Rupiah Melemah Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

Rupiah Melemah Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Gotrade News - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026), tertekan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang bergerak mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut ANTARA News, rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen ke Rp17.783 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.758 per dolar AS.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan klasik pada pasar negara berkembang: ketika imbal hasil obligasi AS naik, aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik dan modal cenderung mengalir keluar dari mata uang seperti rupiah. Sentimen yang sama membayangi pasar saham AS, tujuan banyak investor ritel Indonesia yang berinvestasi lewat platform seperti Gotrade.

Imbal Hasil Obligasi AS Dekati Level Tertinggi Sejak 2024

Dilansir ANTARA News, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bertahan di kisaran 5,0 persen, sementara tenor 2 tahun naik ke 4,756 persen, level tertinggi sejak 2024. Kenaikan yield ini dipicu prospek pengetatan kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve.

Baca juga: Menkeu Suahasil Lantik 14 Pejabat Kemenkeu & Bantah Perombakan Era Purbaya

The Fed pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan (fed funds rate) ke rentang 3,75 persen hingga 4,0 persen, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Menurut tvOnenews, The Fed memproyeksikan suku bunga acuan berada di kisaran 4,0 persen hingga 4,25 persen pada akhir tahun, dengan rapat lanjutan dijadwalkan akhir Oktober dan awal Desember 2026.

IndikatorLevel Terkini
Rupiah per dolar ASRp17.783 (turun 0,14%)
Yield obligasi AS 10 tahun5,0%
Yield obligasi AS 2 tahun4,756% (tertinggi sejak 2024)
Fed funds rate3,75% hingga 4,0%
BI-Rate (Agustus 2026)5,75%

Kenaikan Yield Menekan Valuasi Saham Teknologi AS

Bagi pasar saham AS, lonjakan imbal hasil obligasi menjadi tantangan tersendiri. Yield yang lebih tinggi menaikkan tingkat diskonto yang dipakai untuk menilai arus kas masa depan, sehingga menekan valuasi saham pertumbuhan bermultiplikasi tinggi, terutama sektor teknologi yang mendominasi indeks Nasdaq. Saham seperti Nvidia (NVDA) dan Apple (AAPL) termasuk yang paling sensitif terhadap pergerakan yield karena valuasinya bertumpu pada ekspektasi pertumbuhan jangka panjang.

Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat menguntungkan sektor perbankan. Emiten seperti JPMorgan (JPM) berpotensi menikmati margin bunga bersih yang lebih lebar saat suku bunga acuan naik, sehingga dampak kenaikan yield tidak seragam di seluruh sektor saham AS.

Baca juga: Outlook Pasar Pekan Ini: The Fed Naik, Yield Tembus 5%

Tekanan dari kenaikan yield juga terasa di aset lain. Harga emas, yang biasanya menjadi aset lindung nilai, justru tertekan setelah The Fed menaikkan suku bunga, karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan bunga. Kondisi ini sejalan dengan tema pasar saat yield obligasi AS 10 tahun menembus 5 persen pascakeputusan The Fed.

Bank Indonesia Diperkirakan Tahan Suku Bunga 22-23 September

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah muncul menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026. Menurut ANTARA News, Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai "rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed". Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Fundamental domestik masih memberi bantalan. Melansir kumparan, BI-Rate berada di level 5,75 persen pada Agustus 2026 dengan inflasi tahunan terjaga di 3,19 persen, sementara cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar. Kombinasi ini memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah meski tekanan eksternal dari kebijakan The Fed masih kuat.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku