Gotrade News - Harga minyak Brent melonjak 3,4 persen ke USD 107,77 per barel pada perdagangan Selasa. WTI ikut menguat 4,2 persen ke USD 102,18 per barel di tengah kebuntuan diplomasi AS-Iran.
Eskalasi konflik mendorong harga emas tergelincir 1 persen ke USD 4.685,99 per ons. India bergerak cepat menyiapkan langkah darurat untuk menjaga cadangan devisa di tengah lonjakan harga energi.
Key Takeaways:
- Brent naik 3,4 persen ke USD 107,77 dan WTI menguat 4,2 persen ke USD 102,18 per barel.
- Emas justru turun 1 persen ke USD 4.685,99 per ons akibat kekhawatiran suku bunga tinggi.
- India menggencet impor dan menaikkan harga BBM demi menjaga rupee yang ambruk ke 95,63 per dolar.
Harga Minyak dan Emas Bergerak Berlawanan
Melansir Liputan6, kenaikan minyak dipicu penolakan Presiden Trump terhadap proposal balasan Iran. Trump menyebut tawaran Teheran sebagai "garbage" dan menilai gencatan senjata berada di titik kritis.
Selat Hormuz masih efektif tertutup sehingga arus minyak mentah dunia terganggu serius. Harga WTI dan Brent kini sudah melonjak lebih dari 45 persen sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Investor yang ingin eksposur ke pergerakan harga minyak dapat melirik USO sebagai proksi crude oil. Sektor energi terintegrasi juga bisa diakses lewat raksasa minyak seperti XOM.
Sebaliknya, harga emas justru kehilangan tenaga setelah sempat menjadi safe haven utama. Dilansir Liputan6, kontrak emas Juni terkoreksi 0,7 persen ke USD 4.693,90 per ons.
Bart Melek dari TD Securities menilai lonjakan minyak memicu kekhawatiran stagflasi. Kondisi ini membuat bank sentral AS dan global berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski tertekan jangka pendek, strategis UBS Investment Bank Joni Teves tetap bullish terhadap emas. UBS memproyeksi emas akan kembali mencetak rekor tertinggi baru sepanjang tahun ini.
Bagi pemodal yang ingin mempertahankan eksposur ke emas via saham, GDX menjadi pilihan utama di GTI. ETF ini menampung emiten penambang emas global yang sensitif terhadap pergerakan harga logam mulia.
India Siapkan Cadangan Devisa Darurat
Tekanan harga energi langsung dirasakan India sebagai importir minyak terbesar ketiga dunia. Rupee India anjlok ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 95,6313 per dolar AS pada Selasa.
Mengutip Kumparan, pemerintah India menaikkan harga BBM dan membatasi impor barang nonesensial. Restriksi ini mencakup emas batangan hingga elektronik konsumen demi menekan keluarnya devisa.
Reserve Bank of India memangkas batas posisi terbuka harian perbankan menjadi USD 100 juta. RBI juga melakukan intervensi pasar untuk menahan pelemahan rupee yang sudah menjadi mata uang terburuk Asia 2026.
Cadangan devisa India tergerus ke USD 690,7 miliar per 1 Mei, atau setara 10-11 bulan impor. Angka tersebut menjadi level terendah dalam lebih dari sebulan terakhir.
Perdana Menteri Narendra Modi turun tangan dengan mengimbau warganya menghemat BBM dan menunda perjalanan luar negeri. Ekonom Garima Kapoor menilai imbauan Modi mencerminkan tekanan nyata terhadap cadangan devisa.
Ketegangan geopolitik ini turut mendorong investor global mencari aset defensif di pasar saham AS. Tekanan harga energi diperkirakan masih akan menjadi tema dominan hingga ada kejelasan diplomasi AS-Iran.
Sumber:
- Harga Minyak Hari Ini Meroket Lagi, Tengok Pemicunya (Liputan6)
- Harga Emas Amblas Hari Ini Usai Rencana Kesepakatan Damai AS-Iran Tak Jelas (Liputan6)
- India Siapkan Langkah Darurat Jaga Devisa di Tengah Perang Iran (Kumparan)












