Gotrade News - Ekonomi China menunjukkan ketangguhan luar biasa di tengah gejolak geopolitik akibat perang Iran yang masih berlangsung. Jajak pendapat Reuters terhadap 50 ekonom memperkirakan pertumbuhan PDB China di kuartal pertama 2026 mencapai 4,8% secara tahunan, naik dari 4,5% di kuartal sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh cadangan energi strategis China dan bauran energi yang terdiversifikasi, sehingga negara ini lebih tahan terhadap guncangan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz. Berbeda dari negara importir minyak lainnya, Beijing juga menerapkan kontrol harga yang membantu meredam inflasi domestik.
Key Takeaways:
- PDB China Q1 2026 diprediksi tumbuh 4,8% YoY, tertinggi sejak Q3 2025, ditopang cadangan energi 1,2 miliar barel
- Indeks Shanghai Composite melonjak 2,7% pada 8 April 2026 setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran
- MS Capital, hedge fund global, dilaporkan mendapat mandat senilai $1 miliar khusus untuk investasi di aset China
Pasar Saham China Hapus Kerugian Pasca-Perang
Indeks CSI 300 tercatat di level 4.678 poin pada pekan ini, posisi tertingginya sejak Maret 2026. Dalam 12 bulan terakhir, indeks acuan saham China ini sudah menguat 24,39%, jauh melampaui banyak bursa global.
Katalis terbesarnya adalah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran pada 8 April 2026. SSE Composite melonjak 2,7% ke level 3.995 poin dalam satu sesi, didorong optimisme bahwa harga minyak global bisa kembali turun mendekati $100 per barel.
Dilansir CNBC, China telah membangun ketahanan energi selama bertahun-tahun sehingga aset China menjadi safe haven relatif di tengah konflik. Imbal hasil obligasi pemerintah China 10 tahun tetap stabil di 1,81%, sementara yield US Treasury melonjak hampir 50 basis poin ke 4,297%.
Hedge Fund Global Ramai Masuk ke China
Menurut Bloomberg, MS Capital mengumumkan mandatnya senilai $1 miliar yang ditujukan khusus untuk investasi di pasar China. Ini mencerminkan pergeseran nyata dari investor institusional yang mulai mengalihkan alokasi dari pasar AS ke aset China di tengah ketidakpastian global.
Daya tarik China di mata investor asing semakin kuat karena valuasi sahamnya yang masih murah dibandingkan pasar negara maju. Saham seperti Alibaba (BABA) menjadi salah satu instrumen yang paling diperhatikan oleh investor global yang ingin mengambil eksposur ke pemulihan ekonomi China.
Namun ada risiko yang perlu diwaspadai. Ekspor China hanya tumbuh 2,5% YoY di bulan Maret 2026, anjlok tajam dari pertumbuhan 21,8% di Januari-Februari, menunjukkan dampak perang Iran mulai menekan permintaan global.
Beijing merespons dengan kebijakan fiskal agresif: defisit anggaran 4% dari PDB dialokasikan untuk 2026, disertai penerbitan obligasi dalam jumlah besar. Bank sentral China (PBOC) juga mempertahankan kebijakan moneter akomodatif meski ruang pemangkasan suku bunga kini terbatas akibat tekanan inflasi dari harga energi.
Proyeksi penuh tahun 2026 tetap lebih rendah dari tahun lalu: pertumbuhan PDB diperkirakan di angka 4,6%, turun dari 5,0% di 2025. Morgan Stanley memperingatkan bahwa "harga minyak yang lebih tinggi akan memukul ekonomi China melalui guncangan nilai tukar perdagangan dan penyempitan margin di sektor hilir."
Meski begitu, konsensus ekonom masih memandang China sebagai salah satu ekonomi besar yang paling tangguh di tengah turbulensi global saat ini. Ketahanan itu yang membuat arus modal asing terus deras mengalir ke aset-aset China di April 2026.
Sumber:












