Harga Emas Anjlok ke Level Terendah 7 Pekan, Antam Turun

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

Harga Emas Anjlok ke Level Terendah 7 Pekan, Antam Turun

Key Takeaways

  • Emas spot ditutup di US$4.127,3 per troy ons, level terendah sejak 5 Agustus.

  • Yield Treasury 10 tahun di atas 5,2% dan peluang kenaikan bunga Fed Oktober sebesar 70,3% menekan emas.

  • Emas Antam turun Rp17.000 ke Rp2.580.000 per gram, buyback turun Rp47.000.

Gotrade News - Harga emas dunia anjlok ke level terendah dalam tujuh pekan setelah lonjakan yield obligasi AS dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menekan logam mulia. Menurut Bloomberg Technoz, harga emas di pasar spot ditutup di US$4.127,3 per troy ons, ambrol 3,68% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu dan menjadi yang terendah sejak 5 Agustus.

Pelemahan itu ikut menekan harga emas Antam di dalam negeri. Pada Selasa (29/9/2026), emas Antam dibanderol Rp2.580.000 per gram, turun Rp17.000 dari hari sebelumnya, sementara harga buyback anjlok Rp47.000 ke Rp2.375.000 per gram, masih menurut Bloomberg Technoz.

Instrumen

Harga

Perubahan

Emas spot dunia (penutupan Senin, 28/9)

US$4.127,3/troy ons

-3,68%

Emas Antam (Selasa, 29/9)

Rp2.580.000/gram

-Rp17.000

Buyback Antam (Selasa, 29/9)

Rp2.375.000/gram

-Rp47.000

Yield Treasury 5,2% dan Taruhan Kenaikan Bunga Fed

Melansir Stocktwits via Yahoo Finance, tekanan datang dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS, penguatan dolar, dan naiknya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang mengalahkan permintaan aset aman (safe haven) dari konflik Iran yang masih berlangsung. Yield Treasury tenor 10 tahun kembali naik di atas 5,2%, sedangkan tenor 30 tahun menembus 5,3%.

Baca juga: Yield Jepang 2 Tahun Dekati 2%, BOJ Buka Peluang Naik Cepat

Pelaku pasar kini melihat peluang 70,3% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari 64,2% sehari sebelumnya berdasarkan alat CME FedWatch, seperti dilaporkan Stocktwits. Menurut Investing.com, yield 10 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun, sehingga biaya memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, ikut naik.

Faktor energi turut memperberat tekanan. Investing.com mencatat harga minyak melanjutkan kenaikan karena Iran tetap bertahan pada syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Teheran untuk membuka kembali jalur tersebut dalam tujuh hari. Analis ANZ menilai kenaikan harga energi semakin memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dalam waktu dekat.

Saham Newmont dan Barrick Ikut Tertekan

Menurut Stocktwits, harga perak spot turun hampir 5% ke sekitar US$61,17 per ons. Laporan yang sama mencatat emas spot sudah melemah 4,2% sejak awal tahun, sedangkan perak spot turun hampir 15%.

Baca juga: Outlook Pasar AS Pekan Ini: PCE, Micron, Data Kerja

Saham emiten tambang di bursa AS ikut terseret pada sesi pra-pasar Senin. Saham Newmont (NEM) turun 4,6% dan Barrick (B) melemah 2,4%, sementara sentimen ritel di Stocktwits terhadap SPDR Gold Shares (GLD) berada di zona bearish dan terhadap iShares Silver Trust (SLV) di zona netral.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyebut ketahanan emas kini menghadapi ujian terberatnya. Menurut Hansen, permintaan ETF emas masih solid, tetapi jika kondisi keuangan yang lebih ketat memicu perburuan dana tunai, likuiditas emas yang dalam justru bisa menjadikannya sumber dana dan menambah tekanan jual jangka pendek, meski risiko fiskal dan keuangan jangka panjang tetap menopang.

Emas Rebound Tipis Jelang Data PCE

Pada Selasa, harga emas mulai bergerak naik tipis. Menurut Investing.com, pada pukul 11.13 WIB (04.13 GMT) emas spot (XAU/USD) naik 0,4% ke US$4.131,10 per ons, meski masih berada di dekat level terendah tujuh pekan. Emas tercatat sudah turun sekitar 7% sepanjang September, padahal sempat menyentuh kisaran US$4.510 awal bulan ini.

Selanjutnya, pasar akan mencermati data inflasi personal consumption expenditures (PCE) pada Rabu, acuan inflasi yang paling diperhatikan The Fed, serta laporan nonfarm payrolls pada Jumat untuk mencari petunjuk arah suku bunga, seperti dilaporkan Investing.com.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku