Gotrade News - Presiden Donald Trump mempertegas ancamannya untuk memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell jika ia tetap menjabat melewati pertengahan Mei. Langkah ini mengguncang pasar keuangan dan menimbulkan kekhawatiran serius soal independensi bank sentral terbesar di dunia.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara Fox News pada Selasa (15/04). Ia menyebut Powell "melakukan pekerjaan yang buruk" dan menuduhnya "sangat tidak kompeten" karena tidak menurunkan suku bunga.
Poin Penting
- Ancaman Trump untuk memecat Powell sebelum masa jabatannya berakhir 15 Mei berpotensi memicu krisis konstitusional soal independensi The Fed, sementara Mahkamah Agung AS sedang menimbang kasus terkait.
- Kebuntuan diperumit oleh investigasi DOJ terhadap renovasi kantor pusat The Fed senilai $2,5 miliar dan penolakan Senat untuk mengonfirmasi nominasi Trump, Kevin Warsh.
- Pasar keuangan merespons dengan volatilitas meningkat pada S&P 500 ETF (SPY) dan QQQ pasca wawancara tersebut.
Eskalasi Konfrontasi
Pernyataan Trump tidak menyisakan ruang untuk interpretasi. "Maka saya harus memecatnya," kata presiden, menurut berbagai laporan. "Saya sudah menahan diri untuk tidak memecatnya. Saya ingin memecatnya, tapi saya tidak suka kontroversi."
Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei 2026. Namun, masa jabatannya sebagai Gubernur The Fed berlanjut hingga 2028, dan ia menyatakan "tidak berniat" meninggalkan Dewan Gubernur secara sukarela.
Konfrontasi ini menciptakan zona abu-abu hukum dengan implikasi pasar yang signifikan. Belum pernah ada presiden yang memecat Ketua The Fed, dan masih belum jelas apakah Trump memiliki kewenangan hukum untuk melakukannya tanpa bukti pelanggaran serius.
Undang-Undang Federal Reserve hanya mengizinkan pemberhentian anggota dewan "karena alasan tertentu." Para ahli hukum telah lama memperdebatkan apakah standar tersebut berlaku khusus untuk peran Ketua atau hanya untuk posisi gubernur secara umum.
Mahkamah Agung AS saat ini sedang mempertimbangkan kasus terkait upaya Trump sebelumnya untuk memecat anggota dewan The Fed, Lisa Cook. Putusan tersebut bisa menjadi preseden apakah presiden dapat memberhentikan pejabat bank sentral sesuka hati.
Keputusan yang menguntungkan Trump akan mengubah secara fundamental hubungan antara cabang eksekutif dan kebijakan moneter. Independensi bank sentral telah menjadi pilar stabilitas keuangan global sejak era stagflasi tahun 1970-an.
Apa yang Memperumit Transisi
Situasi semakin rumit dengan investigasi Departemen Kehakiman (DOJ) yang masih berjalan. Jaksa federal menyelidiki pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed yang melonjak hampir 80% dari anggaran awal menjadi $2,5 miliar, menurut FinancialContent.
Powell menyatakan ia tidak akan mundur sampai investigasi DOJ "benar-benar dan sepenuhnya selesai." Dua jaksa mengunjungi lokasi konstruksi The Fed pada Selasa, menandakan penyelidikan masih aktif.
Hakim Federal James Boasberg sebelumnya memutuskan ada "bukti melimpah" bahwa "tujuan utama" investigasi adalah "untuk melecehkan." Hakim menyimpulkan penyelidikan tampak sebagai "dalih semata" untuk mengintimidasi bank sentral.
Nominasi Trump untuk menggantikan Powell, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, juga menghadapi hambatan. Senator Republik Thom Tillis mengatakan ia tidak akan memilih untuk mengonfirmasi Warsh sampai penyelidikan DOJ selesai.
Sidang Komite Perbankan Senat untuk Warsh dijadwalkan pada 21 April. Pasar prediksi Polymarket menempatkan probabilitas konfirmasi Warsh sebelum 15 Mei hanya di angka 43%, menurut Binance Square.
Jika Warsh tidak dikonfirmasi pada 15 Mei, regulasi The Fed memungkinkan Powell tetap menjabat sebagai ketua "pro tempore." Powell mengonfirmasi pada Maret bahwa ia akan menggunakan opsi ini jika diperlukan.
Institusi keuangan besar menghadapi eksposur langsung terhadap ketidakpastian ini. Saham seperti JPMorgan Chase (JPM) dan Goldman Sachs (GS) diidentifikasi sebagai potensi korban jika kebuntuan meningkat, menurut analisis MarketMinute.
Kekhawatiran lebih luas melampaui saham individual. Pemecatan paksa Ketua The Fed bisa memicu "premi risiko" pada aset AS, yang berpotensi mendorong suku bunga jangka panjang lebih tinggi.
Status dolar AS sebagai mata uang safe-haven juga bisa tertekan. Pelaku pasar obligasi sudah memantau imbal hasil Treasury 10 tahun sebagai barometer kepercayaan institusional terhadap independensi The Fed.
Bank dengan operasi trading besar menghadapi kerentanan khusus terhadap ketidakpastian suku bunga. Bank of America (BAC) dan Wells Fargo (WFC) sama-sama memiliki portofolio obligasi signifikan yang sensitif terhadap perubahan kredibilitas kebijakan.
Menteri Keuangan Bessent mengakui ketidakpastian soal pemenuhan jadwal konfirmasi. Pengakuan tersebut menunjukkan bahkan pemerintahan sendiri menyadari rencana suksesi mungkin tidak berjalan mulus.
Bankir sentral global mengamati kebuntuan ini sebagai uji kasus independensi kelembagaan. Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan telah menegaskan kembali kerangka independensi mereka sendiri dalam beberapa pekan terakhir.
Bagi investor, variabel kunci adalah apakah sistem hukum akan turun tangan sebelum tenggat 15 Mei. Pemecatan Powell kemungkinan akan memicu litigasi segera di Pengadilan Banding Sirkuit D.C., membuka jalan bagi kasus Mahkamah Agung yang menguji teori "eksekutif uniter."
Pelaku pasar perlu memantau sidang Senat 21 April dan sinyal Mahkamah Agung soal kasus Lisa Cook. Kedua peristiwa tersebut akan membentuk distribusi probabilitas hasil sebelum tenggat kritis 15 Mei tiba.
Sumber:
OPB (AP), Once Again, Trump Threatens to Fire Fed Chair Jerome Powell, 2026.
Binance Square, Trump Threatens to Fire Powell If He Doesn't Leave on Time, 2026.
FinancialContent, Trump Threatens to Fire Fed Chair Powell: A New Constitutional Crisis for Markets, 2026.












