Reversal Saham: Ketahui Tandanya dan Bedanya dengan Pullback

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Reversal Saham: Ketahui Tandanya dan Bedanya dengan Pullback

Ringkasan Gotrade

  • Reversal adalah perubahan arah tren harga, seperti pergeseran dari tren naik ke tren turun atau sebaliknya.
  • Pergerakan harga sesaat belum tentu menunjukkan reversal. Untuk membaca perubahan tren, struktur seperti higher high, higher low, lower high, dan lower low dapat membantu.
  • Pullback hanya bergerak sementara melawan tren utama, sementara reversal menunjukkan bahwa struktur tren sebelumnya mulai berubah.

Harga saham tidak selalu bergerak naik atau turun dalam satu arah. Dalam kondisi tertentu, tren yang telah terbentuk sebelumnya dapat kehilangan momentum dan berubah arah. Perubahan ini disebut reversal.

Meskipun demikian, tidak setiap penurunan setelah kenaikan harga merupakan indikasi bahwa tren telah berbalik. Sebelum tren sebelumnya berlanjut, pergerakan tersebut mungkin hanya pullback.

Akibatnya, melihat satu atau dua candlestick saja belum cukup untuk memahami reversal saham. Untuk mengetahui apakah perubahan arah benar-benar mulai terjadi, kamu perlu memperhatikan struktur tren, level harga, volume, dan momentum.

Baca juga: Status Quo Bias: Arti, Contoh, dan Efek pada Investor

Apa Itu Reversal Saham?

Reversal Saham: Ketahui Tandanya dan Bedanya dengan Pullback

Reversal adalah perubahan arah tren harga dari tren sebelumnya, seperti dari tren naik menjadi tren turun atau dari tren turun menjadi tren naik. Reversal biasanya terlihat melalui perubahan struktur harga, bukan hanya karena harga bergerak berlawanan selama beberapa candle. Untuk memahaminya, kamu perlu memahami bagaimana tren terbentuk.

Fidelity menjelaskan bahwa uptrend biasanya digambarkan oleh rangkaian higher high (HH) dan higher low (HL). Sebaliknya, downtrend terdiri dari lower high (LH) dan lower low (LL).

Baca juga: Unearned Revenue Adalah: Pengertian, Contoh & Dampak

Secara sederhana, uptrend dapat membentuk:

Higher High → Higher Low → Higher High → Higher Low

Ketika struktur tersebut mulai berubah menjadi:

Lower High → Lower Low

kondisi ini dapat menunjukkan bahwa tren naik mulai mengalami bearish reversal.

Hal yang sama berlaku sebaliknya. Jika harga sebelumnya terus membentuk lower high dan lower low, lalu mulai membentuk higher low dan higher high, struktur tersebut dapat menunjukkan bullish reversal.

Selain itu, reversal perlu dilihat berdasarkan timeframe. Perubahan tren pada chart 15 menit belum tentu mengubah tren pada chart harian. Fidelity membedakan tren berdasarkan periode waktu, mulai dari tren jangka pendek hingga jangka panjang, sehingga konteks timeframe perlu diperhatikan saat membaca arah harga.

Jenis Reversal pada Saham

Secara umum, reversal saham dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan arah perubahan tren.

Bullish Reversal

bullish reversal

Bullish reversal terjadi ketika tren turun mulai berubah menjadi tren naik.

Harga sebelumnya biasanya membentuk:

Lower High → Lower Low → Lower High → Lower Low

Setelah tekanan turun mulai berkurang, struktur harga dapat berubah menjadi:

Lower Low → Higher Low → Higher High

Salah satu tanda pentingnya adalah ketika harga tidak lagi mampu mencetak lower low, kemudian menembus lower high sebelumnya.

Namun, satu kenaikan harga belum cukup untuk menunjukkan bullish reversal. Breakout level penting, volume, dan perubahan momentum dapat digunakan sebagai konfirmasi tambahan.

Bearish Reversal

bearish reversal

Bearish reversal adalah kebalikannya, yaitu ketika tren naik mulai berubah menjadi tren turun.

Selama uptrend, harga biasanya bergerak:

Higher High → Higher Low → Higher High

Ketika momentum mulai melemah, harga mungkin gagal mencetak higher high, lalu menembus higher low sebelumnya dan mulai membentuk:

Lower High → Lower Low

Perubahan struktur ini dapat menjadi tanda bahwa tren naik sebelumnya mulai kehilangan kekuatan.

