Bitcoin Reli ke ~US$86-87 Ribu Lalu Terkoreksi

Key Takeaways
Bitcoin menyentuh kisaran US$86 ribu, tertinggi delapan bulan, sebelum terkoreksi ke sekitar US$85.200.
Reli dipicu likuidasi short ratusan juta dolar dan arus masuk ETF spot mendekati US$1 miliar dalam sehari.
Zona US$85.000-US$87.000 menjadi resistensi kunci; kegagalan bertahan bisa memicu konsolidasi.
Gotrade News - Harga Bitcoin sempat melesat ke kisaran US$86 ribuan pada perdagangan awal pekan ini sebelum terkoreksi tipis, menandai level tertinggi dalam delapan bulan terakhir di tengah gelombang likuidasi posisi short. Menurut Investing News Network (INN), Bitcoin sempat menyentuh US$86.603 atau naik sekitar 6,9% dalam 24 jam, sementara CoinDesk mencatat harga terakhir berada di sekitar US$85.197 setelah pullback dari puncaknya.
Reli ini dipicu perbaikan likuiditas, penurunan harga minyak mentah, dan derasnya arus masuk (inflow) ke ETF Bitcoin spot. Melansir CoinDesk, arus masuk pada Senin mencapai hampir US$1 miliar, salah satu inflow harian terbesar sepanjang sejarah, meski pekan sebelumnya sempat diwarnai arus keluar. Lonjakan harga lalu memaksa likuidasi besar-besaran posisi short, yang justru menambah tekanan beli.
Skala likuidasi menjadi sorotan utama reli kali ini. Menurut CoinDesk, sekitar US$750 juta posisi short terlikuidasi saat Bitcoin menembus resistensi di US$82.000, sementara INN mencatat total likuidasi short mencapai sekitar US$846 juta dalam 24 jam. Jim Ferraioli dari Schwab, seperti dikutip CoinDesk, menyebut Bitcoin naik sekitar 5% pagi itu karena kontrak perpetual futures short yang dilikuidasi.
Metrik | Nilai |
|---|---|
Puncak reli (INN) | ~US$86.603 (+6,9% 24 jam) |
Harga setelah koreksi (CoinDesk) | ~US$85.197 |
Resistensi yang ditembus | US$82.000 |
Zona resistensi berikutnya | US$85.000-US$87.000, lalu US$90.000 |
Likuidasi short (24 jam) | ~US$750 juta (CoinDesk) / ~US$846 juta (INN) |
Arus masuk ETF (Senin) | hampir US$1 miliar |
Rekor tertinggi sebelumnya (Okt 2025) | US$126.000 |
Dari sisi makro, reli tetap terjadi meski The Fed menaikkan suku bunga dengan nada hawkish dan Senat AS gagal meloloskan Clarity Act. Melansir INN, Bank of Japan turut menaikkan bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, harga minyak Brent menyentuh titik terendah setengah bulan, dan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 4,93%. Kombinasi pelemahan yield dan harga minyak menjadi latar yang mendukung aset berisiko.
Kenaikan Bitcoin biasanya turut mengangkat saham-saham AS yang terkait erat dengan kripto. Emiten bursa kripto seperti Coinbase (COIN) kerap bergerak searah dengan harga Bitcoin, terlebih setelah kabar SEC membuka peluang tokenisasi saham. Perusahaan treasury kripto Strategy (MSTR), menurut INN, kembali menambah 950 BTC senilai US$75,7 juta sehingga total kepemilikannya mencapai 846.000 BTC, sementara saham penambang seperti MARA Holdings (MARA) juga sensitif terhadap ayunan harga Bitcoin. Saham-saham AS ini dapat diakses investor Indonesia lewat platform seperti Gotrade.
Meski momentum positif, sejumlah analis mengingatkan risiko konsolidasi. Menurut CoinDesk, sekitar US$2 miliar eksposur berleverage baru masuk ke pasar futures sejak breakout, sehingga pasar rentan koreksi tajam jika harga gagal bertahan. Nicolai Sondergaard dari Nansen menilai harga berbalik bullish lebih cepat dari posisi pasar, sementara Jasper De Maere dari Wintermute membaca reclaim ini sebagai konfirmasi bahwa titik terendah Juni bertahan. Bagi trader, memahami pivot point serta level resistensi dan support di zona US$85.000-US$87.000 menjadi penting, begitu pula disiplin market timing agar tidak masuk tepat di puncak.
Sebagian pelaku pasar menyebut fase ini sebagai awal siklus bullish baru. Chris Sullivan dari Hyperion Decimus, dikutip CoinDesk, menggambarkan lonjakan ini sebagai gelombang reli primer pertama dari pasar bullish baru, sementara The Kobeissi Letter, melansir INN, menyebut kripto tengah memasuki bull market baru. Kendati demikian, Bitcoin masih berada jauh di bawah rekor tertinggi US$126.000 yang dicetak pada Oktober 2025.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














