Rupiah Tembus Rp 17.600, USD dan Minyak Tekan Pasar

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Rupiah Tembus Rp 17.600, USD dan Minyak Tekan Pasar

Share this article

Gotrade News - Rupiah melemah tembus Rp 17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026. Kurs sempat menyentuh Rp 17.612 sebelum bergerak di kisaran Rp 17.603 hingga Rp 17.579 pada sesi awal.

Pelemahan dipicu penguatan dolar AS global, lonjakan harga minyak, dan sentimen risk off dari ketegangan Timur Tengah. Tekanan ini berpotensi mendorong arus modal asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia.

Key Takeaways

  • Rupiah dibuka di Rp 17.540 dan tembus Rp 17.603 pada 09:03 WIB sebelum menyentuh Rp 17.612.
  • Penguatan dolar AS, harga Brent yang naik, dan tensi Selat Hormuz menjadi pemicu utama pelemahan.
  • Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pemicu Pelemahan Rupiah

Menurut Kompas, rupiah melemah ke Rp 17.603,20 per dolar AS pada pukul 09:03 WIB. Kurs sebelumnya ditutup di Rp 17.529 dan dibuka pada kisaran Rp 17.540 sampai Rp 17.550.

Penguatan dolar AS global menjadi pendorong utama bersama kenaikan harga minyak dunia. Indeks dolar yang tercermin pada Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP) menguat seiring arus modal mencari aset aman.

Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, mengatakan bahwa mata uang regional juga terpantau melemah cukup besar terhadap dolar AS. Ia menambahkan harga minyak mentah dunia yang kembali naik menjadi tekanan tambahan bagi rupiah.

Dilansir Kumparan, data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di Rp 17.606 per dolar AS pada 09:35 WIB. Mata uang Garuda melemah 77 poin atau setara 0,44 persen pada perdagangan pagi tersebut.

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menilai pelemahan dipicu aksi jual saham asing menjelang rebalancing MSCI. Ia juga menyebut tensi AS-Iran di Selat Hormuz dan antisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus sebagai katalis.

Risiko Pasar yang Membayangi

Lonjakan harga minyak global menjadi faktor yang memperburuk tekanan terhadap rupiah dan importir energi. Investor yang ingin memantau eksposur dapat melihat United States Oil Fund (USO) sebagai proksi pergerakan minyak WTI.

Melansir Liputan6, sekitar 20 persen transportasi minyak global terganggu akibat ketegangan di Selat Hormuz. Gangguan tersebut turut mendorong indeks dolar AS menguat ke level yang lebih tinggi.

Sutopo Widodo dari HFX International Berjangka memperkirakan rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp 17.550. Ia menilai bias bearish akan berlanjut karena tekanan eksternal dan transisi kebijakan Federal Reserve.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyebut rupiah bisa menguji Rp 17.800 jika Brent bertahan di atas 110 dolar AS per barel. Skenario itu juga mensyaratkan arus modal asing yang belum pulih ke pasar domestik.

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, mengatakan konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Kondisi ini mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global yang menekan rupiah.

Bank Indonesia menyatakan telah melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF untuk menjaga stabilitas. Pelemahan rupiah dapat memperberat tekanan pada eksposur saham Indonesia yang tercermin pada iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO).

Sumber

Disclaimer: Gotrade Indonesia adalah aplikasi investasi yang terdaftar resmi di OJK dan didukung oleh PT Valbury Asia Futures.

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade