Market Structure dalam Trading: Fase dan Cara Baca

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Market Structure dalam Trading: Fase dan Cara Baca

Harga naik sebentar, turun lagi, lalu kembali bergerak naik. Sekilas, pergerakannya memang terlihat acak. Padahal, harga biasanya membentuk pola tertentu yang disebut market structure. Dari pola ini, kamu bisa melihat apakah harga sedang cenderung naik, turun, atau hanya bergerak di area yang sama.

Tujuannya bukan untuk menebak arah harga berikutnya. Market structure membantu kamu memahami kondisi pasar sebelum mengambil keputusan.

Apa Itu Market Structure?

Secara sederhana, market structure adalah cara melihat pola pergerakan harga di chart.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Trader biasanya memperhatikan titik-titik penting, seperti puncak dan titik rendah, lalu membandingkannya dengan pergerakan sebelumnya. Dari sini, kamu bisa melihat apakah harga sedang cenderung naik, turun, atau hanya bergerak bolak-balik di area yang sama.

Secara umum, ada tiga kondisi yang sering muncul:

  • Uptrend, saat harga terus membentuk puncak dan titik rendah yang lebih tinggi.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu
  • Downtrend, saat harga membentuk puncak dan titik rendah yang semakin rendah.

  • Sideways, saat harga masih bergerak di area yang sama tanpa arah yang jelas.

  • Kamu juga tidak perlu menandai setiap gerakan kecil di chart. Cukup fokus pada titik yang benar-benar terlihat penting dan menghasilkan perubahan harga yang cukup jelas.

    Tiga Kondisi Utama Market Structure

    Setelah menemukan beberapa titik tinggi dan rendah, langkah berikutnya adalah melihat hubungan di antara titik-titik tersebut. Dari sini, kamu bisa mulai membaca apakah harga sedang naik, turun, atau bergerak tanpa arah yang jelas.

    1. Struktur Naik atau Uptrend

    Uptrend terjadi saat harga terus membentuk titik tinggi dan titik rendah yang lebih tinggi.

    Biasanya, ada dua istilah yang dipakai:

    • Higher high: puncak baru yang lebih tinggi dari puncak sebelumnya.

    • Higher low: titik koreksi yang masih lebih tinggi dari titik rendah sebelumnya.

    Contohnya, harga saham naik dari US$100 ke US$110, turun ke US$105, lalu naik lagi ke US$115.

    Artinya:

    • US$110 menjadi puncak pertama.

    • US$105 menjadi higher low karena masih berada di atas US$100.

    • US$115 menjadi higher high karena melewati puncak sebelumnya.

    Pola ini menunjukkan pembeli masih cukup kuat. Penelitian Jegadeesh dan Titman (1993) di Journal of Finance menemukan saham yang berkinerja kuat dalam 3-12 bulan terakhir cenderung melanjutkan arah tersebut pada periode berikutnya, efek yang dikenal sebagai momentum. Saat harga turun, tekanan beli muncul lagi sebelum penurunannya terlalu dalam.

    Meski begitu, uptrend bukan berarti harga akan terus naik. Koreksi tetap bisa terjadi. Karena itu, trader bisa menunggu harga turun ke area yang lebih masuk akal daripada langsung membeli setelah harga sudah naik cukup jauh.

    2. Struktur Turun atau Downtrend

    Downtrend terjadi saat harga terus membentuk puncak dan titik rendah yang semakin rendah.

    Dua istilah yang biasa digunakan adalah:

    • Lower high: puncak baru yang lebih rendah dari puncak sebelumnya.

    • Lower low: titik rendah baru yang lebih rendah dari titik sebelumnya.

    Contohnya, harga turun dari US$100 ke US$90, naik ke US$95, lalu turun lagi ke US$85.

    Susunannya menjadi:

    • US$90 sebagai titik rendah pertama.

    • US$95 sebagai lower high karena masih berada di bawah US$100.

    • US$85 sebagai lower low baru.

    Pola ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat. Saat harga sempat naik, penjual kembali masuk sebelum harga mampu mencapai puncak sebelumnya.

