Blue chip dalam saham artinya saham-saham unggulan dari perusahaan besar yang konsisten menghasilkan keuntungan dari waktu ke waktu. Sifatnya yang cenderung stabil membuat saham ini banyak jadi andalan investor, meski di tengah kondisi pasar yang naik turun (volatil).
Perusahaan-perusahaannya punya pondasi keuangan yang kuat dan tetap jadi top pemain utama di industrinya di perubahan pasar saham (Wall Street). Ketahui apa saja saham blue chip AS yang layak investor pantau di tahun 2026 ini.
Daftar Saham Blue Chip Amerika Serikat 2026
Meski pasar saham Amerika (Wall Street) terus berubah, daftar perusahaan ini punya kondisi keuangan yang sehat dan terbukti tetap relevan selama puluhan tahun. Dirangkum dari US News, berikut merupakan daftar perusahaan yang termasuk top saham blue chip AS 2026:
Altria merupakan perusahaan industri tembakau dan produk konsumen. Perusahaan ini sudah menaikkan dividennya selama 57 tahun berturut-turut. Angka tersebut menjadi jadi salah satu yang terbaik untuk investor.
AKhir-akhir ini, Altria juga mulai merambah bisnis vape dan kantong nikotin agar sumber pendapatannya lebih beragam dan tetap relevan. Model bisnis yang stabil dengan dividen besar membuat Altria jadi pilihan menarik buat investor blue chip.
Kapitalisasi Pasar: $4,6 triliun atau setara Rp82.800 triliun.
Siapa yang tidak kenal perusahaan satu ini? Ya, Apple adalah salah satu merek teknologi yang populer di dunia. Produk-produk ikonik seperti iPhone, Mac, dan iPad, telah menciptakan basis pelanggan yang menghasilkan pendapatan besar.
Layanan dari App Store, Apple TV, iCloud, dan Apple Pay turut menyumbang sekitar seperempat dari total pendapatan Apple yang nilainya lebih dari $100 miliar atau setara Rp1.800 triliun per tahun. Hasil bermargin tinggi dan lini smartphone tersebut menjadikan Apple sebagai perusahaan yang cukup sulit tersaingi serta investasi yang stabil untuk jangka panjang.
Kapitalisasi Pasar: $433,2 miliar atau setara Rp7.797,6 triliun.
Costco berhasil menjadi salah satu model ritel tersukses di dunia. Mereka juga sukses menggabungkan harga murah dan sistem keanggotaan (member). Kini, dengan biaya keanggotaan sebesar $65 per orang jumlah anggotanya lebih dari 80 juta orang.
Dari sistem member tersebut saja, Costco sudah memperoleh pendapatan rutin bahkan sebelum menjual satu produk pun. Tingginya tingkat loyalitas pelanggan dan model bisnis berbasis kebutuhan pokok membuat saham Costco tetap kuat. Performa keuangan yang kuat, manajemen yang disiplin, dan basis anggota yang terus bertumbuh menjadikan Costco pilihan investasi yang menonjol.
Kapitalisasi Pasar: $1 triliun atau setara Rp18.000 triliun.
Eli Lilly adalah salah satu perusahaan farmasi besar di sektor kesehatan. Didirikan sejak 1867, Eli Lily tetap menjadi salah satu perusahaan besar dan inovatif di bidangnya.
Kesuksesan mereka didorong oleh kesuksesan obat penurun berat badan dan diabetesnya seperti Mounjaro dan Zepbound. Eli Lilly punya portofolio kuat di bidang onkologi dan area pengobatan penting lainnya.
Kapitalisasi Pasar: $546,7 miliar atau setara Rp9.840,6 triliun.
J&J termasuk salah satu dari 25 saham terbesar di AS serta dengan peringkat kredit tertinggi (AAA), selain Microsoft. Hal tersebut menjadi kekuatan finansialnya yang luar biasa.
J&J telah menaikkan dividennya secara konsisten selama lebih dari enam dekade. Pencapaian tersebut tentu cuma diraih oleh perusahaan dengan profitabilitas yang konsisten dan operasional yang dapat diandalkan. Dengan model bisnis defensif, J&J tetap menjadi andalan investor yang mengutamakan keamanan.
Kapitalisasi Pasar: $829,1 miliar atau setara Rp14.923,8 triliun.
JPMorgan Chase adalah bank terbesar di AS sekaligus salah satu lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia. Bank ini telah secara konsisten membuktikan mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi sulit (terutama saat krisis keuangan 2008 dan gejolak bank-bank regional di 2023).
Untuk memperkuat posisinya, bank raksasa ini bahkan memanfaatkan momen tersebut untuk mengakuisisi aset dengan harga murah. Kombinasi profitabilitas, stabilitas, dan pertumbuhan dividen dari JPMorgan menjadikannya aset investasi untuk portofolio jangka panjang.
