Gotrade News - Wall Street mencatatkan rekor baru pada Rabu (22/04) setelah Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu. S&P 500 ETF (SPY) naik 1,05% ke 7.137,90, mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, menurut Bloomberg Technoz.
NASDAQ 100 ETF (QQQ) melonjak 1,7% ke rekor baru, sementara Dow Jones menguat 340,65 poin ke 49.490,03. Indeks Semikonduktor Philadelphia bahkan naik 2,7%, mencatatkan penguatan 16 sesi berturut-turut, dilansir Bloomberg Technoz.
Key Takeaways:
- S&P 500 dan Nasdaq 100 cetak rekor tertinggi didorong perpanjangan gencatan senjata
- Lebih dari 80% perusahaan S&P 500 melampaui ekspektasi laba kuartalan
- Harga minyak Brent sentuh $100/barel karena ketegangan di Selat Hormuz
Gencatan Senjata dan Respons Pasar
Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata melalui Truth Social, menyebut adanya "perpecahan internal serius" di dalam Iran. Ia menginstruksikan militer AS untuk mempertahankan blokade sambil tetap bersiaga, menurut Kompas.
Di sisi lain, Iran menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan AS. Media negara Iran menyebut dialog sebagai "membuang waktu", sementara JD Vance menunda kunjungan perundingan perdamaian, dilansir Kompas.
Mark Hackett dari Nationwide menilai reaksi tenang pasar terhadap berita geopolitik menunjukkan kekuatan fundamental yang solid. Indeks Volatilitas Cboe (VIX) turun ke level 19, menandakan kepercayaan investor tetap tinggi, menurut Bloomberg Technoz.
Laporan Laba Perusahaan Topang Momentum
Lebih dari 80% perusahaan S&P 500 yang sudah melaporkan kinerja melampaui ekspektasi analis, menurut Katadata. Momentum ini menjadi penopang utama rally di tengah ketidakpastian geopolitik.
Boeing (BA) menguat 5,5% setelah melaporkan kerugian kuartalan yang lebih kecil dari perkiraan. GE Vernova melonjak sekitar 14% berkat pendapatan yang melampaui konsensus, dilansir Katadata.
Harga minyak mentah Brent naik 3,0% ke level $100 per barel, didorong ketegangan di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi menjadi faktor yang perlu dicermati terhadap inflasi dalam beberapa pekan ke depan, menurut Katadata.
Ben Fulton dari FBB Capital Partners memperingatkan bahwa pergerakan pasar yang cepat meningkatkan risiko koreksi. Investor perlu tetap waspada meskipun momentum saat ini masih positif, dilansir Katadata.
Rally ini menunjukkan bahwa kombinasi diplomasi dan laba korporasi kuat mampu mendorong sentimen investor. Pasar AS tetap menjadi barometer utama bagi investor global, termasuk Indonesia.
Sources:
- Kompas Money, Wall Street Ditutup Menguat Signifikan Setelah Gencatan Senjata Diperpanjang, 2026.
- Katadata, S&P 500 Cetak Rekor Baru Ditopang Laba Korporasi, 2026.
- Bloomberg Technoz, S&P 500 Sentuh Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, 2026.