    Kalau kamu hanya mengambil posisi beli, kondisi seperti ini perlu diperhatikan. Harga yang sudah turun jauh belum tentu langsung murah atau siap berbalik naik. Selama struktur turun masih terbentuk, penurunan masih bisa berlanjut.

    3. Struktur Sideways

    Sideways terjadi saat harga bergerak bolak-balik di area yang kurang lebih sama.

    Misalnya, harga beberapa kali naik mendekati US$110 lalu turun kembali. Di sisi lain, harga juga berulang kali memantul saat mendekati US$100.

    Berarti harga masih bergerak di antara:

    • US$100 sebagai support atau area bawah.

    • US$110 sebagai resistance atau area atas.

    Dalam kondisi ini, pembeli dan penjual belum benar-benar memegang kendali. Harga masih tertahan di dalam range, sehingga arah berikutnya belum terlihat jelas.

    Trader perlu berhati-hati ketika membuka posisi di tengah area sideways. Posisi tersebut sering memiliki jarak yang hampir sama ke support dan resistance, sehingga perbandingan antara risiko dan target menjadi kurang menarik.

    Perlu diingat, sideways tidak otomatis berarti investor besar sedang membeli atau menjual saham secara diam-diam. Chart hanya menunjukkan pergerakan harga dan volume, bukan siapa yang melakukan transaksi.

    Supaya lebih mudah dibaca, lihat bagaimana higher high, higher low, dan perubahan struktur terbentuk langsung pada chart berikut.

    Perbedaan BOS dan CHoCH

    Setelah mengetahui arah market structure, trader biasanya ingin tahu apakah tren masih berlanjut atau mulai berubah.

    Break of Structure (BOS)

    Break of Structure atau BOS terjadi ketika harga menembus titik penting searah dengan tren sebelumnya.

    Dalam uptrend, BOS terjadi ketika harga berhasil melewati puncak sebelumnya. Sebagai contoh, harga naik ke US$110, kemudian turun ke US$105. Setelah itu, harga kembali naik dan menembus US$110.

    Penembusan ini menunjukkan bahwa struktur naik masih berlanjut.

    Dalam downtrend, BOS terjadi ketika harga turun melewati titik rendah sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur turun masih berlanjut.

    Namun, BOS tidak berarti harga pasti akan terus bergerak ke arah yang sama. Harga masih dapat berbalik atau bergerak sideways.

    Change of Character (CHoCH)

    Change of Character atau CHoCH terjadi ketika harga menembus titik penting yang selama ini menjaga tren.

    Misalnya, dalam uptrend harga membentuk higher low di US$105. Selama harga bertahan di atas US$105, struktur naik masih terlihat.

    Jika harga turun dan ditutup di bawah US$105, kondisi ini dapat disebut CHoCH. Artinya, kekuatan tren naik mulai melemah.

    Namun, CHoCH tidak selalu berarti tren langsung berubah menjadi downtrend. Trader masih perlu mengamati apakah harga selanjutnya membentuk lower high dan lower low.

    Cara Membaca Market Structure

    Market structure lebih mudah digunakan jika kamu membaca chart dengan langkah yang sama setiap kali melakukan analisis.

    1. Pilih Timeframe

    Timeframe adalah rentang waktu yang digunakan pada setiap candle di chart.

    Contohnya:

    • Timeframe harian berarti satu candle mewakili pergerakan harga selama satu hari.

    • Timeframe empat jam berarti satu candle mewakili empat jam.

    • Timeframe 15 menit berarti satu candle mewakili 15 menit.

    Untuk melihat arah utama, kamu dapat mulai dari timeframe yang lebih besar, seperti harian atau empat jam.

    Setelah itu, kamu bisa melihat timeframe yang lebih kecil untuk mencari area entry. Hindari terus mengganti timeframe hanya untuk mencari chart yang sesuai dengan pendapatmu.

    2. Tandai Puncak dan Titik Rendah yang Jelas

    Cari titik tempat harga berhenti naik lalu berbalik turun. Titik tersebut dapat disebut puncak atau swing high.