Kapitalisasi Pasar: $3,2 triliun atau setara Rp57.600 triliun.
Microsoft adalah perusahaan teknologi yang masuk lima saham terbesar di Wall Street dengan valuasi lebih dari $3 triliun. Cloud computing menjadi segmen yang menjadi mesin pertumbuhan utama Microsoft, meski produk seperti Windows dan Outlook juga masih menyumbang pemasukan yang signifikan.
Layanan cloud Azure mereka jadi salah satu yang terbesar di dunia yang menguasai sekitar 20% pangsa pasar global. Layanan tersebut juga terus berkembang seiring makin banyak perusahaan berinvestasi pada infrastruktur digital dan AI (kecerdasan buatan). Akuisisi Activision Blizzard baru-baru ini ikut memperkuat divisi game Xbox milik Microsoft.
Kapitalisasi Pasar: $177,4 miliar atau setara Rp3.193,2 triliun.
NextEra Energy adalah perusahaan utilitas publik terbesar di AS yang melayani sekitar 12 juta pelanggan di Florida dan sekitarnya. Umumnya, perusahaan utilitas dianggap sebagai investasi defensif karena kebutuhan listrik relatif stabil terlepas dari kondisi ekonomi.
Melalui komitmennya pada energi terbarukan (termasuk investasi besar di pembangkit listrik tenaga angin dan surya), mereka semakin memperkuat stabilitas sekaligus menjaga relevansi bisnisnya di era perubahan iklim. Kombinasi arus dana yang stabil, pertumbuhan dividen, dan bisnis yang diatur secara ketat menjadikan NEE termasuk saham unggulan di Wall Street.
Kapitalisasi Pasar: $613 miliar atau setara Rp11.034 triliun
Visa adalah perusahaan yang mengoperasikan salah satu jaringan pemrosesan pembayaran terbesar di dunia. Lewat jaringa card, pembayaran seluler, dan teknologi lainnya, Visa mendapatkan lebih dari $14 triliun setiap tahunnya.
Meski dari setiap transaksi Visa memperoleh biaya kecil, skala bisnis yang sangat besar sehingga membuat keuntungannya tetap signifikan. Alasan tersebut membuat Visa tetap menjadi investasi unggulan untuk pertumbuhan jangka panjang.
Kapitalisasi Pasar: $938,1 miliar atau setara Rp16.885,8 triliun.
Walmart merupakan perusahaan peritel terbesar di dunia yang skala bisnisnya besar. Perusahaan ini juga termasuk peritel bahan makanan terbesar di AS dengan kekuatan utama dalam e-commerce. Walmart menjadi salah satu saham blue chip terbaik untuk dipertimbangkan saat ini, berkat skala besar, kepemimpinan pasar, dan ekspansi digitalnya.
Catatan: Daftar blue chip di atas berdasarkan data penutupan pasar saham AS per 3 Juni 2026.
Saham Blue Chip Apakah Aman?
Ya, karena saham blue chip punya rekam jejak baik dan terbukti mampu menghasilkan keuntungan. Karena kinerja saham unggulan ini bisa memberi keuntungan jangka panjang, tak heren saham ini dianggap sebagai investasi yang relatif aman.
Cara Beli Saham Blue Chip
Cara beli saham blue chip tidak jauh berbeda dengan beli saham perusahaan lain pada umumnya. Kamu hanya perlu memastikan platform atau aplikasi yang aman dan terpercaya untuk mengakses bursa saham AS.
Salah satu cara paling praktis untuk membeli saham-saham tersebut yaitu bisa lewat aplikasi Gotrade. Kamu bisa unduh Gotrade lewat App Store ataupun Google Play Store.
Dengan modal mulai dari $1 yang memungkinkan kamu berinvestasi di saham AS langsung dari HP.Ikuti langkah-langkah membeli saham blue chip melalui Gotrade:
Unduh dan buka aplikasi Gotrade, lalu login. Kalau belum punya akun, daftar dulu dan lengkapi proses verifikasinya.
Ketik saham yang ingin dibeli pada kolom pencarian. Contoh: ketik "AAPL" untuk Apple atau "WMT" untuk Walmart.
Masukkan jumlah unit saham atau nominal yang ingin kamu beli.
Cek kembali rincian order, pastikan jumlah dan harganya sudah sesuai yang kamu inginkan.
Konfirmasi pembelian dan transaksi kamu akan langsung diproses.
Setelah berhasil membeli sahamnya, kamu bisa bisa pantau pergerakan harga saham blue chip tersebut. Praktis, bukan?
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.