Cara Mengetahui Reversal pada Saham

Tidak ada satu cara yang dapat memastikan reversal dengan pasti. Karena itu, cara mengetahui reversal pada saham sebaiknya dilakukan dengan melihat beberapa lapisan konfirmasi sekaligus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

1. Pastikan Sebelumnya Ada Tren

Reversal berarti perubahan arah tren. Artinya, sebelum mencari reversal, kamu perlu memastikan bahwa harga sebelumnya memang memiliki arah yang cukup jelas.

Jika sedang dalam uptrend, perhatikan apakah harga terus membentuk:

  • higher high

  • higher low

Sementara dalam downtrend:

  • lower high

  • lower low

Jika harga hanya bergerak horizontal dalam rentang sempit, kondisi ini lebih tepat disebut sideways atau konsolidasi daripada tren yang sedang mengalami reversal.

Menurut Fidelity, arah peaks dan troughs dapat digunakan untuk membedakan uptrend, downtrend, dan sideways.

2. Cari Perubahan Struktur Harga

Setelah menemukan tren, perhatikan apakah struktur harga-nya mulai berubah.

Misalnya, saat saham berada dalam downtrend, harga sebelumnya membentuk:

LL → LH → LL → LH

Kemudian harga gagal mencetak lower low, mulai membentuk higher low, dan akhirnya menembus lower high sebelumnya:

LL → LH → HL → HH

Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur tren mulai berubah.

Dalam bearish reversal, prosesnya berlaku sebaliknya:

HH → HL → HH

berubah menjadi:

HH → HL → LH → LL

Perubahan struktur harga memberikan konteks yang lebih lengkap daripada hanya melihat harga naik atau turun dalam satu sesi.

Fidelity juga menyebut penembusan sebuah trendline sebaiknya dilihat sebagai peringatan bahwa tren mungkin berubah dan tetap membutuhkan sinyal tambahan sebagai konfirmasi.

3. Perhatikan Support dan Resistance Penting

Misalnya, saham sedang berada dalam downtrend. Harga mulai naik, tetapi masih berada di bawah resistance utama. Kondisi tersebut masih bisa menjadi kenaikan sementara.

Indikasi reversal menjadi lebih kuat ketika harga:

  1. berhenti membuat lower low,

  2. menembus resistance atau lower high sebelumnya,

  3. bertahan di atas area tersebut ketika terjadi retest.

Konsep yang sama berlaku untuk bearish reversal.

Fidelity menjelaskan bahwa ketika resistance berhasil ditembus, level tersebut dapat berubah fungsi menjadi support. Sebaliknya, support yang ditembus dapat berubah menjadi resistance.

Perubahan fungsi level tersebut dapat digunakan bersama struktur harga untuk membantu mengevaluasi perubahan tren.

4. Periksa Dukungan Volume

Volume dapat membantu melihat seberapa besar aktivitas pasar yang menyertai suatu pergerakan harga.

Salah satu contohnya adalah ketika harga berhasil menembus resistance saat mencoba membentuk bullish reversal. Jika breakout tersebut disertai peningkatan volume dibandingkan periode sebelumnya, kondisi ini dapat memberikan konteks tambahan bahwa partisipasi pasar ikut meningkat.

Namun, volume sebaiknya tidak digunakan secara terpisah.

Volume tinggi belum tentu berarti reversal sudah dikonfirmasi. Perhatikan juga apakah harga mampu bertahan setelah breakout dan apakah struktur tren ikut berubah.

5. Gunakan Momentum sebagai Konfirmasi

Indikator momentum seperti RSI, MACD, atau momentum oscillator dapat membantu melihat apakah kekuatan tren mulai melemah.

Salah satu konsep yang sering digunakan adalah divergence.

Contoh bullish divergence:

Harga: membuat lower low
Momentum: membuat higher low

Artinya, harga masih turun, tetapi momentum penurunannya mulai melemah.

Sebaliknya, bearish divergence terjadi ketika harga mencetak higher high, sementara indikator momentum justru membuat lower high.

Fidelity menjelaskan bahwa ketika harga membuat high atau low baru yang tidak dikonfirmasi oleh indikator momentum, divergence tersebut dapat menjadi indikasi kemungkinan reversal.

Meskipun demikian, kondisi overbought atau oversold tetap perlu diperhatikan bersama analisis harga dan indikator lainnya.

