat berdampak besar pada pergerakan indeks acuan EIDO.
Mengapa Pergerakan EIDO Sering Dikaitkan dengan IHSG?
Investor Indonesia sering mengawasi EIDO karena diperdagangkan ketika Bursa Efek Indonesia tutup.
Misalnya, IHSG ditutup pada sore hari, kemudian kebijakan perdagangan AS atau perkembangan ekonomi global muncul pada malam harinya.
Investor di market saham AS masih memiliki kesempatan untuk memperdagangkan EIDO dan menyesuaikan persepsi mereka terhadap saham Indonesia.
Oleh karena itu, perubahan harga EIDO sering dianggap sebagai salah satu cara untuk menggambarkan sentimen investor global sebelum BEI kembali dibuka.
Selain itu, hubungan ini telah diteliti secara akademis.
Sebuah penelitian Atilgan dan rekan-rekan dalam Applied Economics (2022) menemukan bahwa, berdasarkan sampel 18 negara, return ETF negara berkembang yang diperdagangkan di AS memiliki kemampuan prediktif secara statistik terhadap return indeks acuannya pada hari perdagangan berikutnya.
Sementara itu, penelitian Filippou, Gozluklu, dan Rozental (2024) menunjukkan bahwa ketidakseimbangan order pada ETF negara dapat membantu menjelaskan perubahan indeks MSCI terkait dan transmisi pergerakan market global.
Namun, temuan penelitian tidak menunjukkan bahwa EIDO selalu mengikuti IHSG.
Ada sejumlah alasan:
Cakupan saham IHSG berbeda dari indeks MSCI Indonesia.
Pergerakan saham domestik juga dipengaruhi berita perusahaan, investor lokal, dan kebijakan dalam negeri.
Kurs, spread, dan premium atau diskon terhadap NAV dapat memengaruhi harga EIDO.
Hubungan statistik yang ditemukan dalam penelitian tidak menjamin hasil yang sama pada setiap sesi perdagangan.
Akibatnya, EIDO lebih tepat digunakan sebagai salah satu indikator sentimen daripada sebagai dasar tunggal keputusan trading IHSG.
Bagaimana Konsultasi MSCI Berdampak pada ETF EIDO?
MSCI mengumumkan konsultasi pada 15 Oktober 2026 tentang usulan untuk mengubah klasifikasi market Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Perubahan ini menjadi perhatian karena klasifikasi MSCI digunakan untuk menyusun portofolio oleh berbagai produk investasi di seluruh dunia.
Sebagaimana diumumkan secara resmi oleh MSCI, berikut jadwal pentingnya.
Tanggal | Perkembangan |
|---|---|
15 Oktober 2026 | Konsultasi reklasifikasi Indonesia diumumkan oleh MSCI |
30 April 2027 | Batas waktu penyampaian masukan |
30 Juni 2027 | Batas waktu pengumuman keputusan MSCI |
Alasan lengkap usulan ini dapat dibaca dalam pengumuman resmi MSCI.
Selama periode ini, MSCI juga mempertahankan pembekuan beberapa perubahan indeks saham Indonesia, seperti:
Tidak meningkatkan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS).
Tidak memasukkan saham baru ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index.
Tidak melakukan migrasi naik antarsegmen kapitalisasi saham.
Tetap menghapus saham yang ditandai otoritas dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC).
Apakah EIDO Akan Terdampak?
Dampak antara indeks MSCI dan ETF EIDO perlu dibedakan.
Produk investasi yang mengikuti indeks Emerging Markets dapat mengalami perubahan komposisi saham Indonesia jika perubahan klasifikasi disahkan.
Sementara itu, EIDO mengikuti indeks khusus Indonesia, yaitu MSCI Indonesia IMI 25/50.
Akibatnya, perubahan klasifikasi Indonesia tidak otomatis berarti EIDO akan ditutup, dihapus dari bursa, atau harus menjual semua asetnya.
iShares akan tetap membuat keputusan mengenai pengelolaan dan keberlanjutan ETF berdasarkan ketentuan dana dan perkembangan indeks acuannya.
Sampai 23 Oktober 2026, keputusan akhir MSCI masih belum diumumkan. Pengumuman konsultasi MSCI juga tidak menyatakan penutupan EIDO.
Investor sebaiknya mengikuti pengumuman resmi dari MSCI dan iShares daripada membuat keputusan berdasarkan situasi yang masih dibahas.
Risiko Investasi dalam ETF EIDO
Walaupun ETF ini memiliki berbagai saham, investasi di dalamnya tetap memiliki risiko.
Karena fokusnya pada satu negara, EIDO memiliki risiko konsentrasi yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.