    Kemudian, cari titik tempat harga berhenti turun lalu kembali naik. Titik tersebut dapat disebut swing low.

    Tidak semua gerakan kecil perlu ditandai. Pilih titik yang mudah terlihat tanpa harus memperbesar chart berulang kali.

    3. Tentukan Arah Pasar

    Setelah menemukan beberapa titik, periksa polanya.

    • Puncak dan titik rendah semakin tinggi berarti uptrend.

    • Puncak dan titik rendah semakin rendah berarti downtrend.

    • Harga bergerak di area yang sama berarti sideways.

    Kadang-kadang strukturnya memang belum jelas. Dalam situasi seperti itu, tidak membuka posisi juga merupakan pilihan.

    4. Tentukan Kapan Analisis Dianggap Salah

    Dalam trading, kamu perlu menentukan level yang menunjukkan bahwa analisismu tidak lagi berlaku. Level ini disebut titik invalidasi.

    Misalnya, kamu membeli karena harga sedang membentuk uptrend. Titik invalidasi dapat ditempatkan di bawah titik rendah yang menjaga tren tersebut.

    Kamu perlu mempertimbangkan kembali alasan membeli jika harga menembus batas tersebut.

    Meskipun stop loss dapat membantu membatasi risiko, harga eksekusinya tidak selalu sama dengan level yang dipasang. Saat pasar bergerak cepat, order bisa tereksekusi pada harga yang sedikit lebih tinggi atau lebih rendah.

    5. Lihat Informasi di Luar Chart

    Harga saham tidak hanya bergerak karena faktor teknikal.

    Laporan keuangan, proyeksi bisnis, keputusan suku bunga, dan berita tertentu dapat membuat harga berubah dengan cepat.

    Karena itu, market structure sebaiknya digunakan bersama analisis lainnya. Volume dan pola candlestick dapat memberikan informasi tambahan, tetapi tidak dapat menjamin harga akan bergerak sesuai perkiraan.

    Contoh Lengkap Membaca Market Structure

    Agar lebih mudah dipahami, gunakan contoh hipotetis saham Apple atau AAPL berikut. Angka-angka ini hanya untuk ilustrasi dan bukan harga terbaru atau rekomendasi transaksi.

    Tahap 1: Struktur Naik Mulai Terbentuk

    Harga AAPL naik dari US$180 ke US$195. Setelah itu, harga turun ke US$188 sebelum kembali naik ke US$200.

    Pola yang terbentuk adalah:

    • US$195 menjadi puncak pertama.

    • US$188 menjadi higher low karena masih berada di atas US$180.

    • US$200 menjadi higher high karena berada di atas US$195.

    Ketika harga menembus US$195, struktur naik mendapatkan konfirmasi awal. Kondisi ini disebut bullish BOS.

    Namun, membeli langsung di US$200 belum tentu menjadi pilihan terbaik. Harga baru saja naik dan masih bisa mengalami koreksi.

    Tahap 2: Harga Mengalami Koreksi

    Setelah mencapai US$200, harga turun ke US$192.

    Penurunan ini belum merusak uptrend karena US$192 masih berada di atas titik rendah sebelumnya, yaitu US$188.

    Trader dapat mengamati apakah harga mampu bertahan di sekitar US$192. Jika harga mulai memantul, US$192 dapat menjadi higher low baru.

    Misalnya, seorang trader membeli di US$194 setelah melihat harga mulai naik kembali. Trader tersebut menetapkan titik invalidasi di bawah US$188.

    Alasannya, jika harga turun di bawah US$188, struktur naik yang menjadi dasar pembelian mulai rusak.

    Tahap 3: Harga Melanjutkan Kenaikan

    Harga kemudian naik dari US$192 ke US$205.

    Karena US$205 berada di atas puncak sebelumnya di US$200, harga kembali membentuk higher high.

    Strukturnya sekarang menjadi:

    • Higher low di US$192.

    • Higher high di US$205.

    Selama harga masih menjaga titik rendah penting, struktur naik masih terlihat.

