Gotrade News - Bitcoin merosot sekitar 6% ke bawah USD67.000 pada Selasa (3/6), menyentuh level terendah sejak 5 April. Likuidasi kripto menembus USD1 miliar dalam hitungan jam, terbesar sejak Februari menurut data CoinGlass.
Tekanan datang dari memanasnya tensi geopolitik Iran dan aksi jual besar oleh whale yang menutup posisi long. Narasi Bitcoin sebagai inflation hedge kian melemah, kontras dengan saham AI dan ekuitas AS yang justru menguat berkat harapan damai.
Key Takeaways
Bitcoin turun ~6% ke bawah USD67.000, sekitar 50% di bawah all-time high USD126.000 Oktober lalu.
Likuidasi pasar kripto menembus USD1 miliar, terbesar sejak Februari.
Saham terkait kripto seperti MSTR, COIN, dan HOOD berisiko ikut tertekan.
Pemicu Aksi Jual
Menurut Bloomberg Technoz, harga Bitcoin merosot ~6% ke bawah USD67.000 pada Selasa (3/6). Level itu menjadi titik terendah sejak 5 April tahun ini.
Aksi jual dipicu kekhawatiran geopolitik Iran yang kembali memanas. Whale besar juga menutup posisi long, memperdalam tekanan jual di pasar spot dan derivatif.
Data CoinGlass mencatat likuidasi pasar kripto menembus USD1 miliar hanya dalam beberapa jam. Volume itu menjadi yang terbesar sejak Februari lalu.
Investor di saham kripto seperti Strategy Inc (MSTR) ikut waspada. Begitu pula nasib bursa COIN dan broker ritel HOOD yang sensitif terhadap volume trading kripto.
Penurunan tajam Bitcoin kontras dengan ekuitas AS yang justru menghijau. Saham AI dan blue chip menguat berkat sinyal damai dari sejumlah front geopolitik.
Pasar derivatif kripto mencatat tingkat funding rate negatif setelah aksi jual. Kondisi itu mencerminkan posisi short yang lebih agresif menjelang sesi Asia.
Narasi Inflation Hedge
Dilansir Bloomberg Technoz, Bitcoin terkoreksi 36% dalam setahun terakhir. Harga sempat jatuh di bawah USD70.000 pekan ini, terendah sejak 2025.
Investor menarik dana dari produk Bitcoin ETF dalam beberapa pekan terakhir. Arus keluar ini menandakan minat institusional yang menurun terhadap aset kripto.
Tensi geopolitik mendorong permintaan ke aset safe-haven tradisional. Emas dan obligasi Treasury AS menjadi pilihan utama investor global pekan ini.
Narasi Bitcoin sebagai pelindung inflasi melemah meski kekhawatiran inflasi baru muncul. Lonjakan konsumsi listrik akibat ekspansi data center AI menjadi pemicu utama.
Melansir laporan Vildana Hajric dari Bloomberg News, posisi Bitcoin sebagai aset alternatif kini dipertanyakan. Kinerja tahunan yang minus 36% memperburuk persepsi investor jangka pendek.
Tekanan harga Bitcoin membayangi prospek saham proksi kripto di pasar AS. Volatilitas tinggi membuat trader ritel lebih selektif dalam menambah eksposur.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.