Pivot Point: Cara Hitung, Jenis, dan Strategi Tradingnya

Ringkasan Gotrade
- Pivot point adalah level referensi yang dihitung dari data harga periode sebelumnya untuk membentuk pivot, support, dan resistance.
- Level seperti S1, S2, R1, dan R2 sebaiknya digunakan untuk membaca respons harga bersama tren, volume, dan price action.
- Hasil pivot bisa berbeda tergantung jenis perhitungan, timeframe, dan data sesi yang digunakan.
Sebelum market AS mulai bergerak aktif trader sebenarnya sudah bisa memiliki beberapa level harga sebagai referensi untuk sesi berikutnya. Level seperti pivot, support, dan resistance tersebut bisa dihitung menggunakan data harga dari periode sebelumnya. Inilah fungsi utama dari pivot point.
Pivot point memberikan peta awal mengenai area harga yang bisa diperhatikan sebelum melihat bagaimana market bereaksi. Tetapi, pivot point bukanlah sebuah prediksi bahwa harga pasti akan memantul di support atau berhenti di resistance. Level tersebut lebih tepat digunakan sebagai reference point untuk membaca respons harga dan menyusun skenario trading.
Apa Itu Pivot Point?
Pivot point adalah level harga yang dihitung dari data periode sebelumnya untuk membantu trader memetakan area support dan resistance pada periode berikutnya. Dalam versi standar perhitungannya akan menggunakan tiga data utama dari periode sebelumnya yaitu high, low, dan close.
Menurut Fidelity pivot utama digunakan untuk menjadi dasar dalam menghitung level support dan resistance yang berada di atas maupun di bawahnya.
Secara umum:
P = Pivot Point
R = Resistance
S = Support
Sebagai contoh jika daily pivot digunakan untuk sesi hari selasa dan data yang digunakan biasanya berasal dari sesi yang terjadi di hari senin.
Saat market dibuka maka level seperti P, R1, R2, S1, dan S2 sudah bisa digunakan sebagai reference map.
Tetapi level ini bukanlah sinyal yang pasti. Ketika S1 bukan berarti harga akan memantul, dan R1 bukan berarti harga akan berhenti naik.
Maka dari itu pivot point lebih tepat digunakan sebagai area referensi yang tetap perlu untuk dibaca bersamaan dengan price action, tren, volume saham, dan konteks pasar.
Cara Menghitung Pivot Point
Untuk versi standarnya pivot point bisa dihitung dari harga tertinggi, terendah, dan penutupan pada periode sebelumnya.
Rumus Pivot Point
P = (High + Low + Close) ÷ 3
Setelah mendapatkan nilai P, level support dan resistance bisa dihitung dengan cara:
R1 = (2 × P) − Low
S1 = (2 × P) − High
R2 = P + (High − Low)
S2 = P − (High − Low)
Contoh Perhitungan Pivot Point
Sebagai contoh perhitungan misalnya sesi sebelumnya memiliki:
High: US$110
Low: US$100
Close: US$106
Maka langkah pertama yang dapat kamu lakukan adalah dengan menghitung pivot utamanya:
P = (110 + 100 + 106) ÷ 3 = US$105,33
Kemudian akan menjadi:
R1 = (2 × 105,33) − 100 = US$110,67
S1 = (2 × 105,33) − 110 = US$100,67
R2 = 105,33 + (110 − 100) = US$115,33
S2 = 105,33 − (110 − 100) = US$95,33
Maka hasilnya adalah:
Level | Harga |
R2 | US$115,33 |
R1 | US$110,67 |
Pivot | US$105,33 |
S1 | US$100,67 |
S2 | US$95,33 |
Level seperti R3 dan S3 juga bisa kamu hitung tetapi rumusnya bisa berbeda bergantung pada jenis pivot dan platform yang digunakan. Karena itu, kamu harus gunakan metodologi yang konsisten saat membandingkan hasilnya.
Cara Membaca Pivot Point
Cara paling sederhana membaca pivot point adalah melihat posisi harga terhadap pivot utama serta respon harga di sekitar level support dan resistance.