1. Konsentrasi pada Indonesia dan Sektor Perbankan
EIDO memberikan eksposur terhadap satu negara dengan bobot yang signifikan pada sektor keuangan.
Kinerja EIDO dapat sangat terpengaruh jika sektor perbankan Indonesia mengalami tekanan.
Selain itu, nilai investasi dapat dipengaruhi oleh perubahan ekonomi, regulasi, politik, dan hubungan perdagangan Indonesia dengan negara lain.
Prospektus EIDO juga mengklasifikasikan dana ini sebagai non-diversified, sehingga konsentrasi pada beberapa penerbit dapat memperbesar dampak perubahan harga saham tertentu.
2. Risiko Nilai Tukar Rupiah dan Dolar AS
Investor Indonesia harus memahami dampak perubahan kurs karena EIDO diperdagangkan dalam dolar AS.
Namun, pengaruhnya tidak sesederhana dolar menguat berarti investasi EIDO otomatis menghasilkan keuntungan dalam rupiah.
Misalkan nilai investasi dalam aset saham Indonesia adalah Rp18.000.000.
Ilustrasi perubahan kurs tanpa perubahan harga saham
Keterangan | Nilai |
|---|---|
Kurs awal | Rp18.000/USD |
Nilai aset dalam USD | US$1.000 |
Kurs setelah rupiah melemah | Rp19.000/USD |
Nilai aset dalam USD | sekitar US$947,37 |
Dengan asumsi harga saham tidak berubah dan tanpa biaya atau penyimpangan harga, nilai aset dalam rupiah pada kedua kondisi tetap sekitar Rp18.000.000.
Dalam ilustrasi ini, pelemahan rupiah mengakibatkan penurunan nilai aset dalam dolar. Namun, nilainya tetap sama ketika dikonversi kembali ke rupiah.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa aset utamanya adalah saham Indonesia yang bernilai dalam rupiah.
Dalam praktiknya, investor tetap harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
Biaya untuk mengubah rupiah ke dolar dan sebaliknya.
Perubahan nilai saldo dolar yang belum diinvestasikan.
Perbedaan waktu perdagangan antara Bursa Efek Indonesia dan bursa AS.
Diskon atau premium harga EIDO terhadap NAV.
Perubahan harga saham dan biaya transaksi.
Investor dapat menggunakan data JISDOR Bank Indonesia sebagai referensi untuk memantau perkembangan kurs.
Baca juga: Risiko Investasi: Jenis, Cara Mengukur, dan Strategi Mengelolanya
Apakah ETF EIDO Membagikan Dividen?
Pemegang unit ETF EIDO dapat menerima distribusi dari pendapatan dana, termasuk dividen saham dalam portofolionya.
Distribusi yang tercantum adalah semi-annual, atau dua kali setahun, menurut factsheet resmi iShares EIDO.
Namun, jumlah distribusi tidak tetap dan tidak dapat dipastikan. Nilainya bergantung pada pendapatan dana, biaya, dan kebijakan distribusi yang berlaku.
Investor juga harus mempertimbangkan ketentuan perpajakan yang relevan dan kemungkinan pemotongan pajak.
Cara Membeli ETF EIDO dari Indonesia
Platform yang menyediakan perdagangan ETF di bursa AS, seperti Gotrade Indonesia, memungkinkan investor Indonesia untuk mengakses ETF EIDO.
Melalui mekanisme yang berlaku pada layanannya, Gotrade menyediakan akses ke ETF EIDO, termasuk pembelian pecahan unit mulai US$1 untuk instrumen yang memenuhi syarat.
Baca panduan cara membeli ETF EIDO dari Indonesia untuk informasi tentang persyaratan, biaya, dan proses transaksi.
Kesimpulan
ETF EIDO adalah produk investasi yang mengikuti indeks MSCI Indonesia IMI 25/50 dan memberikan eksposur terhadap saham Indonesia melalui bursa Amerika Serikat.
Meskipun terdiri dari berbagai perusahaan, komposisinya cukup terkonsentrasi pada sektor perbankan. Oleh karena itu, pergerakan EIDO dan IHSG tidak selalu sama.
EIDO juga dapat digunakan sebagai salah satu referensi untuk memahami sentimen investor global terhadap saham Indonesia, tetapi tidak dapat digunakan sebagai indikator pasti arah market.
Sebelum mempertimbangkan investasi, sangat penting untuk memahami komposisi saham, biaya pengelolaan, risiko kurs, dan perubahan aturan MSCI yang dapat memengaruhi indeks acuannya.
Kunjungi Gotrade untuk mempelajari instrumen saham dan ETF yang tersedia.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












