Gotrade News - Rupiah Indonesia tercatat sebagai mata uang kelima terlemah di dunia versi Forbes Advisor pada April 2026. Posisi ini berada di belakang rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.
Meski demikian, rupiah ditutup menguat tipis 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS pada perdagangan Senin (20/04). Hanya tiga mata uang Asia yang mencatatkan penguatan sore ini: dolar Taiwan, peso Filipina, dan rupiah, menurut Bloomberg Technoz.
Key Takeaways:
- Rupiah di posisi 5 mata uang terlemah dunia versi Forbes, meski menguat tipis 0,12% ke Rp17.168
- Sentimen fiskal dan kekhawatiran kebijakan pemerintah menjadi tekanan utama menurut Fitch Solutions
- Ekonom CORE Indonesia menilai pelemahan nominal tidak mencerminkan fundamental ekonomi secara keseluruhan
Fitch Solutions mengidentifikasi kekhawatiran kebijakan pemerintah sebagai faktor tekanan signifikan terhadap rupiah. Isu disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi menjadi sorotan utama investor asing, menurut Kompas.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai label mata uang terlemah tidak mencerminkan kelemahan ekonomi fundamental. Arah pergerakan, stabilitas, dan daya beli menjadi indikator yang lebih relevan, menurut Katadata.
Aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap menunjukkan minat yang kuat. Pada lelang 17 April, total penawaran mencapai Rp50 triliun meskipun Bank Indonesia hanya menyerap Rp19 triliun.
Bank Indonesia telah meningkatkan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali seminggu sejak Februari 2026. Langkah ini bertujuan menarik modal asing dan menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Beberapa faktor struktural turut membebani performa rupiah secara keseluruhan. Ketergantungan pada impor, tekanan arus modal keluar, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang membesar menjadi tantangan utama.
Cadangan emas Indonesia tercatat sekitar 85 ton, jauh di bawah China yang memiliki 2.303,5 ton pada Q1 2026. Manilet menilai peningkatan cadangan emas merupakan strategi diversifikasi jangka panjang, bukan solusi penguatan rupiah segera.
Penguatan rupiah hari ini terjadi di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran yang masih membayangi pasar regional. Investor tetap mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter dalam beberapa pekan ke depan.












