Downtrend, saat harga membentuk puncak dan titik rendah yang semakin rendah.
Sideways, saat harga masih bergerak di area yang sama tanpa arah yang jelas.
Kamu juga tidak perlu menandai setiap gerakan kecil di chart. Cukup fokus pada titik yang benar-benar terlihat penting dan menghasilkan perubahan harga yang cukup jelas.
Tiga Kondisi Utama Market Structure
Setelah menemukan beberapa titik tinggi dan rendah, langkah berikutnya adalah melihat hubungan di antara titik-titik tersebut. Dari sini, kamu bisa mulai membaca apakah harga sedang naik, turun, atau bergerak tanpa arah yang jelas.
1. Struktur Naik atau Uptrend
Uptrend terjadi saat harga terus membentuk titik tinggi dan titik rendah yang lebih tinggi.
Biasanya, ada dua istilah yang dipakai:
Contohnya, harga saham naik dari US$100 ke US$110, turun ke US$105, lalu naik lagi ke US$115.
Artinya:
US$110 menjadi puncak pertama.
US$105 menjadi higher low karena masih berada di atas US$100.
US$115 menjadi higher high karena melewati puncak sebelumnya.
Pola ini menunjukkan pembeli masih cukup kuat. Penelitian Jegadeesh dan Titman (1993) di Journal of Finance menemukan saham yang berkinerja kuat dalam 3-12 bulan terakhir cenderung melanjutkan arah tersebut pada periode berikutnya, efek yang dikenal sebagai momentum. Saat harga turun, tekanan beli muncul lagi sebelum penurunannya terlalu dalam.
Meski begitu, uptrend bukan berarti harga akan terus naik. Koreksi tetap bisa terjadi. Karena itu, trader bisa menunggu harga turun ke area yang lebih masuk akal daripada langsung membeli setelah harga sudah naik cukup jauh.
2. Struktur Turun atau Downtrend
Downtrend terjadi saat harga terus membentuk puncak dan titik rendah yang semakin rendah.
Dua istilah yang biasa digunakan adalah:
Contohnya, harga turun dari US$100 ke US$90, naik ke US$95, lalu turun lagi ke US$85.
Susunannya menjadi:
US$90 sebagai titik rendah pertama.
US$95 sebagai lower high karena masih berada di bawah US$100.
US$85 sebagai lower low baru.
Pola ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat. Saat harga sempat naik, penjual kembali masuk sebelum harga mampu mencapai puncak sebelumnya.
Kalau kamu hanya mengambil posisi beli, kondisi seperti ini perlu diperhatikan. Harga yang sudah turun jauh belum tentu langsung murah atau siap berbalik naik. Selama struktur turun masih terbentuk, penurunan masih bisa berlanjut.
3. Struktur Sideways
Sideways terjadi saat harga bergerak bolak-balik di area yang kurang lebih sama.
Misalnya, harga beberapa kali naik mendekati US$110 lalu turun kembali. Di sisi lain, harga juga berulang kali memantul saat mendekati US$100.
Berarti harga masih bergerak di antara:
Dalam kondisi ini, pembeli dan penjual belum benar-benar memegang kendali. Harga masih tertahan di dalam range, sehingga arah berikutnya belum terlihat jelas.
Trader perlu berhati-hati ketika membuka posisi di tengah area sideways. Posisi tersebut sering memiliki jarak yang hampir sama ke support dan resistance, sehingga perbandingan antara risiko dan target menjadi kurang menarik.
Perlu diingat, sideways tidak otomatis berarti investor besar sedang membeli atau menjual saham secara diam-diam. Chart hanya menunjukkan pergerakan harga dan volume, bukan siapa yang melakukan transaksi.
Supaya lebih mudah dibaca, lihat bagaimana higher high, higher low, dan perubahan struktur terbentuk langsung pada chart berikut.
Perbedaan BOS dan CHoCH
Setelah mengetahui arah market structure, trader biasanya ingin tahu apakah tren masih berlanjut atau mulai berubah.
Break of Structure (BOS)
Break of Structure atau BOS terjadi ketika harga menembus titik penting searah dengan tren sebelumnya.
Dalam uptrend, BOS terjadi ketika harga berhasil melewati puncak sebelumnya. Sebagai contoh, harga naik ke US$110, kemudian turun ke US$105. Setelah itu, harga kembali naik dan menembus US$110.
Penembusan ini menunjukkan bahwa struktur naik masih berlanjut.
