Gotrade News - Arab Saudi menghadapi tekanan dari perang yang mengganggu jalur energi global penting. Pengiriman minyak ke China dan India diperkirakan turun bulan depan akibat gangguan di Selat Hormuz. Aramco terpaksa mengalihkan sebagian aliran melalui jalur pipa Laut Merah sebagai solusi sementara.
Key Takeaways:
- Pengiriman minyak ke Asia semakin ketat.
- Biaya impor meningkat bagi negara Asia.
- Pemodal khawatir risiko pasar diremehkan.
Akibatnya, pasokan untuk Asia menjadi lebih ketat dan biaya meningkat bagi importir. Kelemahan ini menciptakan kekhawatiran bahwa pasar global mungkin meremehkan dampak konflik terhadap ekonomi riil. Rob Kapito dari BlackRock memperingatkan bahwa investor mungkin salah harga risiko dari perang Iran.
Dia berpendapat bahwa dampak terhadap pertumbuhan dan inflasi bisa bertahan meskipun perang berakhir besok. Dengan rantai pasok yang mengalami kekacauan, harga minyak dapat melonjak hingga $150 per barel. Jim Zelter dari Apollo juga menyoroti peningkatan risiko resesi AS dan tekanan pada siklus kredit akibat konflik berkepanjangan ini.
Dengan demikian, pasar bisa saja bersiap untuk akhir cepat, meskipun kejutan baru saja mulai terasa. Maka, penting bagi para investor untuk memperhatikan dinamika ini dan menggali lebih dalam risiko yang mungkin timbul dalam jangka panjang.
Referensi:
- Bloomberg, World's Top Oil Exporter to Reduce Asia Sales as War Bites. Diakses 26 Maret 2026
- Bloomberg, War Disruptions Squeeze Saudi Oil Flows to China, India. Diakses 26 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












