Apa Itu Inflasi? Ini Ciri, Contoh, hingga Dampaknya di Kehidupan

Kholida QothrunnadaKholida QothrunnadaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Apa Itu Inflasi? Ini Ciri, Contoh, hingga Dampaknya di Kehidupan

Ringkasan Gotrade

  • Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara berkelanjutan yang menyebabkan nilai uang dan daya beli masyarakat menurun.
  • Penyebab inflasi dapat berasal dari faktor domestik, seperti tingginya permintaan dan kenaikan biaya produksi, serta faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas impor.
  • Dampak inflasi yang paling terasa adalah menurunnya daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
  • Cara mengatasi inflasi melibatkan kebijakan pemerintah, baik moneter maupun fiskal, serta strategi pengelolaan keuangan dan investasi di tingkat individu.

Inflasi adalah istilah untuk kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam suatu periode waktu tertentu. Hadirnya inflasi membuat nilai uang menurun. Dengan nominal yang sama, dalam hal ini kamu bisa membeli lebih sedikit barang dibanding sebelumnya.

Dalam artikel ini akan dibahas seputar apa itu nflasi, penyebab inflasi, dampak inflasi terhadap ekonomi dan kehidupan sehari-hari, hingga cara mengatasi inflasi baik di level kebijakan negara maupun keuangan pribadi.

Apa Itu Inflasi

Secara definisi, Suparmono dalam ebook bertajuk Buku Ajar Pengantar Ilmu Ekonomi Teori dan Aplikasi, menyebut inflasi adalah situasi peningkatan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan. Kata "umum" merujuk bahwa kenaikannya tidak terjadi pada satu barang saja, melainkan meluas ke berbagai kelompok barang keseluruhan atau biaya hidup suatu negara.

Baca juga: Indeks S&P 500: Karakteristik hingga Cara Investasinya

Inflasi juga bisa dihitung secara lebih sempit yakni untuk barang-barang tertentu. Contohnya makanan, atau untuk jasa, seperti potong rambut, misalnya.

Apa pun konteksnya, inflasi merujuk pada seberapa mahal harga barang dan/atau jasa yang bersangkutan dalam periode waktu tertentu. Periode waktu yang paling umumnya adalah satu tahun.

Ciri-ciri Inflasi

Dirangkum dari laman International Monetary Fund (IMF), secara umum berikut adalah beberapa tanda dari inflasi:

Baca juga: Saham Undervalued: Ini Ciri hingga Cara Ceknya, Apakah Bagus?

1. Jumlah Uang yang Beredar Terlalu Tinggi

Saat jumlah uang yang beredar tumbuh lebih cepat daripada perekonomian, daya beli uang dapat menurun. Hal ini menyebabkan harga barang dan jasa cenderung naik.

2. Biaya Produksi yang Meningkat (Cost Push Inflation)
Perusahaan cenderung menaikkan harga jual barang dan jasa saat inflasi. Kenaikan harga mencakup bahan baku, energi, atau biaya produksi lainnya.

3. Permintaan Terlalu tinggi (Demand Pull Inflation)
Harga barang dan jasa dapat terdorong naik karena inflasi. Hal itu dikarenakan adanya permintaan masyarakat meningkat lebih cepat daripada kemampuan produksi.

4. Gangguan Pasokan
Bencana alam, kelangkaan bahan baku, atau gangguan produksi dapat mengurangi jumlah barang yang tersedia sehingga harganya meningkat.

5. Ekspektasi Kenaikan Harga
Apabila masyarakat dan perusahaan memperkirakan harga akan naik, mereka bisa menaikkan upah atau harga jual. Kondisi tersebut bisa mendorong inflasi.

Pengukuran Inflasi lewat Indeks Harga Konsumen (IHK)

Kenaikan harga hanya disebut inflasi (jika terjadi secara luas dan terus-menerus dalam periode tertentu). Hal ini umumnya diukur lewat IHK yang dirilis rutin setiap bulan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Saat inflasi terjadi, nilai riil uang menurun. Artinya, dengan jumlah uang yang sama, daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya.

