Gotrade News - Nilai tukar rupiah kembali melemah di awal perdagangan hari ini. Setelah sempat menguat 0,54%, rupiah kini terdepresiasi 0,53% ke Rp17.071 per dolar AS.
Key Takeaways:
- Gencatan senjata AS-Iran menambah ketidakpastian geopolitik.
- Penguatan dolar AS menekan nilai tukar rupiah.
- Posisi cadangan devisa Indonesia mencapai titik terendah sejak Juli 2025.
Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas menyebut Bank Indonesia aktif mengintervensi pasar. Upaya ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meski menekan cadangan devisa.
Di sisi lain, gencatan senjata antara AS dan Iran meningkatkan ketidakpastian pasar. Pelaku pasar meragukan keberlanjutan kesepakatan tersebut karena tuduhan Iran terhadap AS dan konflik Lebanon.
Tekanan eksternal juga datang dari penguatan dolar AS. Menurut analisis Doo Financial Futures, rebound dolar AS menyebabkan rupiah bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah.
Ketidakpastian politik dan ekonomi global mempengaruhi daya tarik investasi di Indonesia. Investor tengah mencermati fluktuasi harga minyak dunia dan implikasinya terhadap risiko fiskal dalam negeri.
Intervensi BI melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi langkah strategis. Imbal hasil SRBI yang tinggi tetap menarik minat investor, terutama untuk tenor jangka pendek.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan pentingnya efisiensi dalam pengelolaan anggaran negara. Pemerintah harus mengantisipasi perubahan global untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Dengan semua tekanan ini, nilai tukar rupiah kemungkinan tetap berfluktuasi. Keberhasilan menjaga keseimbangan fiskal menjadi tantangan bagi Indonesia di tengah dinamika pasar global.
Referensi:
- Liputan6, Rupiah Melemah ke Rp 17.030, Konflik Israel-Lebanon Masih Jadi Penekan. Diakses 9 April 2026
- MetroTV, Rupiah Dibuka ke Rp17.030/USD Kamis Pagi. Diakses 9 April 2026
- RRI, Rupiah Kembali Terhempas oleh Dolar AS, Melemah ke Rp17.071. Diakses 9 April 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












