Gotrade News - Blokade Selat Hormuz berdampak langsung ke Indonesia setelah dua kapal tanker Pertamina tertahan di kawasan tersebut. Situasi ini mempertegas betapa rentannya rantai pasokan energi nasional terhadap konflik geopolitik global.
Key Takeaways
- Dua kapal Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, tertahan di perairan Saudi Arabia dan Dubai sejak awal Maret 2026
- Selat Hormuz mengalirkan 20 juta barel minyak per hari dan seperlima perdagangan LNG global
- Pemerintah Iran merespons positif permintaan Indonesia, namun belum ada timeline pasti pembebasan kapal
Pertamina Pride saat ini berada di perairan Al Jubail, Saudi Arabia, sementara Gamsunoro berada di dekat Dubai. Kedua kapal tersebut tertahan di posisi yang sama sejak awal Maret 2026 akibat pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz.
Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina, menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz. Pertamina juga menjaga komunikasi intensif dengan seluruh kru di kedua kapal tanker tersebut.
Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary Pertamina, mengonfirmasi koordinasi aktif dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedubes RI di Teheran. Pertamina International Shipping turut dilibatkan bersama pihak asuransi untuk mengawal proses penyelesaian.
Dampak Blokade terhadap Jalur Energi Global
Selat Hormuz merupakan jalur kritis yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari ke pasar global. Jalur ini juga menampung seperlima dari total perdagangan LNG dunia, menjadikannya titik paling strategis di peta energi.
Dalam kondisi normal, lebih dari 130 kapal melintas setiap hari melalui selat sempit tersebut. Namun pada hari pertama blokade, hanya 8 kapal yang tercatat melintas, termasuk 3 tanker terkait Iran.
Enam kapal dilaporkan mematuhi perintah Amerika Serikat dan kembali ke pelabuhan Iran. Kapal Rich Starry menjadi salah satu kapal pertama yang keluar dari Teluk membawa sekitar 250.000 barrel metanol.
Negosiasi Diplomatik Indonesia-Iran
Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Iran untuk Indonesia, menyatakan kapal harus melalui proses negosiasi dengan otoritas Iran. Pemerintah Iran sendiri telah merespons positif terhadap permintaan yang diajukan pihak Indonesia.
Meski sinyal diplomatik terlihat konstruktif, belum ada timeline pasti kapan kedua kapal Pertamina bisa kembali berlayar. Ketidakpastian ini menjadi tantangan bagi perencanaan pasokan energi domestik dalam jangka pendek.
Indonesia sebagai negara importir energi memiliki ketergantungan signifikan terhadap jalur laut internasional seperti Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan bahan bakar di pasar dalam negeri.












