Saham Minyak Amerika Ikuti Brent di Atas US$100

Ringkasan
- Harga minyak Brent berada di US$105,72 per barel pada 9 Oktober 2026 menurut Fortune, 61,20% lebih tinggi dibanding setahun lalu, dan menjadi penggerak utama saham minyak Amerika seperti ExxonMobil.
- Lonjakan dipicu serangan kapal di Selat Hormuz dan penutupan sementara pipa East-West Arab Saudi, yang menurut Euronews mendorong Brent menembus US$108 per barel pada 14 September 2026.
- EIA dalam Short-Term Energy Outlook 6 Oktober 2026 menaikkan proyeksi rata-rata Brent 2026 menjadi US$96 per barel dari US$91, dan memperkirakan US$84 untuk 2027.
- Menurut Bullstory, ExxonMobil dijadwalkan merilis laporan kuartal III 2026 pada 23 Oktober 2026, sementara EIA akan merilis proyeksi berikutnya pada 10 November 2026.
Saham minyak Amerika bergerak mengikuti harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel sejak pertengahan September 2026, setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz mengetatkan pasokan global. Bagi investor saham AS, sektor ini penting karena harga minyak setinggi itu langsung memengaruhi pendapatan dan arus kas perusahaan produsen minyak terbesar di bursa Amerika.
Brent di Atas US$100: Gangguan Pasokan Timur Tengah Jadi Pemicu
Pemicu utama datang dari kawasan Teluk. Dilansir Euronews, pada 14 September 2026 harga Brent untuk pengiriman Oktober dan November naik lebih dari 3% hingga menembus US$108 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$103. Kenaikan itu terjadi setelah sebuah kapal dagang diserang di Selat Hormuz dan Arab Saudi menutup sementara pipa East-West, jalur utama yang membawa minyak mentah ke pelabuhan Laut Merah tanpa melewati selat tersebut.
Euronews mengutip Lipow Oil Associates yang memperkirakan sekitar 1,2 juta barel per hari pasokan terganggu akibat situasi di sekitar Hormuz, ditambah sekitar 800.000 barel per hari dari larangan ekspor diesel Rusia. Menurut sumber yang sama, aliran minyak melalui Hormuz kini sekitar 7 juta barel per hari, jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang.
Tekanan berlanjut pada awal Oktober. Melansir OilPrice.com, Brent kembali ke atas US$100, di level US$101,49 per barel, dengan WTI di US$90,14, setelah otoritas Saudi mengonfirmasi serangan terhadap dua bandara, salah satunya di Jazan yang menjadi lokasi kilang Aramco berkapasitas 400.000 barel per hari. Pada artikel yang sama, Menteri Energi Saudi menyebut aliran pipa East-West telah pulih ke 5,8 juta barel per hari.
Waktu | Harga Brent (US$ per barel) |
|---|---|
Setahun lalu | 65,58 |
Sebulan lalu | 101,01 |
8 Oktober 2026 | 108,33 |
9 Oktober 2026 | 105,72 |
Menurut data Fortune, Brent berada di US$105,72 per barel pada 9 Oktober 2026, turun US$2,61 (2,40%) dari hari sebelumnya, tetapi masih 61,20% lebih tinggi dibanding setahun lalu.
Proyeksi EIA: Brent Rata-Rata US$96 pada 2026
Lembaga energi pemerintah AS ikut merevisi angka. Menurut Short-Term Energy Outlook EIA yang dirilis 6 Oktober 2026, rata-rata harga Brent tahun 2026 diproyeksikan US$96 per barel, naik dari proyeksi sebelumnya US$91, dan US$84 untuk 2027. EIA menyebut ketatnya pasar diesel yang menaikkan permintaan minyak mentah serta serangan terhadap pipa Arab Saudi sebagai sumber potensi volatilitas aliran minyak. EIA juga memperkirakan produksi minyak mentah AS mencapai 13,9 juta barel per hari pada 2026 dan 14,3 juta barel per hari pada 2027.
Mengapa Harga Minyak Tinggi Mengalir ke Kinerja Produsen AS
Bagi perusahaan yang memompa minyak sendiri, harga jual per barel yang lebih tinggi pada dasarnya menambah margin, karena sebagian besar biaya produksi tidak ikut naik secepat harga. Dilansir 24/7 Wall St. via Yahoo Finance, kenaikan WTI mencerminkan gangguan pasokan Timur Tengah dan ketatnya pasar produk BBM, dan hal itu berdampak langsung pada keuangan perusahaan energi besar.
Sisi lainnya juga perlu diperhitungkan. Harga energi yang tinggi menekan konsumen: Euronews mencatat rata-rata harga diesel di AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, dengan bensin di US$4,22 per galon. Harga energi yang mahal ikut mendorong inflasi, dan proyeksi EIA sendiri memperkirakan Brent turun ke US$84 pada 2027, sehingga kondisi harga saat ini tidak bisa diasumsikan bertahan.
ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips di Tengah Lonjakan Minyak
Melansir The Motley Fool, tiga perusahaan energi terbesar yang tercatat di bursa AS berdasarkan kapitalisasi pasar per 2 Oktober 2026 adalah ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips.
Perusahaan | Ticker | Kapitalisasi pasar (2 Okt 2026) |
|---|---|---|
ExxonMobil | US$694,7 miliar | |
Chevron | US$418,8 miliar | |
ConocoPhillips | US$161,1 miliar |
Menurut 24/7 Wall St. via Yahoo Finance per 10 September 2026, saham ExxonMobil naik 40% sepanjang tahun ke US$164,83, sementara Chevron naik 44% dan ETF Energy Select Sector (XLE) naik 48%. Sumber yang sama mencatat ExxonMobil membukukan laba kuartal II 2026 sebesar US$14,5 miliar dengan arus kas bebas lebih dari US$17 miliar, serta produksi Permian mencapai rekor 1,8 juta barel setara minyak per hari. Angka tersebut menggambarkan seberapa besar paparan perusahaan terhadap harga minyak, bukan indikasi arah harga saham ke depan.
Yang Perlu Dipantau: Laporan Kuartal III dan Rilis EIA 10 November
Beberapa agenda sektor akan menunjukkan seberapa besar harga minyak kuartal III masuk ke kinerja perusahaan. Menurut Bullstory, ExxonMobil dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III 2026 pada 23 Oktober 2026. Laporan ini akan menjadi salah satu tolok ukur pertama dampak harga Brent di atas US$100 terhadap laba produsen besar.
Selain itu, EIA akan merilis Short-Term Energy Outlook berikutnya pada 10 November 2026, yang akan memperbarui proyeksi harga dan produksi. Perkembangan pipa East-West Arab Saudi dan arus kapal di Selat Hormuz juga tetap menjadi faktor yang dapat menggerakkan harga minyak, ke atas maupun ke bawah.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat investasi. Keputusan investasi ada di tangan kamu setelah melakukan riset mandiri.
Mau mulai investasi saham AS mulai dari $1? Buka akun Gotrade dan mulai hari ini.
Sumber
Short-Term Energy Outlook (U.S. Energy Information Administration)
Oil surges past $108 as Hormuz attack and Saudi pipeline shutdown rattle markets (Euronews)
Brent Back Above $100 as Houthis Hit Saudi Infrastructure (OilPrice.com)
The Largest Energy Companies by Market Cap in October 2026 (The Motley Fool)
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.












