Gotrade News - Pasar kripto longsor pada awal Juni 2026 setelah Bitcoin tergelincir ke kisaran $69.000, menembus level psikologis $70.000. Solana menyusul dengan jatuh di bawah $80, mencatat penurunan mingguan sekitar 5,4% di seluruh kerangka waktu.
Tekanan utama berasal dari inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari ekspektasi dan kegagalan negosiasi damai AS dengan Iran. Ancaman blokade Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak global dan inflasi lanjutan.
Poin Utama
Bitcoin turun ke sekitar $69.000 dan Solana jatuh di bawah $80 imbas tekanan inflasi dan geopolitik.
MicroStrategy menarik $1,5 miliar surat utang konversi dengan diskon sebagai langkah manajemen liabilitas.
Tiga koin altcoin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tengah penurunan pasar yang lebih luas.
Pemicu Aksi Jual Aset Kripto
Menurut Watcher.guru, Solana terakhir kali menyentuh kisaran ini pada awal April 2026. Penurunan dipicu ketegangan geopolitik setelah perundingan AS dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan.
Data inflasi AS bulan April 2026 yang melampaui konsensus memperkuat kekhawatiran pasar. Federal Reserve berpotensi mempertahankan atau menaikkan suku bunga, sehingga menekan valuasi aset berisiko termasuk kripto.
Dilansir Watcher.guru, koreksi Bitcoin di bawah $70.000 juga disertai kekhawatiran blokade Selat Hormuz. Jalur ini krusial bagi pasokan minyak global sehingga risiko gangguan memicu lonjakan harga energi.
Sentimen negatif ini menekan saham bursa kripto seperti Coinbase Global (COIN) dan penambang seperti MARA Holdings (MARA). Pergerakan keduanya umumnya berkorelasi tinggi dengan harga Bitcoin di pasar spot.
Melansir Seeking Alpha, Strategy (MSTR) menarik $1,5 miliar surat utang konversi dengan harga diskon. Langkah ini dibingkai sebagai manajemen liabilitas, bukan sinyal mundur dari strategi akumulasi Bitcoin.
Produk kredit digital STRC yang dijamin Bitcoin melampaui $10 miliar nilai beredar dalam sembilan bulan. Produk tersebut juga menghasilkan lebih dari $693 juta pembayaran dividen sejak peluncurannya.
Metrik kunci perusahaan tetap solid dengan BTC per saham tumbuh 12,6% sejak awal tahun. Manajemen menilai pertumbuhan BTC per saham mengalahkan dampak akuntansi dari volatilitas harga Bitcoin.
Penarikan obligasi ini mengurangi risiko dilusi pemegang saham dan beban liabilitas masa depan. Pendekatan ini berbeda dari pola sebelumnya yang menggunakan hasil penerbitan untuk langsung membeli Bitcoin tambahan.
Di tengah koreksi, tiga altcoin justru mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Hyperliquid mencapai $75,48 didukung peluncuran ETF spot dan program buyback dari proyek tersebut.
Koin Humanity menembus $0,8439 mengikuti tren investasi kecerdasan buatan, sementara LAB naik ke $19,52 berkat pembaruan dan musim reward baru. Watcher.guru mengingatkan reli ini berpotensi mencerminkan FOMO investor ketimbang fundamental berkelanjutan.
XRP juga menjadi sorotan dengan analis Cheeky Crypto memperkirakan peluang breakout 53% dari pola descending broadening wedge. Skenario bullish menargetkan kisaran $7 hingga $11, sedangkan skenario bearish mengarah ke $0,32.
Level $3,00 menjadi batas bullish kritis dan $1,11 merupakan support kuat sejak rebound Februari 2026. Analis memperingatkan XRP masih bisa menghadapi volatilitas tinggi sebelum pergerakan besar terjadi.
Bagi investor ritel Indonesia, saham proksi kripto seperti COIN, MSTR, dan MARA memberikan eksposur tidak langsung ke pergerakan Bitcoin. Ketiganya cenderung bergerak searah dengan harga BTC spot, sehingga koreksi tajam Bitcoin biasanya menekan valuasi saham tersebut.
Latar belakang makro berupa inflasi AS yang lengket dan ketegangan geopolitik membantu menekan minat terhadap aset berisiko. Kombinasi ini memberikan dorongan kuat bagi investor untuk memantau ulang alokasi portofolio jangka pendek.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.