Gotrade News - S&P 500 menutup April di 7.209,01 setelah naik 1,02% pada Kamis dan menguatkan posisinya di rekor baru. Indeks ini mencatat lonjakan bulanan 10,4%, performa terbaik sejak November 2020 menurut data Kabar Bursa.
Penguatan datang bersamaan dengan dolar AS yang melemah dan emas spot yang rebound ke USD4.618,67 per troy ons. Pelaku pasar menilai pergerakan ini sebagai konfirmasi rotasi modal ke aset berisiko di tengah ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih akomodatif.
Key Takeaways
- April 2026 jadi bulan terkuat S&P 500 sejak 2020 dengan kenaikan 10,4%, didorong saham industrial dan teknologi besar.
- Intervensi otoritas Jepang menekan USD/JPY 2,33% ke 156,52 dan menyeret indeks dolar DXY turun ke 98,06.
- Emas spot menguat 1,7% sementara Brent melemah 3,41% ke USD114,01 per barel setelah delapan hari kenaikan.
Saham Caterpillar melonjak hampir 10% setelah laporan kuartalan melampaui ekspektasi dan revisi panduan pendapatan ke atas. Saham Alphabet ikut menguat sekitar 10% setelah pendapatan Q1 melebihi proyeksi analis dan pengumuman belanja modal USD190 miliar untuk 2026.
Tidak semua big tech menyumbang kenaikan. Meta turun 8,6% dan Microsoft melemah 3,9% pada sesi yang sama menurut data Kabar Bursa.
Tom Graff selaku Chief Investment Officer Facet menilai laporan Magnificent Seven belum cukup mengubah arah sentimen. Ia menyebut investor masih fokus apakah investasi AI yang besar akan menghasilkan margin setara software atau menggerus valuasi jangka panjang.
Indeks dolar DXY turun 0,80% ke 98,06 setelah otoritas Jepang diduga melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen. USD/JPY anjlok 3% intraday sebelum stabil di 156,52 dengan penurunan 2,33%.
John Velis dari BNY menilai intervensi Jepang sebagai respons wajar atas pergerakan pasar yang melampaui batas fundamental. EUR/USD ikut menguat 0,51% ke 1,1733 sementara GBP/USD naik 0,98% ke 1,3607.
Emas spot rebound 1,7% ke USD4.618,67 per troy ons setelah sempat menyentuh level terendah satu bulan menurut data IDX Channel. David Meger dari High Ridge Futures menilai pelemahan dolar dan harga energi yang melandai menjadi penopang utama.
Brent crude turun 3,41% ke USD114,01 per barel setelah delapan sesi reli berturut-turut. Penurunan ini terjadi meskipun ketegangan AS-Iran masih berlangsung dan Selat Hormuz tetap menjadi titik panas pasokan global.
Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga sambil memantau inflasi 3% yang masih di atas target 2%. Pasar kini mencari konfirmasi dari The Fed terkait arah suku bunga setelah rangkaian data ekonomi yang bercampur.
Referensi












