Venezuela Terbuka Lagi, Raksasa Migas Barat Siap Berebut Harta Karun Gas
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Jakarta, Gotrade News - Pergantian rezim politik di Venezuela membuka kembali pintu bagi perusahaan energi global untuk mengklaim proyek gas bernilai miliaran dolar. Shell plc kini membidik pengembangan ladang gas Dragon yang sempat tertunda lama akibat sanksi Amerika Serikat.
Key Takeaways
Proyek gas Dragon berpotensi menghasilkan pendapatan hingga 500 juta dolar AS per tahun selama tiga dekade.
Perusahaan AS seperti Chevron diprediksi mendapat prioritas utama sebelum pemain Eropa masuk.
Lonjakan produksi Venezuela dapat menciptakan surplus pasokan yang menekan harga minyak global.
Ladang Dragon menyimpan estimasi cadangan gas sebesar 120 miliar meter kubik yang sangat menggiurkan bagi investor. Menurut The Telegraph, intervensi Donald Trump dapat mempercepat realisasi proyek yang menjanjikan pendapatan masif ini.
Fokus Shell diperkirakan kembali intensif setelah Trump menyerukan peningkatan investasi untuk mendongkrak produksi energi Venezuela. Namun, preferensi politik Trump terhadap bisnis AS mungkin mengharuskan Shell mencari mitra strategis lokal atau Amerika.
Dominasi Pemain AS
Analis memprediksi perusahaan Amerika akan menjadi pemenang utama dalam gelombang pertama investasi ini. Chevron Corporation memiliki keunggulan kompetitif karena sudah beroperasi aktif di bawah pengawasan pemerintah sebelumnya.
Ashley Kelty dari bank investasi Panmure Liberum menyebut pemain Eropa mungkin awalnya tertinggal dari akses aset terbaik. Namun, mereka akan tetap dibutuhkan kemudian hari melalui skema usaha patungan untuk membagi risiko operasional.
Selain Shell, BP juga memiliki kepentingan di wilayah tersebut yang bisa dihidupkan kembali. Perusahaan Inggris ini sedang melobi pemulihan lisensi eksplorasi ladang Manakin-Cocuina yang sempat dicabut tahun lalu.
Risiko Bagi OPEC
Pembukaan kembali keran minyak Venezuela menjadi ancaman serius bagi kendali harga yang dipegang OPEC. Peningkatan produksi dari negara Amerika Latin ini berpotensi membanjiri pasar yang sudah mengalami tren penurunan.
Greg Newman dari Onyx Capital memperingatkan bahwa tambahan pasokan ini bisa memicu surplus satu hingga dua juta barel per hari. Kondisi ini akan semakin menyulitkan OPEC yang baru saja mencatat penurunan harga minyak 18 persen sepanjang 2025.