Dalam downtrend, BOS terjadi ketika harga turun melewati titik rendah sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur turun masih berlanjut.
Namun, BOS tidak berarti harga pasti akan terus bergerak ke arah yang sama. Harga masih dapat berbalik atau bergerak sideways.
Change of Character (CHoCH)
Change of Character atau CHoCH terjadi ketika harga menembus titik penting yang selama ini menjaga tren.
Misalnya, dalam uptrend harga membentuk higher low di US$105. Selama harga bertahan di atas US$105, struktur naik masih terlihat.
Jika harga turun dan ditutup di bawah US$105, kondisi ini dapat disebut CHoCH. Artinya, kekuatan tren naik mulai melemah.
Namun, CHoCH tidak selalu berarti tren langsung berubah menjadi downtrend. Trader masih perlu mengamati apakah harga selanjutnya membentuk lower high dan lower low.
Cara Membaca Market Structure
Market structure lebih mudah digunakan jika kamu membaca chart dengan langkah yang sama setiap kali melakukan analisis.
1. Pilih Timeframe
Timeframe adalah rentang waktu yang digunakan pada setiap candle di chart.
Contohnya:
Timeframe harian berarti satu candle mewakili pergerakan harga selama satu hari.
Timeframe empat jam berarti satu candle mewakili empat jam.
Timeframe 15 menit berarti satu candle mewakili 15 menit.
Untuk melihat arah utama, kamu dapat mulai dari timeframe yang lebih besar, seperti harian atau empat jam.
Setelah itu, kamu bisa melihat timeframe yang lebih kecil untuk mencari area entry. Hindari terus mengganti timeframe hanya untuk mencari chart yang sesuai dengan pendapatmu.
2. Tandai Puncak dan Titik Rendah yang Jelas
Cari titik tempat harga berhenti naik lalu berbalik turun. Titik tersebut dapat disebut puncak atau swing high.
Kemudian, cari titik tempat harga berhenti turun lalu kembali naik. Titik tersebut dapat disebut swing low.
Tidak semua gerakan kecil perlu ditandai. Pilih titik yang mudah terlihat tanpa harus memperbesar chart berulang kali.
3. Tentukan Arah Pasar
Setelah menemukan beberapa titik, periksa polanya.
Puncak dan titik rendah semakin tinggi berarti uptrend.
Puncak dan titik rendah semakin rendah berarti downtrend.
Harga bergerak di area yang sama berarti sideways.
Kadang-kadang strukturnya memang belum jelas. Dalam situasi seperti itu, tidak membuka posisi juga merupakan pilihan.
4. Tentukan Kapan Analisis Dianggap Salah
Dalam trading, kamu perlu menentukan level yang menunjukkan bahwa analisismu tidak lagi berlaku. Level ini disebut titik invalidasi.
Misalnya, kamu membeli karena harga sedang membentuk uptrend. Titik invalidasi dapat ditempatkan di bawah titik rendah yang menjaga tren tersebut.
Kamu perlu mempertimbangkan kembali alasan membeli jika harga menembus batas tersebut.
Meskipun stop loss dapat membantu membatasi risiko, harga eksekusinya tidak selalu sama dengan level yang dipasang. Saat pasar bergerak cepat, order bisa tereksekusi pada harga yang sedikit lebih tinggi atau lebih rendah.
Harga saham tidak hanya bergerak karena faktor teknikal.
Laporan keuangan, proyeksi bisnis, keputusan suku bunga, dan berita tertentu dapat membuat harga berubah dengan cepat.
Karena itu, market structure sebaiknya digunakan bersama analisis lainnya. Volume dan pola candlestick dapat memberikan informasi tambahan, tetapi tidak dapat menjamin harga akan bergerak sesuai perkiraan.
Contoh Lengkap Membaca Market Structure
Agar lebih mudah dipahami, gunakan contoh hipotetis saham Apple atau AAPL berikut. Angka-angka ini hanya untuk ilustrasi dan bukan harga terbaru atau rekomendasi transaksi.
Tahap 1: Struktur Naik Mulai Terbentuk
Harga AAPL naik dari US$180 ke US$195. Setelah itu, harga turun ke US$188 sebelum kembali naik ke US$200.
Pola yang terbentuk adalah:
US$195 menjadi puncak pertama.
US$188 menjadi higher low karena masih berada di atas US$180.
US$200 menjadi higher high karena berada di atas US$195.