Misalnya:
Pivot = US$105,33
Current price = US$108
Saat harga berada di atas pivot, kondisi tersebut sering dibaca sebagai konteks intraday yang lebih bullish. Sebaliknya, saat harga yang berada di bawah pivot hal ini sering dianggap memberikan konteks yang lebih bearish.
Menurut Investopedia posisi harga terhadap pivot mampu membantu membentuk directional bias sementara level support dan resistance di sekitarnya akan digunakan sebagai referensi.
Tetapi, kamu jangan mengubahnya menjadi aturan sederhana seperti:
harga > pivot = buy
harga < pivot = sell
Harga bisa saja berada sedikit di atas pivot ketika tren masih turun, volume lemah atau berkali-kali gagal dalam mempertahankan level tersebut. Karena itu, pivot lebih baik digunakan sebagai reference level yang dikonfirmasi melalui perilaku harga.
Level pivot juga sebaiknya tidak dianggap sebagai satu titik harga yang harus disentuh secara presisi. Misalnya saat S1 berada di US$100,67 tetapi harga bisa saja mulai bereaksi di US$100,60 atau US$100,80.
Fidelity menjelaskan bahwa support dan resistance merupakan area tempat tekanan beli atau jual dapat mempengaruhi pergerakan harga.
Jadi, meskipun pivot menghasilkan angka yang presisi, respons pasar di sekitarnya akan lebih tepat jika dibaca sebagai area.
Jenis-Jenis Pivot Point
Ada beberapa jenis pivot point yang menggunakan formula berbeda, yaitu sebagai berikut:
1. Traditional Pivot
Pivot ini menggunakan high, low, dan close pada periode sebelumnya untuk menghitung pivot utama serta level support dan resistance.
2. Classic Pivot
Classic pivot mirip dengan traditional pivot tetapi beberapa rumus level support dan resistance nya dapat berbeda.
3. Fibonacci Pivot
Fibonacci Pivot menggunakan pivot dasar yang serupa tetapi level support dan resistance nya dihitung menggunakan rasio Fibonacci seperti 0,382, 0,618, dan 1,000.
Metode ini berbeda dari Fibonacci retracement karena kamu tidak perlu memilih swing high dan swing low secara manual.
4. Woodie Pivot
Woodie memberikan bobot berbeda dalam menghitung pivot. Dalam implementasinya menggunakan rumus:
P = (Previous High + Previous Low + 2 × Current Open) ÷ 4
Karena metode perhitungannya dapat berbeda antar platform maka kamu perlu melakukan pemeriksaan pada formula yang digunakan sebelum membandingkan hasil.
5. Camarilla Pivot
Camarilla menggunakan previous close dan rentang harga sebelumnya untuk menghasilkan beberapa level support dan resistance.
Jumlah levelnya biasanya lebih banyak sehingga trader bisa melihat beberapa area harga di sekitar penutupan periode sebelumnya.
6. DeMark Pivot
DeMark atau DM menggunakan perhitungan yang bergantung pada hubungan antara previous open dan previous close.
Formula dasarnya berubah tergantung apakah harga penutupan berada di atas, di bawah atau sama dengan harga pembukaan. Dari hasil tersebut akan mulai dihitung level support dan resistance utamanya.
Kenapa Pivot Point di Dua Platform Bisa Berbeda?
Hasil pivot point di dua platform bisa berbeda-beda meskipun menggunakan saham yang sama. Penyebabnya biasanya berasal dari jenis pivot, timeframe atau data sesi yang digunakan.
Misalnya, Traditional, Woodie, dan Fibonacci yang memakai formula berbeda. Daily dan weekly pivot juga akan menggunakan periode input yang berbeda.
Untuk saham AS, perbedaan juga bisa muncul berdasarkan penggunaan data regular session dan extended hours. TradingView menjelaskan bahwa sumber data yang digunakan mampu memengaruhi level pivot yang dihasilkan.
Karena itu, sebelum membandingkan hasil, kamu harus memeriksa kembali pivot type, timeframe dan session data yang ada.