Alur inflasi diukur.

Sebagai gambaran terkini, berdasarkan laporan resmi statistik No.85/09/2026, per 1 September 2026 BPS, mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia sebesar 3,19% pada Agustus 2026. Angka tersebut naik dari 2,88% di bulan sebelumnya, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,97.

Kelompok perawatan pribadi (didorong kenaikan harga emas perhiasan) dan transportasi (bensin, tarif angkutan udara) menjadi penyumbang utama kenaikan ini.

Contoh dampaknya pada daya beli: Misal, kamu punya tabungan Rp10.000.000 di rekening (didiamkan tanpa diinvestasikan) selama setahun. Sementara, inflasi tahunan berada di level 3,19% (sesuai data BPS Agustus 2026).

Nah, secara nominal, uang kita akan tetap Rp10.000.000, tapi daya belinya setara dengan sekitar Rp9.690.000 di awal tahun. Maksudnya, ini seolh kamu "kehilangan" daya beli sekitar Rp310.000 cuma karena efek inflasi (meski nominal uang kamu tidak berkurang sama sekali).

Penyebab Inflasi

Secara umum, Inflasi disebabkan karena adanya harga barang dan jasa naik secara luas dan berlangsung dalam periode tertentu. Beberapa faktor umum yang mendorong terjadinya inflasi di antaranya:

Faktor Internal

1. Permintaan Barang dan Biaya Produksi yang Meningkat
Saat permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa meningkat, ini akan membuat kemampuan produksi yang menyebabkan harga cenderung naik. Sejalan dengan hal tersebut, kondisi ini akan diikuti dengan kenaikan harga bahan baku, energi, upah, atau biaya produksi lainnya yang mendorong perusahaan menaikkan harga jual.

2. Meningkatnya Jumlah Uang yang Beredar
Pertumbuhan jumlah uang beredar yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi barang dan jasa dapat meningkatkan tekanan terhadap harga.

3. Ekspektasi Inflasi
Menurut Bank Indonesia (BI), ekspektasi inflasi adalah persepsi dan harapan masyarakat serta pelaku ekonomi terhadap kenaikan harga di masa depan. Hal tersebut bisa memengaruhi keputusan konsumsi, investasi, penetapan harga, dan upah.

Ekspektasi inflasi bisa dibedakan menjadi dua yakni, adaptif (berdasarkan pengalaman atau data inflasi masa lalu) dan forward looking (berdasarkan perkiraan terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan di masa depan).

Faktor Eksternal

1. Kenaikan Harga Komoditas Global
Komoditasnya seperti harga minyak, pangan, emas, dan komoditas lainnya di pasar global. Ini akan meningkatkan biaya produksi dan harga barang di dalam negeri.

2. Harga Barang Impor Naik

Saat harga barang atau bahan baku dari luar negeri meningkat, biaya impor menjadi lebih mahal. Inilah yang mendorong kenaikan harga di dalam negeri.

Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa berbagai faktor tersebut dapat terjadi secara bersamaan. Dalam studi Bernanke dan Blanchard (2025) di American Economic Journal, Macroeconomics menganalisis sumber lonjakan inflasi AS pasca-pandemi dan menemukan bahwa sebagian besar lonjakan itu berasal dari guncangan pada harga, seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok, bukan terutama dari pasar tenaga kerja yang terlalu panas, meski pasar tenaga kerja yang ketat memberi efek yang lebih persisten pada pertumbuhan upah dan inflasi.

Sementara itu, Studi yang dilakukan Ball, Leigh, dan Mishra (2022) yang dimuat Brookings Papers on Economic Activity, menguraikan lonjakan inflasi AS era COVID menjadi kenaikan inflasi inti akibat mengetatnya pasar tenaga kerja (rasio lowongan kerja terhadap pengangguran) dan perembesan (pass-through) dari guncangan harga headline, di mana guncangan headline itu sendiri sebagian besar bersumber dari kenaikan harga energi dan masalah rantai pasok.

