Di antara berbagai indikator yang digunakan trader komoditas, gold-silver ratio adalah salah satu yang paling tua dan paling sederhana. Rasio ini membandingkan harga emas dan perak untuk menentukan mana yang relatif murah atau mahal terhadap yang lain.
Meskipun terdengar basic, rasio ini menyimpan insight yang cukup kuat untuk membantu keputusan alokasi antara kedua logam mulia.
Apa Itu Gold-Silver Ratio?
Gold-silver ratio menunjukkan berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas. Jika harga emas $2.000 per ons dan harga perak $25 per ons, maka rasionya adalah 80. Artinya, kamu butuh 80 ons perak untuk "membeli" satu ons emas.
Rasio ini bukan indikator arah harga absolut. Ia mengukur valuasi relatif antara dua aset.
Melansir Investopedia, trader menggunakan gold-silver ratio untuk mengidentifikasi kapan salah satu logam mulia terlihat terlalu murah atau terlalu mahal dibanding yang lain.
Semakin tinggi rasio, semakin "murah" perak relatif terhadap emas. Semakin rendah rasio, semakin "mahal" perak relatif terhadap emas, atau bisa juga berarti perak sedang dalam fase outperformance.
Rumus dan Cara Menghitung Ratio
Perhitungannya sangat sederhana:
Gold-Silver Ratio = Harga Emas per Ons ÷ Harga Perak per Ons
Contoh: jika emas di $2.400 dan perak di $30, maka rasionya adalah 80. Jika perak naik ke $40 sementara emas tetap, rasio turun ke 60.
Kamu tidak perlu menghitung manual. Rasio ini tersedia secara real-time di platform charting seperti TradingView (ticker XAUUSD/XAGUSD), dan juga dilacak oleh situs seperti GoldPrice.org serta Kitco. Cukup pantau angkanya untuk mendapatkan gambaran valuasi relatif kedua logam setiap saat.
Rata-Rata Historis dan Interpretasi
Secara historis, gold-silver ratio berfluktuasi dalam range yang cukup lebar, tapi ada pola yang konsisten.
a. Rata-rata jangka panjang. Dalam 50 tahun terakhir, rata-rata rasio berada di kisaran 60-65. Angka ini sering digunakan sebagai "fair value" untuk menilai apakah rasio saat ini terlalu tinggi atau rendah.
b. Rasio di atas 80: perak sangat murah. Level ini biasanya tercapai saat krisis ekonomi atau resesi, ketika emas rally sebagai safe haven sementara perak tertekan oleh penurunan permintaan industri. Pada Maret 2020, rasio sempat menyentuh 125, level tertinggi dalam sejarah modern.
c. Rasio di bawah 50: perak relatif mahal. Level ini biasanya terjadi saat ekonomi ekspansi dan permintaan industri perak meningkat pesat. Pada 2011 saat bull run komoditas, rasio turun hingga mendekati 30.
Mengutip World Gold Council, interpretasi rasio harus selalu dikombinasikan dengan konteks makroekonomi. Rasio tinggi bukan otomatis sinyal beli perak, karena kondisi yang mendorong rasio naik (resesi, risk-off) bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Strategi Trading dengan Ratio
Ada beberapa cara memanfaatkan gold-silver ratio dalam keputusan investasi.
Mean reversion trade
Strategi paling klasik: beli perak (atau ETF SLV) saat rasio sangat tinggi (di atas 80) dan beralih ke emas (atau ETF GDX) saat rasio turun ke bawah rata-rata historis.
Logikanya, rasio cenderung kembali ke mean dalam jangka menengah hingga panjang. Strategi ini membutuhkan kesabaran karena mean reversion bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Pair trade emas-perak
Trader yang lebih aktif bisa melakukan pair trade: long perak dan short emas saat rasio tinggi, atau sebaliknya saat rasio rendah.
Pendekatan ini mengisolasi pergerakan relatif antara kedua logam dan mengurangi eksposur terhadap arah pasar komoditas secara keseluruhan.
Konfirmasi untuk alokasi portofolio
Bagi investor jangka panjang, gold-silver ratio bisa menjadi konfirmasi tambahan saat menentukan alokasi antara ETF emas dan ETF perak dalam portofolio komoditas.
Saat rasio ekstrem tinggi, overweight perak. Saat rasio mendekati rata-rata atau di bawah, overweight emas.
Kapan Beralih dari Emas ke Silver
Pertanyaan ini paling sering muncul saat rasio berada di level tinggi. Berikut tiga kondisi yang secara historis menjadi momen optimal untuk meningkatkan eksposur ke perak.
a. Rasio di atas 80 dan mulai berbalik turun
Jangan hanya melihat level rasio, perhatikan juga arahnya. Rasio yang sudah di atas 80 tapi mulai menunjukkan tren menurun mengindikasikan perak mulai mengejar ketertinggalan dari emas.
b. Data ekonomi menunjukkan fase awal ekspansi
Saat PMI manufaktur global mulai naik dan aktivitas industri membaik, sisi permintaan industri perak aktif bersamaan dengan sentimen investasi yang positif. Kedua sisi permintaan ini mendorong perak outperform emas.
c. Dolar AS melemah dan suku bunga diproyeksikan turun
Kondisi ini mendukung kenaikan harga logam mulia secara umum, tapi perak biasanya bergerak lebih agresif karena beta-nya yang lebih tinggi. Pelemahan dolar memperkuat daya beli pembeli non-USD dan meningkatkan daya tarik komoditas.
Sebaliknya, tetap di emas saat ekonomi melambat, risiko resesi meningkat, atau rasio masih dalam tren naik. Dalam kondisi defensif, emas adalah pilihan yang lebih stabil.
Kesimpulan
Gold-silver ratio adalah alat sederhana tapi efektif untuk menilai valuasi relatif antara dua logam mulia terpenting di dunia. Dengan memahami rata-rata historis, interpretasi level ekstrem, dan strategi trading yang bisa diterapkan, investor bisa membuat keputusan alokasi yang lebih terukur antara emas dan perak.
Kuncinya bukan menebak arah harga, melainkan membaca valuasi relatif dan mencocokkannya dengan konteks ekonomi.
Beli fractional shares ETF emas seperti GDX dan ETF perak seperti SLV di Gotrade mulai dari $1.
FAQ
Apakah gold-silver ratio bisa digunakan untuk memprediksi harga emas atau perak?
Tidak secara langsung. Rasio ini mengukur valuasi relatif, bukan arah harga absolut. Rasio bisa turun karena perak naik lebih cepat atau karena emas turun lebih dalam.
Berapa level gold-silver ratio yang dianggap ekstrem?
Di atas 80 umumnya dianggap perak terlalu murah relatif terhadap emas. Di bawah 50 dianggap perak relatif mahal. Namun, konteks makroekonomi harus selalu menjadi pertimbangan utama.
Apakah strategi mean reversion selalu berhasil?
Tidak selalu. Rasio bisa tetap di level ekstrem untuk waktu yang lama, terutama saat kondisi makro mendukung. Manajemen risiko dan kesabaran adalah kunci.











