Gotrade News - Konflik yang melibatkan Iran terus memberikan tekanan nyata pada rantai pasokan energi global. Tiga ekonomi besar, yaitu Jepang, Australia, dan Amerika Serikat, semuanya mencatat gangguan signifikan dalam sepekan terakhir.
Key Takeaways:
- Jepang mengambil 40% pasokan naphtha dari Timur Tengah sebelum konflik. Lebih dari selusin perusahaan besar seperti Panasonic dan Toto kini menghadapi gangguan pengiriman bahan baku.
- Biaya bahan bakar jet Virgin Australia lebih dari dua kali lipat sejak akhir Februari 2026. Maskapai memperkirakan kenaikan biaya bahan bakar sebesar A$30-40 juta di paruh kedua tahun fiskal 2026.
- Rata-rata harga bensin di AS telah mencapai $4,12 per galon. Gubernur Illinois mendorong penjualan E15 sepanjang tahun sebagai respons terhadap lonjakan harga.
Industri Manufaktur Jepang Tertekan Kelangkaan Naphtha
Naphtha adalah bahan baku petrokimia yang diperoleh dari proses penyulingan minyak mentah. Industri manufaktur Jepang sangat bergantung pada naphtha untuk memproduksi perekat, cat, dan thinner yang digunakan di sektor konstruksi serta elektronik.
Lebih dari selusin perusahaan besar Jepang telah melaporkan gangguan pengiriman bahan baku. Perusahaan seperti Toto, Asahi Kasei, Panasonic, Lixil, Kansai Paint, dan Cleanup semuanya terdampak sejak konflik meningkat tajam.
Toto menangguhkan penerimaan pesanan untuk unit kamar mandi modular yang memerlukan perekat berbasis naphtha. Penangguhan ini berimbas langsung pada proyek perumahan dan jadwal konstruksi di seluruh Jepang.
Data dari Asosiasi Kontraktor Pengecatan Jepang menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Hanya 2,7% perusahaan anggota yang masih bisa memperoleh thinner, turunan utama naphtha, dalam jumlah normal.
Distributor thinner telah memangkas pasokan bulan April hingga separuhnya. Pengiriman bulan Mei masih belum pasti, tanpa konfirmasi jadwal pengisian stok dari pemasok di Timur Tengah.
Sebelum aksi militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Jepang memenuhi 40% kebutuhan naphtha-nya dari Timur Tengah. Jalur pasokan itu kini berada di bawah tekanan berat.
Pemerintah Jepang mengklaim memiliki cadangan naphtha sekitar empat bulan ke depan. Pemerintah aktif mencari sumber pasokan alternatif di luar Timur Tengah untuk mengurangi dampak kekurangan ini.
Perdana Menteri Takaichi menjadikan pencegahan perlambatan ekonomi sebagai prioritas utama. Pejabat pemerintah mengungkapkan kekhawatiran akan kepanikan konsumen, serupa dengan krisis minyak Jepang pada 1970-an yang memicu penimbunan besar-besaran di seluruh negeri.
Maskapai Penerbangan dan Biaya Bahan Bakar Ikut Terdampak
Virgin Australia telah merevisi proyeksi biaya bahan bakarnya secara signifikan ke atas. Maskapai ini kini memperkirakan biaya bahan bakar jet akan naik A$30 hingga A$40 juta (sekitar US$21-28 juta) pada paruh kedua tahun fiskal 2026.
Harga bahan bakar jet telah melampaui dua kali lipat harga akhir Februari 2026. Lonjakan ini berkorelasi langsung dengan eskalasi konflik Timur Tengah dan gangguan pada rantai pasokan minyak mentah global.
Virgin Australia telah melakukan hedging atas 92% eksposur Brent crude dan 71% margin penyulingan untuk paruh kedua FY2026. Meski biaya bertambah, maskapai tetap mempertahankan panduan keuangan penuh untuk tahun 2026.
Emiten energi seperti ExxonMobil (XOM), Chevron (CVX), dan ConocoPhillips (COP) berada di posisi berbeda. Kenaikan harga minyak mentah secara historis memperlebar margin upstream bagi produsen minyak terintegrasi, meski menekan konsumen hilir.
WTI crude saat ini diperdagangkan di $91,68 per barel. Kedua benchmark utama minyak mentah ini tetap jauh di atas level sebelum konflik, menandakan pasar belum memperkirakan penyelesaian cepat.
Sources:
- Investing.com, Japan naphtha-dependent firms flag supply issues, 2026
- Investing.com, Virgin Australia flags higher fuel costs, 2026
- Benzinga, JB Pritzker Wants E15 Gas To Bring Down Fuel Prices, 2026