Jenis-jenis Inflasi

Berdasarkan tingkat keparahannya, secara umum inflasi dibagi menjadi empat kategori yakni ringan, sedang, berat, hingga hiper. Berikut penjelasannya.

Jenis Inflasi

Ciri-ciri

Inflasi ringan

Kenaikan harga di bawah 10% per tahun, dampaknya belum terlalu terasa bagi ekonomi

Inflasi sedang

Kenaikan harga mulai terasa oleh masyarakat, daya beli mulai menurun

Inflasi berat

Kenaikan harga signifikan, masyarakat kesulitan membeli barang-barang penting

Hiperinflasi

Inflasi ekstrem, uang kehilangan nilainya dengan sangat cepat, berpotensi merusak stabilitas ekonomi secara keseluruhan

Selain berdasarkan tingkat keparahan, inflasi juga bisa dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu inflasi domestik (dipicu faktor dalam negeri) dan inflasi yang dipicu faktor luar negeri, seperti kenaikan harga komoditas global.

Perbedaan Inflasi dan Deflasi

Jika inflasi artinya kenaikan harga barang/jasa, kebalikannya adalah deflasi yaitu penurunan harga barang/jasa secara terus menerus dalam periode tertentu. Berikut adalah beberapa poin bedanya inflasi dan deflasi:

Aspek

Inflasi

Deflasi

Arah harga

Naik secara umum serta berkelanjutan

Turun secara umum, bisa berkelanjutan

Dampak pada nilai uang

Menurun (daya beli melemah)

Meningkat (daya beli menguat)

Risiko utama

Kalau terlalu tinggi, daya beli masyarakat bisa menurun.

Perlambatan ekonomi yang disebabkan karena konsumsi dan investasi tertahan

Menariknya, menurut data BPS Indonesia sempat mengalami deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,14% pada Juli 2026. Walaupun secara tahunan tetap mencatatkan inflasi 2,88%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa deflasi bulanan sesaat tidak selalu berarti tren inflasi tahunan sudah berbalik arah. Keduanya perlu dibaca dalam konteks periode yang berbeda.

Meski deflasi terdengar seperti hal baik, tapi dalam skala besar dan berkepanjangan, deflasi cenderung justru bisa jadi sinyal masalah ekonomi yang serius. Alasannya, karena masyarakat biasanya akan menunda pembelian sambil menunggu harga turun lebih jauh (pada akhirnya bisa memperlambat roda perekonomian secara keseluruhan).

Dampak Inflasi

  • Daya beli menurun → Kenaikan harga membuat berkurangnya kemampuan masyarakat membeli barang/jasa.

  • Biaya hidup meningkat → Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat perlu mengeluarkan lebih banyak uang.

  • Nilai tabungan menurun → Kalau inflasi lebih tinggi daripada imbal hasil tabungan, nilai riil uang yang disimpan bisa berkurang.

  • Perencanaan keuangan terganggu → Tingginya inflasi membuat biaya dan nilai uang di masa depan lebih sulit diperkirakan.

  • Mempengaruhi dunia usaha → Kenaikan biaya produksi bisa mengurangi keuntungan atau mendorong perusahaan menaikkan harga.

Cara Mengatasi Inflasi

Secara umum, cara mengatasi inflasi bisa dilihat dari dua level yakni kebijakan dari pemerintah (negara) dan strategi individu.

Level Negara

Di level kebijakan negara, biasanya pemerintah dan bank sentral menggunakan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan untuk mengurangi jumlah uang beredar).

Ada juga kebijakan fiskal seperti mengatur pengeluaran dan penerimaan pemerintah, termasuk kebijakan pajak. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga inflasi tetap berada di level yang terkendali.

Level Individu

Di level individu, kita juga bisa melakukan pengelolaan uang untuk menghadapi dampak inflasi. Di antaranya:

  1. Kelola anggaran dengan lebih disiplin: Dengan prioritaskan kebutuhan dasar, dan tunda pembelian barang (sifatnya konsumtif dan belum mendesak).