Dengan kata lain, RSI yang sudah oversold saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa saham akan segera mengalami kenaikan.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

6. Gunakan Moving Average untuk Melihat Arah Tren

Beberapa hal yang sering diperhatikan trader antara lain:

  • harga menembus kembali moving average,

  • arah atau slope moving average mulai berubah,

  • moving average jangka pendek memotong moving average jangka panjang.

Namun, moving average menggunakan data harga sebelumnya sehingga memiliki sifat lagging.

Fidelity menjelaskan bahwa semakin panjang periode SMA, pergerakannya semakin halus, tetapi jeda antara moving average dan pergerakan harga juga semakin besar.

Akibatnya, penembusan moving average atau crossover lebih tepat digunakan sebagai konfirmasi daripada sebagai satu-satunya dasar untuk mengetahui reversal.

Meskipun demikian, riset menekankan bahwa tidak ada sinyal tunggal yang memastikan reversal. Park dan Irwin (2007) di Journal of Economic Surveys meninjau 95 studi modern dan mencatat 56 studi melaporkan hasil positif, 20 negatif, dan 19 beragam, sekaligus mengingatkan bahwa banyak pengujian rentan terhadap masalah seperti data snooping dan pemilihan aturan secara ex post.

Perbedaan Reversal dan Pullback

Salah satu masalah terbesar ketika membaca chart adalah menentukan apakah harga sedang mengalami reversal atau hanya pullback.

Pullback adalah pergerakan sementara yang berlawanan dengan tren utama, sementara reversal menunjukkan bahwa struktur tren sebelumnya mulai berubah.

Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Faktor

Reversal

Pullback

Tren utama

Berpotensi berubah arah

Masih bertahan

Struktur harga

Struktur HH/HL atau LH/LL mulai rusak

Struktur tren utama masih terjaga

Pergerakan

Dapat berkembang menjadi tren baru

Sementara melawan tren utama

Support/resistance

Level penting dapat ditembus

Harga umumnya masih bertahan di level penting

Setelah koreksi

Harga mulai bergerak ke arah baru

Harga kembali mengikuti tren sebelumnya

Konfirmasi

Perubahan struktur dan level harga dengan indikator pendukung

Struktur tren utama belum berubah

Sebagai contoh, saham bergerak:

$100 → $110 → $105 → $115

Harga turun dari $110 menjadi $105, tetapi tetap membentuk higher low. Setelah itu, harga kembali naik ke $115 dan membuat higher high baru.

Struktur uptrend masih terjaga. Oleh karena itu, penurunan dari $110 ke $105 lebih menyerupai pullback.

Bandingkan dengan pergerakan berikut:

$100 → $110 → $105 → $112 → $102 → $106 → $98

Pada awalnya, harga masih naik. Namun, setelah mencapai $112, harga turun menembus low sebelumnya, hanya pulih sampai $106, kemudian turun kembali ke $98.

Strukturnya mulai berubah menjadi lower high dan lower low. Kondisi ini memberikan indikasi yang lebih kuat bahwa bearish reversal mulai terjadi.

Pola yang Sering Muncul Sebelum Reversal

Selain perubahan struktur harga, beberapa pola teknikal juga sering diamati ketika mencari kemungkinan reversal.

Contoh pola yang sering dikaitkan dengan bullish reversal antara lain:

  • double bottom

  • inverse head and shoulders

  • bullish engulfing

  • morning star

  • hammer

Sementara pola yang sering dikaitkan dengan bearish reversal antara lain:

  • double top

  • head and shoulders

  • bearish engulfing

  • evening star

  • shooting star

Namun, munculnya sebuah pola belum tentu berarti harga akan berbalik arah.

Misalnya, double bottom memiliki konteks yang lebih kuat ketika harga mampu menembus resistance di antara dua bottom tersebut. Dengan cara yang sama, pola candlestick sebaiknya dibaca bersama tren, level harga, volume, dan struktur pasar.

Lo, Mamaysky, dan Wang (2000) di The Journal of Finance membangun metode pengenalan pola otomatis menggunakan kernel regression pada saham AS periode 1962-1996 dan menemukan bahwa beberapa pola teknikal, termasuk head and shoulders dan double bottom, memberikan informasi tambahan dan berpotensi memiliki nilai praktis.

