Yield Jepang 2 Tahun Dekati 2%, BOJ Buka Peluang Naik Cepat

Key Takeaways
Yield obligasi Jepang tenor 2 tahun naik ke 1,98%, sementara tenor 10 tahun berada di 3,10%.
Salah satu anggota dewan BOJ menilai laju kenaikan suku bunga bisa lebih cepat dari ekspektasi pasar.
BOJ sudah menaikkan suku bunga acuan ke 1,25% pada September, level tertinggi dalam 31 tahun.
Gotrade News - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 2 tahun naik ke 1,98% pada Senin (28/9/2026), makin dekat ke level 2%, bertepatan dengan rilis risalah rapat Bank of Japan (BOJ) yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih cepat. Menurut data Trading Economics, yield tersebut naik 0,04 poin persentase dari sesi sebelumnya dan sudah bertambah 1,05 poin persentase dalam setahun terakhir.
Menurut risalah rapat kebijakan moneter 30-31 Juli 2026 yang dipublikasikan Bank of Japan pada Senin pukul 08.50 waktu Jepang, banyak anggota dewan menilai BOJ secara bertahap bergeser dari kebijakan yang bertujuan mengangkat inflasi dasar ke 2% menjadi kebijakan untuk menambatkan inflasi dasar di sekitar 2%. Seperti dilaporkan Reuters, sebagian anggota bahkan menyerukan laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat.
Risalah BOJ: Kenaikan Bunga Bisa Lebih Cepat dari Ekspektasi Pasar
Dalam risalah tersebut, satu anggota dewan mencatat pasar tampaknya memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga dengan jeda sekitar enam bulan. Anggota itu menilai laju kenaikan bisa lebih cepat dari perkiraan pasar, karena inflasi dasar sudah mendekati 2% dan risiko kenaikan harga perlu mendapat perhatian lebih besar dibanding sebelumnya.
"Fokus kebijakan moneter telah bergeser dari mengangkat inflasi dasar ke 2% menjadi menghindari penyimpangan inflasi dasar lebih jauh ke atas." (Pandangan salah satu anggota dewan dalam risalah rapat BOJ Juli 2026, terjemahan bebas)
Anggota yang sama menyatakan risiko menunggu tidak lagi bisa disebut kecil, sehingga BOJ perlu mempercepat penyesuaian tingkat akomodasi moneternya. Anggota lain menilai BOJ harus menyesuaikan suku bunga secara gesit, karena kondisi keuangan Jepang masih akomodatif meski inflasi dasar mulai tertambat di sekitar 2%.
Ada pula anggota yang menyebut suku bunga kebijakan saat itu masih berada di bawah batas bawah kisaran estimasi suku bunga netral. Reuters mencatat suku bunga BOJ saat ini masih berada di dekat batas bawah kisaran estimasi suku bunga netral, yaitu 1,1% hingga 2,5%.
Meski begitu, beberapa anggota menegaskan laju dan waktu kenaikan suku bunga tidak dapat ditetapkan sejak awal. Keputusan akan dipertimbangkan di setiap rapat kebijakan dengan melihat kondisi keuangan serta perkembangan ekonomi dan harga.
Suku Bunga BOJ Naik ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun
Pada rapat Juli, BOJ menahan suku bunga di sekitar 1,0% lewat pemungutan suara 8-1. Menurut risalah, anggota dewan Takata Hajime mengusulkan kenaikan ke sekitar 1,25% karena menilai BOJ perlu bergerak gesit saat lingkungan global mulai memasuki fase kenaikan suku bunga, tetapi usulan itu kalah suara.
BOJ kemudian menaikkan suku bunga acuan ke 1,25% pada September, level tertinggi dalam 31 tahun, seperti dilaporkan Reuters. Langkah itu diambil saat perang di Timur Tengah dan yen yang terus melemah mendorong naik harga impor bahan bakar dan bahan baku.
Reuters juga mencatat inflasi sektor jasa Jepang pada Agustus naik dengan laju tahunan tercepat dalam lebih dari dua tahun. Analis memperkirakan BOJ akan menaikkan proyeksi inflasinya pada rapat 29-30 Oktober, dengan sebagian memprediksi kenaikan suku bunga berikutnya paling cepat terjadi pada Oktober atau Desember.
Yield JGB 10 Tahun Sentuh 3,115%, Tertinggi Sejak 1996
Menurut Reuters, yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun sempat mencapai 3,115% pada Jumat (25/9), level tertinggi sejak Agustus 1996. Data Trading Economics per 28 September menunjukkan posisi yield di sejumlah tenor utama sebagai berikut.
Yield obligasi pemerintah Jepang per 28 September 2026 (sumber: Trading Economics) | |
Tenor | Yield |
|---|---|
2 tahun | 1,98% |
5 tahun | 2,43% |
10 tahun | 3,10% |
30 tahun | 4,18% |
Dalam risalah, beberapa anggota dewan menilai suku bunga jangka panjang akan terbentuk secara stabil jika BOJ menaikkan suku bunga dengan laju yang tepat. Sebaliknya, kekhawatiran bahwa suku bunga tidak disesuaikan dengan laju yang tepat dapat memicu kenaikan premi jangka (term premium), disertai risiko kenaikan suku bunga yang cepat di kemudian hari.
Dampak Pelemahan Yen bagi Perusahaan Global Jepang
Risalah BOJ mencatat yen melemah terhadap dolar AS selama periode antar-rapat, sementara suku bunga jangka panjang AS naik karena ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed meningkat setelah rapat FOMC Juni.
Para anggota dewan menilai pelemahan yen berdampak positif pada laba perusahaan global, tetapi menekan pendapatan riil rumah tangga serta laba usaha kecil dan menengah melalui kenaikan harga impor. Mereka juga sepakat pergerakan kurs kini lebih mungkin memengaruhi harga dibanding masa lalu, karena perusahaan makin condong menaikkan upah dan harga.
Toyota Motor (TM), Sony Group (SONY), dan Nomura Holdings (NMR) adalah beberapa perusahaan Jepang yang American Depositary Receipt (ADR)-nya diperdagangkan di bursa saham AS. Informasi ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek tertentu.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