    Trader dapat mempertahankan posisi sesuai rencana. Namun, keputusan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan target, batas risiko, dan durasi trading.

    Tahap 4: Struktur Mulai Melemah

    Setelah menyentuh US$205, harga turun dan ditutup di bawah US$192.

    Penurunan ini dapat disebut bearish CHoCH karena harga menembus higher low yang sebelumnya menjaga uptrend.

    Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa downtrend sudah dimulai.

    Harga kemudian memantul ke US$198, tetapi gagal kembali ke US$205. Setelah itu, harga turun melewati US$188.

    Sekarang susunannya menjadi:

    • US$198 sebagai lower high.

    • Harga di bawah US$188 sebagai lower low.

    Struktur turun mulai terlihat lebih jelas.

    Pelajaran dari Contoh Tersebut

    Dari skenario tersebut, market structure membantu trader untuk:

    • tidak langsung mengejar harga setelah naik tinggi,

    • menunggu koreksi sebelum mempertimbangkan entry,

    • menentukan titik invalidasi berdasarkan chart,

    • mengenali tanda ketika uptrend mulai melemah,

    • tidak langsung menganggap satu penurunan sebagai downtrend,

    • menunggu pola yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan.

    Dua trader tetap bisa mengambil keputusan berbeda walaupun melihat chart yang sama. Perbedaannya dapat berasal dari timeframe, strategi, dan toleransi risiko masing-masing.

    Kesalahan yang Sering Terjadi

    Walaupun terlihat sederhana, market structure sering dibaca secara tidak konsisten.

    Salah satu kesalahan paling umum adalah membuat label setelah mengetahui hasil pergerakan harga. Chart masa lalu memang terlihat lebih rapi karena seluruh pergerakannya sudah selesai.

    Kesalahan lainnya adalah menganggap setiap penembusan harga sebagai sinyal untuk membeli atau menjual. Harga bisa menembus level penting, lalu kembali masuk ke area sebelumnya.

    Trader juga sering menandai terlalu banyak puncak dan titik rendah. Akibatnya, chart menjadi penuh garis dan arah utama justru sulit terlihat.

    Kesalahan lain adalah menganggap semua wick panjang sebagai tindakan institusi yang sedang mengambil stop loss trader. Dari chart saja, kita tidak dapat memastikan siapa yang bertransaksi dan apa tujuannya.

    Gunakan aturan yang konsisten. Catat timeframe, alasan entry, titik invalidasi, dan hasil transaksi agar kamu bisa menilai apakah metode tersebut benar-benar sesuai dengan strategimu.

    Kesimpulan

    Setelah memahami puncak, titik rendah, BOS, dan CHoCH, market structure akan terasa lebih mudah dibaca.

    Market structure membantu kamu melihat arah harga dan menentukan kapan sebuah rencana trading masih berlaku atau perlu dievaluasi kembali.

    Namun, market structure bukan alat yang dapat menjamin keuntungan. Struktur harga hanya membantu menyusun skenario berdasarkan informasi yang sudah tersedia.

    Melalui Gotrade, kamu dapat memantau chart dan mengakses saham AS secara fraksional mulai dari US$1. Tetap sesuaikan setiap transaksi dengan kondisi keuangan, tujuan, dan kemampuanmu dalam menghadapi risiko.

    Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
    Atalya Wian
    Ditulis oleh
    Atalya Wian
    Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
    Baca lebih lanjut
    Hendrie Saputra
    Ditinjau oleh
    Hendrie Saputra
    Expert Reviewer
    Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
    Baca lebih lanjut
    Welcome Rewards

    Artikel terkait

    Dipercaya

    lebih dari

    1M+

    Trader di Indonesia 🌏

    Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

    Gotrade terdaftar & diawasi

    KominfoOJKSOCFintech Indonesia

    Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

     

    Benzinga Global Fintech Awards 2024
    Five Star Award 2024
    Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
    Highest Combined 2022
    Mockup Two Phones

    Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

    #ReadyGoTrade

    Gotrade Green Logo Top Left
    AppLogo

    Gotrade