Contoh Cara Membaca Reversal Saham

Agar lebih sederhana, bayangkan saham ABC sedang mengalami penurunan dengan pergerakan berikut:

$120 → $110 → $115 → $100 → $108

Struktur tersebut masih menunjukkan downtrend karena:

  • $115 lebih rendah daripada $120 sehingga terbentuk lower high,

  • $100 lebih rendah daripada $110 sehingga terbentuk lower low.

Kemudian harga bergerak:

$100 → $112 → $106 → $118

Sekarang perhatikan perubahannya.

Pertama, harga menembus $108, yaitu lower high sebelumnya.

Kemudian harga terkoreksi, tetapi hanya turun ke $106. Level ini masih lebih tinggi dibanding low sebelumnya di $100 sehingga terbentuk higher low.

Setelah itu, harga naik ke $118 dan membentuk higher high.

Struktur harga yang sebelumnya:

Lower High → Lower Low

mulai berubah menjadi:

Higher Low → Higher High

Jika penembusan $108 juga disertai volume yang meningkat dan momentum yang membaik, ada lebih banyak konfirmasi bahwa tren turun sebelumnya sedang mengalami perubahan.

Tetap perlu diingat bahwa analisis teknikal merupakan proses interpretatif. Fidelity juga menekankan bahwa analisis teknikal bukan ilmu yang memberikan kepastian dan penggunaannya membutuhkan interpretasi.

Kenapa Sinyal Reversal Bisa Gagal?

Terlepas dari beberapa indikasi perubahan tren, harga masih dapat kembali melanjutkan tren sebelumnya.

Beberapa penyebabnya antara lain:

  1. False breakout
    Harga sempat menembus support atau resistance, tetapi tidak mampu bertahan dan kembali ke area sebelumnya.

  2. Pullback dianggap sebagai reversal
    Harga bergerak melawan tren selama beberapa candle, padahal struktur tren utama masih bertahan.

  3. Mengandalkan satu candlestick
    Pola seperti hammer atau engulfing dapat menunjukkan respons harga. Namun, konteks tren dan level harga tetap perlu diperhatikan.

  4. Mengabaikan timeframe yang lebih besar
    Bullish reversal pada chart jangka pendek bisa saja hanya menjadi pullback ketika tren pada timeframe yang lebih besar masih turun.

  5. Menganggap overbought dan oversold sebagai reversal
    Fidelity mencatat bahwa momentum di area overbought masih dapat diikuti kenaikan harga, sementara kondisi oversold masih dapat diikuti penurunan.

Karena itu, indikator tersebut sebaiknya digunakan bersama analisis harga lainnya.

Cara Mengurangi Risiko False Reversal

Tidak ada cara untuk mengetahui reversal dengan pasti. Namun, menggunakan beberapa konfirmasi sekaligus dapat membantu mengurangi kemungkinan salah membaca pergerakan.

Sebelum menganggap sebuah pergerakan sebagai reversal, coba periksa:

  • Apakah sebelumnya ada tren yang cukup jelas?

  • Apakah struktur higher high/higher low atau lower high/lower low sudah berubah?

  • Apakah support atau resistance penting berhasil ditembus?

  • Apakah harga mampu bertahan setelah breakout atau retest?

  • Apakah volume mendukung pergerakan?

  • Apakah momentum menunjukkan perubahan?

  • Apakah timeframe yang lebih besar juga mendukung pembacaan?

Semua kondisi tersebut tidak harus muncul secara bersamaan. Namun, semakin banyak bukti yang saling mendukung, semakin lengkap konteks yang dapat digunakan untuk menilai kemungkinan reversal.

Kesimpulan

Reversal adalah perubahan arah tren harga, bukan sekadar harga yang bergerak sesaat berlawanan dengan tren sebelumnya.

Untuk memahami reversal saham, kamu dapat memulai dengan mempelajari struktur tren. Pada bullish reversal, struktur lower high dan lower low mulai berubah menjadi higher low dan higher high. Pada bearish reversal, prosesnya berlaku sebaliknya.

Support dan resistance, volume, momentum, moving average, serta analisis beberapa timeframe dapat digunakan sebagai konfirmasi tambahan.

Hal ini juga membantu membedakan reversal dan pullback. Selama struktur tren utama masih terjaga, pergerakan yang berlawanan arah bisa saja hanya pullback, bukan perubahan tren.

Dengan Gotrade, kamu dapat melihat chart, pergerakan harga, dan indikator teknikal saham AS untuk membantu melakukan analisis sebelum mengambil keputusan trading.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku