Negara Berkembang Pimpin Kenaikan Suku Bunga Lawan Inflasi
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Bank sentral negara berkembang memimpin gelombang kenaikan suku bunga saat tekanan inflasi global kembali memanas. Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.
Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah memaksa banyak bank sentral memperketat kebijakan moneter lebih cepat. Pasar kini memperkirakan ECB akan menyusul dengan kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni.
Poin Utama
Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin ke 5,25 persen pada 20 Mei 2026.
Inflasi tahunan empat ekonomi besar zona euro tetap tinggi sepanjang Mei.
Pasar memperkirakan ECB menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Juni.
Dilansir Trading Economics, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026. Itu menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral sejak April 2024.
Langkah tersebut bertujuan memperkuat rupiah dan menahan risiko inflasi impor. Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga fasilitas simpanan ke 4,75 persen dan fasilitas pinjaman ke 6,0 persen.
Tekanan harga ini turut memengaruhi sentimen terhadap eksposur pasar berkembang seperti Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO). Investor mencermati apakah pengetatan moneter mampu menstabilkan nilai tukar mata uang lokal dalam beberapa bulan ke depan.
Pengetatan di dalam negeri juga relevan bagi instrumen yang berfokus pada Indonesia seperti iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO). Arah suku bunga acuan memengaruhi biaya pendanaan emiten domestik.
Dilansir Trading Economics, inflasi tahunan Indonesia tercatat 2,42 persen pada April 2026. Angka itu turun dari 3,48 persen pada Maret, masih dalam rentang target bank sentral.
Kenaikan suku bunga di sejumlah negara berkembang menandakan kekhawatiran serupa terhadap tekanan harga energi dan barang impor. Banyak bank sentral memilih bertindak lebih awal ketimbang menunggu inflasi semakin tertanam dalam ekonomi domestik mereka.
ECB Diperkirakan Menyusul
Menurut Euronews, inflasi terharmonisasi Prancis mencapai 2,8 persen secara tahunan pada Mei 2026. Angka itu menjadi level tertinggi sejak Februari 2024.
Italia mencatat inflasi 3,3 persen pada Mei, naik dari 2,8 persen pada April. Spanyol melaporkan estimasi awal inflasi 3,6 persen yang didorong biaya transportasi.
Melansir Euronews, pasar kini sepenuhnya memperhitungkan satu kenaikan 25 basis poin pada pertemuan ECB bulan Juni. Dua kenaikan diperkirakan terjadi hingga September dengan peluang kenaikan ketiga sebesar 92 persen.
Menurut European Central Bank, Dewan Pengurus sebelumnya menahan tiga suku bunga utama pada 30 April 2026. Suku bunga fasilitas simpanan tetap berada di 2,00 persen.
ECB menyatakan konflik Timur Tengah memicu kenaikan tajam harga energi yang menekan sentimen ekonomi. Bank sentral menegaskan komitmen menjaga inflasi stabil di target 2 persen jangka menengah.
Menurut Euronews, inflasi terharmonisasi Jerman justru melandai ke 2,6 persen pada Mei dari 2,9 persen pada April. Namun inflasi inti tetap naik, sehingga ECB belum bisa lengah terhadap tekanan harga.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut menggeser minat terhadap obligasi pemerintah AS jangka panjang seperti iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT). Investor menimbang kembali eksposur durasi di tengah ketidakpastian arah inflasi global beberapa kuartal mendatang.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.