  2. Siapkan dana darurat: Tujuannya agar kamu tidak perlu menjual aset investasi di saat yang kurang tepat hanya karena kebutuhan mendesak akibat kenaikan harga.

  3. Pertimbangkan investasi: Cara ini menjadi strategi menjaga nilai uang. Pasalnya, instrumen seperti saham secara historis punya potensi pertumbuhan nilai yang bisa membantu mengimbangi laju inflasi dalam jangka panjang (meski tetap mengandung risiko fluktuasi).

Kaitan Inflasi dengan Saham

Inflasi dan pasar saham atau trading juga punya hubungan yang cukup erat. Hal ini penting dipahami, sebelum kamu menjadikan saham sebagai salah satu strategi menghadapi inflasi.

Di satu sisi, uang tunai yang hanya disimpan diam (idle cash) akan tergerus nilainya oleh inflasi dari waktu ke waktu. Inilah yang jadi alasan investor mempertimbangkan instrumen seperti saham.

Mengapa? karena secara historis harga saham dan pendapatan perusahaan berpotensi tumbuh seiring waktu, sehingga bisa membantu mengimbangi laju inflasi. Meskipun begitu, tentu saja tetap ada risiko fluktuasi harga yang perlu dipahami.

Di sisi lain, inflasi juga bisa memengaruhi pasar saham secara tidak langsung lewat kebijakan suku bunga. Saat inflasi tinggi, bank sentral (seperti Federal Reserve di AS atau BI) cenderung menaikkan suku bunga acuan untuk meredam inflasi.

Kenaikan suku bunga tersebut bisa membuat biaya pinjaman perusahaan lebih mahal dan menekan valuasi saham. Khususnya untuk perusahaan yang pertumbuhannya sangat bergantung pada pembiayaan utang.

Sebaliknya, beberapa sektor tertentu (energi atau komoditas) hal itu malah berpotensi diuntungkan saat inflasi tinggi. Pasalnya, karena harga jual produk mereka ikut naik.

Jika hubungan antara inflasi dan saham cukup kompleks dan tidak selalu berbanding lurus, penting bagi investor untuk tidak menyamaratakan semua saham akan bergerak sama saat inflasi naik atau turun. Dalam hal ini, investor perlu tetap melakukan riset terhadap sektor dan perusahaan spesifik yang dipertimbangkan.

Diversifikasi ke Saham AS untuk Hadapi Inflasi lewat Gotrade

Salah satu cara memperluas strategi pengelolaan keuangan menghadapi inflasi adalah dengan mendiversifikasi investasimu ke pasar yang lebih luas. Contohnya ke saham dan ETF AS yang bisa diakses lewat Gotrade.

Diversifikasi ke berbagai sektor, termasuk sektor yang secara historis cenderung lebih tahan terhadap tekanan inflasi. Ini akan membantu menjaga keseimbangan portofolio dibandingkan hanya bergantung pada satu pasar atau sektor. Buka akun Gotrade sekarang dan mulai investasi saham AS dari $1.

Kesimpulan

Inflasi adalah fenomena ekonomi di mana ada kenaikan harga terus menerus dalam periode waktu. Hal ini tidak bisa sepenuhnya dihindari, namun dampaknya bisa dikendalikan dan diantisipasi.

Dampaknya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti meningkatnya biaya hidup, berkurangnya nilai riil tabungan, serta semakin sulitnya perencanaan keuangan. Untuk menghadapinya, pemerintah perlu menggunakan kebijakan moneter dan fiskal, sementara individu dapat mengelola anggaran, menyiapkan dana darurat, hingga mempertimbangkan investasi untuk membantu menjaga nilai uang dalam jangka panjang.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Kholida Qothrunnada
Ditulis oleh
Kholida Qothrunnada
Kholida Qothrunnada adalah editor sekaligus konten strategis dengan latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman 4+ tahun sebagai reporter ekonomi-bisnis di media nasional. Fokus topik dan minat: keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku