Options event risk adalah risiko pergerakan harga yang tajam saat pasar menghadapi peristiwa besar seperti earnings, keputusan suku bunga, CPI, atau panduan bisnis dari manajemen.
Dalam konteks trading earnings options, yang ditradingkan bukan cuma arah harga, tetapi juga lonjakan volatilitas, perubahan implied volatility, dan kemungkinan gap saat market buka.
Simak pemaparan lengkap Gotrade di bawah ini.
Event Risk di Market
Event risk muncul saat satu informasi baru bisa langsung mengubah ekspektasi pasar. Karena perubahan itu terjadi cepat, trader sering tidak punya banyak waktu untuk bereaksi setelah angka atau berita keluar.
Dalam saham, event risk paling sering terasa saat earnings. Harga bisa gap naik atau gap turun dalam satu malam, meski sebelumnya chart terlihat tenang.
Kenapa Options Relevan untuk Event Risk
Options menarik karena memberi cara untuk menata risiko dengan lebih jelas. Trader bisa membatasi kerugian, berspekulasi pada lonjakan volatilitas, atau melindungi posisi saham yang sudah dimiliki.
Tapi ada sisi lain yang harus dipahami. Menjelang event besar, implied volatility biasanya naik, sehingga premi opsi sering jadi mahal. Artinya, kamu tidak hanya menebak arah. Kamu juga “membayar” ketidakpastian itu lewat harga opsi yang lebih tinggi.
Contoh Event Besar seperti Earnings
Earnings adalah contoh event risk yang paling klasik. Sebelum laporan keluar, pasar sudah punya ekspektasi soal revenue, laba, margin, dan guidance.
Masalahnya, reaksi harga tidak selalu mengikuti hasil headline. Saham bisa turun meski laba bagus kalau guidance mengecewakan. Saham juga bisa naik meski angka terlihat biasa kalau pasar sebelumnya sudah terlalu pesimistis.
Inilah kenapa event risk tidak cukup dibaca dengan logika “hasil bagus berarti saham naik.” Dalam options, trader juga harus memikirkan apakah gerakan harga nanti cukup besar untuk menutupi premi yang dibayar.
Strategi Options untuk Menghadapi Event
Tidak ada satu strategi yang selalu paling benar. Pilihan strategi bergantung pada apakah kamu ingin berspekulasi, melindungi posisi, atau justru memanfaatkan premium yang mahal.
1. Long straddle
Long straddle cocok saat kamu yakin akan ada gerakan besar, tetapi tidak yakin arahnya. Strateginya adalah membeli 1 call dan 1 put di strike yang sama, biasanya at the money, dengan expiry yang sama.
Kelebihannya, profit bisa datang dari dua arah. Kekurangannya, strategi ini mahal, dan kalau saham tidak bergerak cukup besar, posisi bisa rugi karena premi yang dibayar terlalu tinggi. Options Education menjelaskan bahwa long straddle dipakai untuk mengejar kenaikan volatilitas atau pergerakan tajam ke salah satu arah, dengan risiko maksimum terbatas pada total premi yang dibayar.
2. Protective put
Protective put lebih cocok untuk investor yang sudah memegang saham dan ingin melindungi nilai posisinya menjelang event besar. Strukturnya sederhana: tetap pegang saham, lalu beli put sebagai pelindung downside.
Ini tidak dipakai untuk mengejar spekulasi besar. Fungsinya lebih mirip asuransi sementara. OIC menjelaskan bahwa protective put membantu menetapkan batas bawah nilai posisi saham selama masa opsi berlaku.
3. Collar
Collar cocok untuk investor yang sudah punya saham dan ingin perlindungan lebih murah daripada protective put biasa. Caranya adalah membeli put untuk proteksi, lalu menjual call untuk membantu membiayai put tersebut.
Trade-off-nya jelas. Downside lebih terkendali, tetapi upside juga dibatasi karena ada call yang dijual. Masih melansir Options Education, collar pada dasarnya menggabungkan protective put dan covered call untuk menciptakan batas bawah dan batas atas pada posisi saham.
Cara Memilih Strategi yang Lebih Masuk Akal
Kalau tujuanmu adalah mengejar pergerakan besar, long straddle lebih relevan. Kalau tujuanmu adalah menjaga posisi saham dari kejutan negatif, protective put atau collar biasanya lebih masuk akal.
Cara berpikir sederhananya:
-
ingin spekulasi pada move besar → long straddle
-
ingin proteksi tanpa jual saham → protective put
-
ingin proteksi lebih murah, rela upside dibatasi → collar
Risiko yang Harus Diperhatikan
Event risk membuat banyak trader terlalu fokus pada potensi hasil besar. Padahal, kesalahan paling umum justru datang dari dua hal: premi yang terlalu mahal dan ukuran posisi yang terlalu besar.
Beberapa risiko yang perlu diingat:
-
implied volatility sudah tinggi sebelum event
-
harga bisa bergerak, tapi tidak cukup besar
-
gap bisa langsung melewati level yang diharapkan
-
strategi yang terlihat “aman” tetap punya trade-off
Kalau kamu ingin trading event risk dengan options, jangan mulai dari pertanyaan “berapa cuannya?” Mulai dari pertanyaan yang lebih penting: “kalau skenarionya salah, apakah struktur posisinya masih bisa saya terima?”
Kamu juga bisa implementasikan saat coba options trading lewat Gotrade Indonesia, klik di sini untuk mulai.
Kesimpulan
Trading event risk dengan options bisa sangat menarik karena memberi fleksibilitas yang tidak dimiliki posisi saham biasa. Tapi fleksibilitas itu hanya berguna kalau kamu paham apa yang sedang kamu beli: arah, volatilitas, proteksi, atau kombinasi dari semuanya.
Kalau kamu ingin mulai memahami options trading dengan struktur yang lebih rapi, kamu bisa options trading lewat Gotrade Indonesia sesuai strategi dan profil risikomu.
FAQ
Apa itu event risk dalam market?
Risiko pergerakan harga tajam karena event besar seperti earnings, CPI, atau FOMC.
Strategi options apa yang cocok untuk earnings?
Tergantung tujuan: long straddle untuk spekulasi move besar, protective put atau collar untuk proteksi.
Kenapa options menjelang event sering mahal?
Karena implied volatility biasanya naik sebelum event besar.