Ketika harga menembus US$195, struktur naik mendapatkan konfirmasi awal. Kondisi ini disebut bullish BOS.
Namun, membeli langsung di US$200 belum tentu menjadi pilihan terbaik. Harga baru saja naik dan masih bisa mengalami koreksi.
Tahap 2: Harga Mengalami Koreksi
Setelah mencapai US$200, harga turun ke US$192.
Penurunan ini belum merusak uptrend karena US$192 masih berada di atas titik rendah sebelumnya, yaitu US$188.
Trader dapat mengamati apakah harga mampu bertahan di sekitar US$192. Jika harga mulai memantul, US$192 dapat menjadi higher low baru.
Misalnya, seorang trader membeli di US$194 setelah melihat harga mulai naik kembali. Trader tersebut menetapkan titik invalidasi di bawah US$188.
Alasannya, jika harga turun di bawah US$188, struktur naik yang menjadi dasar pembelian mulai rusak.
Tahap 3: Harga Melanjutkan Kenaikan
Harga kemudian naik dari US$192 ke US$205.
Karena US$205 berada di atas puncak sebelumnya di US$200, harga kembali membentuk higher high.
Strukturnya sekarang menjadi:
Higher low di US$192.
Higher high di US$205.
Selama harga masih menjaga titik rendah penting, struktur naik masih terlihat.
Trader dapat mempertahankan posisi sesuai rencana. Namun, keputusan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan target, batas risiko, dan durasi trading.
Tahap 4: Struktur Mulai Melemah
Setelah menyentuh US$205, harga turun dan ditutup di bawah US$192.
Penurunan ini dapat disebut bearish CHoCH karena harga menembus higher low yang sebelumnya menjaga uptrend.
Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa downtrend sudah dimulai.
Harga kemudian memantul ke US$198, tetapi gagal kembali ke US$205. Setelah itu, harga turun melewati US$188.
Sekarang susunannya menjadi:
Struktur turun mulai terlihat lebih jelas.
Pelajaran dari Contoh Tersebut
Dari skenario tersebut, market structure membantu trader untuk:
tidak langsung mengejar harga setelah naik tinggi,
menunggu koreksi sebelum mempertimbangkan entry,
menentukan titik invalidasi berdasarkan chart,
mengenali tanda ketika uptrend mulai melemah,
tidak langsung menganggap satu penurunan sebagai downtrend,
menunggu pola yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan.
Dua trader tetap bisa mengambil keputusan berbeda walaupun melihat chart yang sama. Perbedaannya dapat berasal dari timeframe, strategi, dan toleransi risiko masing-masing.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Walaupun terlihat sederhana, market structure sering dibaca secara tidak konsisten.
Salah satu kesalahan paling umum adalah membuat label setelah mengetahui hasil pergerakan harga. Chart masa lalu memang terlihat lebih rapi karena seluruh pergerakannya sudah selesai.
Kesalahan lainnya adalah menganggap setiap penembusan harga sebagai sinyal untuk membeli atau menjual. Harga bisa menembus level penting, lalu kembali masuk ke area sebelumnya.
Trader juga sering menandai terlalu banyak puncak dan titik rendah. Akibatnya, chart menjadi penuh garis dan arah utama justru sulit terlihat.
Kesalahan lain adalah menganggap semua wick panjang sebagai tindakan institusi yang sedang mengambil stop loss trader. Dari chart saja, kita tidak dapat memastikan siapa yang bertransaksi dan apa tujuannya.
Gunakan aturan yang konsisten. Catat timeframe, alasan entry, titik invalidasi, dan hasil transaksi agar kamu bisa menilai apakah metode tersebut benar-benar sesuai dengan strategimu.
Kesimpulan
Setelah memahami puncak, titik rendah, BOS, dan CHoCH, market structure akan terasa lebih mudah dibaca.
Market structure membantu kamu melihat arah harga dan menentukan kapan sebuah rencana trading masih berlaku atau perlu dievaluasi kembali.
Namun, market structure bukan alat yang dapat menjamin keuntungan. Struktur harga hanya membantu menyusun skenario berdasarkan informasi yang sudah tersedia.
Melalui Gotrade, kamu dapat memantau chart dan mengakses saham AS secara fraksional mulai dari US$1. Tetap sesuaikan setiap transaksi dengan kondisi keuangan, tujuan, dan kemampuanmu dalam menghadapi risiko.