Jakarta, Gotrade News - Setelah mencatat kenaikan double-digit selama tiga tahun berturut-turut, pasar saham Amerika Serikat menghadapi ekspektasi yang lebih menantang di tahun 2026. Indeks S&P 500 telah melesat lebih dari 90 persen sejak pasar bullish dimulai pada Oktober 2022.
Meski tren kenaikan diprediksi berlanjut, investor kini perlu mewaspadai potensi volatilitas yang lebih tinggi akibat valuasi yang sudah mahal.
Key Takeaways
- Target harga S&P 500 akhir 2026 diproyeksikan mencapai level 7.269 atau naik sekitar 6 persen.
- Belanja modal infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi raksasa diperkirakan menembus 500 miliar dolar AS.
- Pertumbuhan laba diprediksi meluas ke luar sektor teknologi seiring pemulihan ekonomi yang lebih merata.
Baca Juga: Neuralink Masuk Fase Produksi Massal, Operasi Otak Kini Full Otomatis
Menurut analisis LPL Financial, target harga rata-rata S&P 500 pada akhir 2026 berada di level 7.269. Angka ini mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 6 persen dari posisi akhir tahun 2025.
Vanguard dalam pandangan tahunannya menyebut bahwa imbal hasil solid masih akan berlanjut didorong oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa risiko sedang meningkat terutama di sektor teknologi yang valuasinya sudah sangat tinggi.
Perdebatan mengenai apakah kecerdasan buatan atau AI sudah membentuk gelembung aset menjadi topik hangat di kalangan strategis pasar.
Bank of America mencatat bahwa performa saham teknologi yang baru melantai di bursa tahun ini menyerupai era Dotcom Bubble tahun 1990-an. Indikator pembelian saat harga turun atau buy on the dip juga menunjukkan tingkat FOMO yang tinggi di kalangan investor ritel.
Meski begitu, fundamental perusahaan teknologi saat ini dinilai jauh lebih kuat dibandingkan era gelembung internet masa lalu.
Kelompok hyperscalers seperti Microsoft Corporation, Alphabet Inc., dan Amazon.com, Inc. diprediksi akan mengeluarkan belanja modal gabungan lebih dari 500 miliar dolar AS. Angka fantastis yang juga melibatkan Meta Platforms, Inc. dan Oracle Corporation ini mayoritas dialokasikan untuk infrastruktur AI.
Peter Berezin dari BCA Research mengingatkan bahwa pendapatan inkremental yang besar diperlukan untuk membenarkan pengeluaran modal sebesar itu. Jika pendapatan tidak mengejar, angka belanja modal tersebut kemungkinan besar tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Peluang di Luar Teknologi
Kabar baiknya adalah pertumbuhan laba korporasi diprediksi akan semakin meluas dan tidak hanya bergantung pada segelintir perusahaan teknologi besar.
Data FactSet Research menunjukkan estimasi pertumbuhan laba S&P 500 sebesar 15 persen pada tahun depan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan sepuluh tahun terakhir yang hanya berada di kisaran 8,6 persen.
Kesenjangan pertumbuhan antara Big Tech dan sektor lainnya diperkirakan akan menyempit seiring berjalannya tahun.
Hal ini bisa menjadi sinyal bagi investor untuk mulai melirik peluang investasi di sektor lain yang valuasinya lebih masuk akal. Ekspektasi tinggi yang sudah terlanjur dipatok pasar bisa menjadi pedang bermata dua bagi saham favorit seperti NVIDIA Corporation dan Broadcom Inc..
Dari sisi makroekonomi, kombinasi kebijakan pajak baru OBBBA dan pemangkasan suku bunga The Fed diharapkan menjadi bantalan bagi ekonomi AS.
Namun, kenaikan tingkat pengangguran yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir menjadi risiko utama yang perlu dipantau ketat. Jika The Fed berhasil menurunkan bunga tanpa memicu resesi, sejarah mencatat pasar saham biasanya memberikan imbal hasil positif.
Baca Juga: Dolar AS Diprediksi Melemah di 2026, Ini Dampak ke Aset Lain
Referensi:
- Investopedia, Wall Street Expects a Solid 2026 for Stocks. But the 'Risks Are Growing'. Diakses pada 2 Januari 2026
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.












