Portofolio 60/40 (60% saham, 40% obligasi) telah menjadi standar emas alokasi aset selama puluhan tahun. Tapi tahun 2022 membuktikan kelemahannya: saham dan obligasi jatuh bersamaan, membuat portofolio "seimbang" ini kehilangan daya lindungnya.
Di sinilah komoditas masuk sebagai kelas aset ketiga yang bisa memperkuat fondasi portofolio. Pertanyaannya bukan lagi apakah komoditas perlu dimasukkan, melainkan seberapa besar alokasinya dan bagaimana cara mengelolanya secara efektif dalam portofolio jangka panjang.
Evolusi Portofolio Tradisional
Portofolio 60/40 dibangun di atas satu asumsi kunci: saham dan obligasi berkorelasi negatif. Saat saham turun, obligasi naik, dan sebaliknya. Asumsi ini bekerja dengan baik selama empat dekade terakhir, terutama di era suku bunga menurun (1980-2020).
Tapi asumsi itu mulai runtuh.
Melansir Vanguard, korelasi saham-obligasi berubah menjadi positif di lingkungan inflasi tinggi dan suku bunga naik. Tahun 2022 menjadi bukti nyata: S&P 500 turun sekitar 19% sementara indeks obligasi AS (Bloomberg Aggregate) juga turun sekitar 13%. Portofolio 60/40 kehilangan sekitar 17%, salah satu tahun terburuk dalam sejarahnya.
Fenomena ini bukan anomali sementara. Dalam rezim inflasi yang lebih tinggi dari era sebelumnya, korelasi positif saham-obligasi bisa berlangsung lebih lama. Artinya portofolio 60/40 murni tidak lagi cukup sebagai strategi diversifikasi.
Di sisi lain, komoditas justru menunjukkan kekuatannya di tahun 2022. Indeks komoditas naik lebih dari 20%, didorong oleh kenaikan harga energi dan logam mulia. Korelasi komoditas terhadap saham dan obligasi secara historis rendah, menjadikannya diversifier sejati yang bekerja justru saat aset tradisional gagal melindungi.
Optimal Allocation untuk Komoditas
Pertanyaan praktisnya: berapa persen portofolio yang idealnya dialokasikan ke komoditas?
Rekomendasi berdasarkan riset
Berbagai riset dari institusi besar menunjukkan kisaran yang konsisten.
- Goldman Sachs merekomendasikan alokasi 5-15% ke komoditas dalam portofolio multi-aset, dengan sweet spot di sekitar 10% untuk investor moderat.
- Vanguard Research menemukan bahwa menambahkan 5-10% komoditas ke portofolio 60/40 meningkatkan risk-adjusted return (Sharpe ratio) secara signifikan, terutama dalam periode inflasi tinggi.
- World Gold Council merekomendasikan 5-10% khusus untuk emas saja sebagai baseline.
Dari data ini, konsensus umum adalah 5-15% dari total portofolio untuk komoditas, tergantung profil risiko dan pandangan terhadap inflasi.
Bagaimana strukturnya?
Jika kamu mengambil alokasi 10% untuk komoditas, portofolio 60/40 berevolusi menjadi 55/35/10:
55% saham (ETF indeks seperti VOO, VTI). 35% obligasi (ETF obligasi seperti BND, AGG). 10% komoditas, yang bisa dibagi menjadi:
- 5-7% emas (ETF GDX atau GLD) sebagai safe haven dan hedge inflasi.
- 2-3% komoditas lain (silver via SLV, broad commodities via DJP) untuk eksposur tambahan.
Untuk investor konservatif yang sudah punya portofolio defensif, alokasi 5% komoditas (terutama emas) sudah cukup memberikan manfaat diversifikasi. Untuk investor yang khawatir terhadap inflasi jangka panjang, alokasi bisa dinaikkan hingga 15%.
Yang perlu diperhatikan
Komoditas tidak menghasilkan income (tidak ada dividen atau kupon). Fungsinya murni sebagai diversifier dan hedge inflasi. Jangan mengharapkan return konsisten seperti saham atau obligasi. Komoditas paling berharga justru di momen-momen ketika aset lain sedang jatuh.
Rebalancing Strategy
Komoditas memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibanding saham dan obligasi. Harga emas bisa naik 20% dalam setahun, lalu sideways selama dua tahun berikutnya. Tanpa rebalancing yang disiplin, alokasi komoditas bisa drift jauh dari target.
a. Tentukan threshold rebalancing
Gunakan band toleransi, misalnya ±3% dari target. Jika target komoditas adalah 10% dan nilainya naik menjadi 13% dari portofolio, lakukan rebalancing. Sebaliknya, jika turun ke 7%, tambah alokasi untuk kembali ke target.
Threshold-based rebalancing lebih efektif dibanding calendar-based (misalnya setiap 6 bulan) karena menangkap pergerakan besar yang terjadi antar jadwal.
b. Rebalancing sebagai mekanisme "beli murah, jual mahal"
Rebalancing secara alami memaksa kamu menjual aset yang sudah naik banyak dan membeli aset yang sedang murah.
Saat emas rally dan porsinya membesar, kamu menjual sebagian dan memindahkan ke saham atau obligasi yang mungkin sedang tertekan. Saat emas terkoreksi, kamu menambah posisi di harga lebih rendah.
Proses ini secara sistematis meningkatkan return jangka panjang tanpa perlu menebak arah pasar.
c. Gunakan kontribusi baru untuk rebalancing
Cara paling efisien melakukan rebalancing adalah mengarahkan investasi baru (DCA bulanan) ke kelas aset yang sedang underweight. Jika komoditas sudah di atas target, alirkan dana baru ke saham atau obligasi.
Jika komoditas di bawah target, tambah posisi di ETF emas atau komoditas.
Pendekatan ini menghindari biaya transaksi dari penjualan dan lebih tax-efficient karena tidak merealisasi capital gain.
d. Review alokasi target setiap tahun
Kondisi makro berubah. Saat inflasi tinggi dan suku bunga naik, alokasi komoditas bisa dinaikkan ke 12-15%. Saat inflasi terkendali dan suku bunga stabil, kembali ke baseline 7-10%. Review tahunan memastikan alokasi tetap relevan dengan kondisi ekonomi terkini.
Kesimpulan
Portofolio 60/40 bukan lagi jawaban tunggal untuk diversifikasi. Menambahkan komoditas sebesar 5-15% menciptakan portofolio yang lebih tahan terhadap inflasi dan korelasi saham-obligasi yang berubah. K
uncinya ada pada alokasi yang terukur, pemilihan instrumen yang tepat (ETF emas sebagai pondasi), dan rebalancing yang disiplin agar proporsi tetap sesuai target.
Beli fractional shares ETF emas (GDX) dan ETF komoditas lainnya di aplikasi Gotrade mulai dari $1, dan perkuat diversifikasi portofoliomu melampaui 60/40 tradisional.
FAQ
Apakah portofolio 60/40 sudah mati?
Tidak mati, tapi perlu dievolusi. Menambahkan komoditas 5-15% membuat portofolio lebih tahan terhadap rezim inflasi tinggi yang tidak diantisipasi model tradisional.
Apakah cukup hanya emas sebagai alokasi komoditas?
Untuk kebanyakan investor ritel, ya. Emas adalah komoditas paling likuid dan paling teruji sebagai diversifier. Silver dan broad commodities bisa ditambahkan untuk eksposur lebih luas.
Berapa sering harus rebalancing komoditas?
Gunakan threshold ±3% dari target. Rebalancing otomatis terjadi jika kamu mengarahkan investasi baru ke aset yang underweight setiap bulan.











