Rupiah Tembus Rp17.706, Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Rupiah Tembus Rp17.706, Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Share this article

Gotrade News - Rupiah ditutup di level Rp17.706 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, mendekati ambang psikologis Rp18.000. Mata uang Garuda sempat menyentuh titik terlemah sepanjang masa di Rp17.733 per dolar AS pada pukul 13.54 WIB.

Tekanan datang dari arus keluar hot money, faktor musiman transfer dividen dan haji, serta ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Pelemahan ini turut memicu IHSG anjlok 3,46% ke level 6.370 pada sesi yang sama.

Key Takeaways

  • Rupiah ditutup Rp17.706 per dolar AS, sempat sentuh rekor terlemah Rp17.733 intraday.
  • IHSG anjlok 3,46% ke 6.370 di tengah arus keluar hot money dan tekanan musiman.
  • Pelemahan rupiah mendorong minat investor ke aset safe-haven seperti emas dan US Treasuries.

Menurut Tirto.id, pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang Asia. Penutupan di Rp17.706 menjadi level terendah dalam sejarah penutupan harian rupiah terhadap greenback.

Dilansir Bloomberg Technoz, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menegaskan BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan BI rate dinilai akan membebani sektor riil melalui biaya valas dan ekspansi bisnis yang lebih mahal.

Tekanan Eksternal Dan Aliran Modal Keluar

Cadangan devisa Bank Indonesia tercatat US$146,1 miliar pada April 2026, memberikan ruang intervensi yang memadai. Otoritas moneter juga meminta eksportir tidak menahan konversi valas ke rupiah untuk meredam tekanan jangka pendek.

Aliran keluar hot money di pasar keuangan domestik menjadi pendorong utama pelemahan rupiah pekan ini. Faktor musiman seperti transfer dividen dan kebutuhan valas untuk ibadah haji menambah permintaan dolar AS di pasar spot.

Melansir KabarBursa, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai akar masalah berada pada komunikasi fiskal tim ekonomi Istana. Pasar global dinilai jengah dengan gaya komunikasi kebijakan fiskal yang dianggap kurang meyakinkan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan solidaritas Dewan Gubernur termasuk Thomas Djiwandono dalam menjaga stabilitas moneter. Pernyataan tersebut menjadi sinyal koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal di tengah tekanan rupiah.

Implikasi Ke Pasar AS Dan Aset Safe-Haven

Pelemahan mata uang emerging markets termasuk rupiah biasanya mendorong arus modal ke aset safe-haven berbasis dolar. Investor cenderung mengalihkan eksposur ke instrumen seperti Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP) saat dolar AS menguat.

Permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai juga meningkat ketika volatilitas mata uang regional naik. Instrumen seperti SPDR Gold Shares (GLD) menjadi salah satu pilihan investor untuk meredam risiko nilai tukar.

Sebaliknya, eksposur Indonesia melalui iShares MSCI Indonesia (EIDO) berpotensi tertekan seiring pelemahan rupiah dan koreksi IHSG. Investor global biasanya menilai ulang valuasi aset emerging markets ketika mata uang lokal melemah signifikan.

Indeks dolar AS yang menguat juga memberi tekanan pada ekuitas multinasional dengan eksposur pasar berkembang. Pergerakan rupiah ke arah Rp18.000 akan menjadi katalis penting bagi sentimen risiko global pekan ini.

Sumber


Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade