Gotrade News - Tiga utilitas AS yaitu WEC Energy Group, Public Service Enterprise Group, dan Entergy membukukan laba Q1 2026 di atas estimasi analis. Ketiganya mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit dengan dorongan permintaan listrik dari pusat data.
Hasil ini memperkuat tesis bahwa sektor utilitas kembali menjadi sektor pertumbuhan, bukan hanya pendapatan dividen. Investor mulai menargetkan ulang valuasi sektor seiring lonjakan capex multitahun untuk infrastruktur listrik AI.
Key Takeaways
- WEC, PEG, dan Entergy semua melewati estimasi laba Q1 2026 dengan margin signifikan dan pendapatan tumbuh 9 sampai 19,5 persen YoY.
- Permintaan listrik komersial dan industri, khususnya dari pusat data, menjadi pendorong utama revisi naik panduan laba multi tahun.
- Investor ritel dapat memperoleh eksposur sektor melalui saham utilitas besar seperti AEP, DUK, dan NEE atau ETF XLU di platform Gotrade.
Pendorong Kenaikan Laba Q1
Menurut Insider Monkey, WEC Energy Group mencatat EPS Q1 sebesar 2,45 dolar AS, di atas konsensus 2,30 dolar AS. Pendapatan tumbuh 9 persen YoY menjadi 3,43 miliar dolar AS, melampaui estimasi sekitar 17 juta dolar AS.
Volume pengiriman listrik ritel WEC naik 1,3 persen YoY, sementara penggunaan komersial dan industri besar melonjak 2,7 persen YoY. Manajemen menegaskan target pertumbuhan EPS tahunan 7 sampai 8 persen hingga 2030.
Dilansir Insider Monkey, Public Service Enterprise Group mencatat laba adj EPS 1,55 dolar AS, melampaui estimasi 1,43 dolar AS. Pendapatan melonjak 19,5 persen YoY menjadi 3,85 miliar dolar AS, di atas konsensus hampir 496 juta dolar AS.
Penjualan listrik PEG naik 4 persen YoY dan volume gas tumbuh 7 persen YoY. Perusahaan menyebut volume gas tertinggi sejak 2019 dipicu badai musim dingin terburuk dalam 30 tahun di wilayah operasinya.
Entergy juga melampaui estimasi Q1 pada akhir April. Melansir Insider Monkey, Citi menaikkan target harga Entergy menjadi 121 dolar AS dari 116 dolar AS dengan rekomendasi Neutral.
Outlook Sektor Utility
Manajemen Entergy memproyeksikan pertumbuhan penjualan ritel CAGR 8,5 persen hingga 2029 dengan pertumbuhan industri tahunan mencapai 16 persen. Eksposur pusat data di Louisiana menjadi pendorong utama revisi panduan jangka menengah.
Entergy juga menaikkan panduan 2027 sebesar 0,20 dolar AS dan panduan 2029 sebesar 0,50 dolar AS menjadi 6,40 dolar AS. Rencana capex empat tahun melonjak menjadi 57 miliar dolar AS dari sebelumnya 43 miliar dolar AS.
PEG mempertahankan panduan adj EPS 2026 di kisaran 4,28 sampai 4,40 dolar AS dengan pertumbuhan midpoint 7 persen. Rencana capex lima tahun PEG ditetapkan 22,5 sampai 25,5 miliar dolar AS untuk mendukung beban transmisi baru.
Bagi investor ritel di Indonesia, eksposur tren ini dapat diambil melalui utilitas besar AS lain yang lebih likuid. Saham American Electric Power (AEP) dan Duke Energy (DUK) memiliki jejak transmisi nasional yang melayani koridor pusat data utama.
Alternatif lain adalah NextEra Energy (NEE) yang memimpin kapasitas energi terbarukan AS dan kontrak pasokan listrik bersih untuk hyperscaler. Investor yang ingin diversifikasi sektor dapat melirik ETF utilitas berbasis indeks untuk eksposur yang lebih luas.
Risiko utama tetap pada eksekusi capex dan regulasi tarif di tiap negara bagian. Kenaikan suku bunga jangka panjang juga berpotensi menekan valuasi saham utilitas yang umumnya sensitif terhadap biaya pendanaan.












