Gotrade News - Indeks saham AS bertahan dekat rekor tertinggi saat optimisme kesepakatan damai AS-Iran goyah. Futures S&P 500 Juni naik 0,36% dan futures Nasdaq 100 menguat 0,56% pada sesi terakhir.
Penguatan didorong optimisme kecerdasan buatan dan harapan negosiasi diplomatik yang menekan harga minyak global. Volatilitas energi ini memberikan dampak langsung pada inflasi dan imbal hasil obligasi Treasury AS.
Key Takeaways
- Futures S&P 500 dan Nasdaq menguat di tengah optimisme AI dan harapan damai AS-Iran.
- Harga minyak sempat turun lebih dari 4% sebelum menyentuh USD 100 per barel usai serangan baru AS.
- Imbal hasil Treasury 10 tahun turun ke 4,47% saat tekanan inflasi mereda.
Menurut Barchart, S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi sebelumnya. Micron Technology melonjak 19% setelah UBS memberikan target harga tertinggi di Wall Street.
Investor juga menanti laporan laba dari Marvell Technology, Salesforce, dan Snowflake pekan ini. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Gubernur Fed Lisa Cook dijadwalkan berbicara dalam waktu dekat.
Pemicu Pergerakan Pasar
Harga minyak global sempat turun sekitar USD 5 per barel saat garis besar kesepakatan damai pertama kali muncul. Penurunan ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk menahan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Pelemahan minyak juga menekan biaya energi bagi konsumen dan korporasi besar seperti Exxon Mobil (XOM). Pasar pun mengalihkan fokus ke saham teknologi dan ETF berbasis indeks luas seperti SPDR S&P 500 ETF (SPY).
Dilansir Time, Presiden Trump menyatakan kesepakatan damai AS-Iran sebagian besar telah dirundingkan. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menyebut klaim tersebut tidak lengkap dan tidak sesuai kenyataan.
Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 3% pada perdagangan pagi ke rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi meski ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar.
Risiko yang Masih Membayangi
Militer AS mengumumkan serangan pertahanan diri di Iran selatan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal peletak ranjau. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan berhak membalas setiap pelanggaran gencatan senjata di kawasan tersebut.
Harga minyak global kembali menyentuh USD 100 per barel pada Selasa pagi setelah serangan terbaru tersebut. Instrumen terkait energi seperti United States Oil Fund (USO) menjadi indikator sensitivitas pasar terhadap risiko ini.
Selat Hormuz tetap menjadi titik penyumbatan utama pasar minyak global dengan menampung sekitar seperlima pasokan dunia. Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi mengubah arah inflasi dan kebijakan suku bunga AS.
Investor disarankan memantau perkembangan diplomatik dan rilis laba korporasi secara berimbang. Kombinasi optimisme AI, dinamika geopolitik, dan jadwal The Fed akan menentukan arah pasar pada pekan ini.












