Bea Cukai AS (CBP) mengembangkan sistem CAPE untuk menyederhanakan proses refund yang melibatkan jutaan entri pengiriman. Sistem ini mengkonsolidasi seluruh pengembalian dana menjadi satu pembayaran elektronik per importir, termasuk bunga jika berlaku.
Fase pertama CAPE mencakup entri yang belum diliquidasi dan yang masih dalam 80 hari menjelang likuidasi. Masih terdapat sekitar US$2,9 miliar dalam tarif yang memerlukan pemrosesan manual oleh CBP.
Proses refund ini relevan bagi investor yang memantau SPY (SPDR S&P 500 ETF) karena kebijakan tarif langsung mempengaruhi sentimen pasar saham AS secara keseluruhan.
Banyak importir skala kecil khawatir biaya pemrosesan refund melebihi manfaat yang mereka terima. Beberapa di antaranya mulai menjajaki opsi pembiayaan alternatif sambil menunggu proses selesai.
Mahkamah Perdagangan Internasional AS memerintahkan CBP untuk menyampaikan laporan kemajuan kepada hakim pada 28 April 2026. Kepatuhan pemerintah terhadap jadwal ini akan menjadi sinyal penting bagi pasar perdagangan global.
Kebijakan ini juga berdampak langsung pada perusahaan seperti AMZN (Amazon) yang memiliki rantai pasokan impor besar dan bergantung pada stabilitas kebijakan perdagangan AS.
Pengembalian tarif dalam skala besar ini berpotensi meningkatkan arus kas korporasi AS secara signifikan. Analis memperkirakan dampak positif ini dapat mendorong pengeluaran modal dan investasi pada paruh kedua 2026.
Para importir yang telah mendaftar diharapkan menerima pembayaran dalam 60-90 hari ke depan. Pemerintah menegaskan bahwa bunga akan dimasukkan dalam pembayaran refund untuk mengkompensasi keterlambatan.
Putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kewenangan tarif IEEPA ini menjadi preseden hukum yang penting. Keputusan tersebut membatasi kekuasaan eksekutif dalam menetapkan tarif unilateral tanpa persetujuan Kongres.
Program ini merupakan salah satu pengembalian dana tarif terbesar dalam sejarah kebijakan perdagangan AS modern. Keberhasilan pelaksanaannya akan menentukan kepercayaan sektor bisnis terhadap stabilitas regulasi perdagangan ke depan.
Sumber: PYMNTS | Reuters via Investing.com