Coba gunakan widget berikut untuk menghitung pivot point sekaligus membandingkan bagaimana perubahan pivot type, timeframe, dan data sesi mampu menghasilkan level support dan resistance yang berbeda.
Strategi Menggunakan Pivot Point
Pivot point lebih berguna jika digunakan sebagai bagian dari skenario trading bukannya sebagai sinyal yang dibaca sendirian, perhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Amati Reaksi Harga di Area Pivot
Misalnya S1 berada di US$100,67 maka ketika harga mendekati level tersebut kamu jangan langsung menganggapnya sebagai sinyal buy.
Perhatikan juga apakah muncul rejection, reclaim, perubahan struktur harga atau peningkatan volume. Jika harga justru menembus S1 dengan momentum kuat maka skenario reversal bisa menjadi kurang relevan.
2. Perhatikan Breakout di Resistance
Jika harga menembus R1 kamu harus lihat kembali apakah breakout tersebut mampu bertahan dan apakah level R1 kemudian berfungsi sebagai support saat terjadi retest.
Tetap ingat kembali bahwa breakout belum tentu akan berlanjut. Harga masih bisa kembali turun dan menghasilkan false breakout.
3. Gunakan Pivot sebagai Konteks
Harga di atas pivot bisa memberi konteks yang lebih bullish tetapi sebaiknya tetap dibaca bersamaan dengan struktur harga, volume, dan kondisi pasar.
Jadi, kamu jangan hanya menggunakan:
above P = bullish
Akan lebih berguna jika kamu baca sebagai:
above P + price structure + volume + market context
4. Cari Confluence
Level pivot bisa menjadi lebih relevan ketika berada dekat dengan area teknikal lain, seperti previous swing high, resistance sebelumnya, VWAP, moving average atau level psikologis.
Tetapi, hindari menggunakan terlalu banyak indikator hanya untuk mencari konfirmasi. Fokuslah pada faktor yang memang menjadi bagian dari trading plan.
Pivot Point vs Support-Resistance vs Fibonacci Retracement
Ketiganya sama-sama digunakan untuk mencari level penting pada chart tetapi sumber perhitungannya tetap berbeda. Perhatikan tabel berikut ini:
Aspek | Pivot Point | Support-Resistance | Fibonacci Retracement |
Basis | OHLC periode sebelumnya | Reaksi harga sebelumnya | Swing high dan swing low |
Formula | Ya | Tidak selalu | Ya |
Perlu memilih swing | Tidak | Bisa | Ya |
Level berubah | Setiap periode pivot | Saat struktur berubah | Saat swing berubah |
Output | P, S, R | Area support/resistance | Level retracement |
Fungsi utama | Referensi level awal | Membaca struktur harga | Mengukur kedalaman pullback |
Tidak ada satu metode yang selalu lebih baik. Pivot point lebih rules-based, support-resistance lebih bergantung pada struktur harga sedangkan Fibonacci retracement lebih menggunakan hubungan antar-swing.
Gunakan Pivot Point sebagai Referensi Bukannya Sinyal Tunggal
Pivot point membantu trader memetakan area support dan resistance berdasarkan data harga periode sebelumnya.
Level tersebut bisa digunakan sebagai referensi sebelum sesi berkembang tetapi bukanlah batas yang harus dipatuhi harga. Harga tetap bisa memantul, menembus level, mengalami false breakout, atau bahkan gap melewati area pivot.
Hasil pivot juga bisa berbeda tergantung jenis pivot, timeframe, dan data sesi yang digunakan. Karena itu, gunakan pivot point sebagai referensi bersama struktur harga, volume, kondisi pasar, dan pengelolaan risiko.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau chart saham AS yang sedang dipelajari dan melihat bagaimana harga bereaksi di sekitar level pivot.
Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham AS yang ingin kamu analisis.
Referensi
TradingView, “Poin Pivot Standar.”
Fidelity Investments, “Support and Resistance.”
Investopedia, “Unlock Market Trends with the Pivot Points Trading Strategy.”
Fidelity Investments, “Pivot Points (Resistance and Support).”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














