Gotrade News - Harga emas bergerak terbatas di kisaran USD4.475 per ons saat dua kekuatan geopolitik saling menarik arah. Permintaan safe haven menopang logam mulia, sementara harapan perdamaian Timur Tengah menahan laju kenaikan.
Menurut IDX Channel, emas spot naik 0,91 persen ke USD4.475,29 per ons pada Kamis. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi menjadi penopang utama pergerakan harga.
Key Takeaways
Emas spot bergerak di kisaran USD4.475 per ons saat dolar AS melemah.
Gencatan senjata Israel-Lebanon menekan dolar namun membatasi lonjakan harga.
Arah jangka pendek bergantung pada hasil perundingan AS-Iran yang belum pasti.
Sentimen safe haven masih kuat karena gejolak geopolitik di Timur Tengah belum benar-benar reda. Investor cenderung memburu emas sebagai lindung nilai saat ketegangan kawasan menambah ketidakpastian pasar.
Logam mulia lain ikut menguat, dengan perak naik ke USD73,52 per ons pada sesi yang sama. Platinum dan paladium juga mencatat kenaikan tipis sekitar satu persen seiring permintaan aset safe haven.
Namun di sisi lain, kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon memunculkan optimisme baru terhadap stabilitas kawasan. Harapan damai ini justru menahan laju kenaikan emas karena mengurangi urgensi pembelian aset aman.
Menurut Liputan6, pedagang logam Tai Wong menilai berita gencatan senjata menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Faktor itu membantu emas bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari yang dianggap level teknikal penting.
Wong menambahkan bahwa rekor harga baru memerlukan gencatan senjata permanen dengan Iran. Tanpa kepastian itu, harga emas cenderung bergerak sideways tanpa arah yang tegas dalam jangka pendek.
Ketidakpastian perundingan AS-Iran menjadi variabel kunci yang menahan emas dari lonjakan lebih lanjut. Harga oil pun turun lebih dari tiga persen seiring ekspektasi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kombinasi dolar AS yang melemah sekitar 0,2 persen dan imbal hasil obligasi yang turun menjadi bahan bakar emas. Kedua faktor itu membuat logam mulia lebih menarik dibanding aset berbunga bagi para investor global.
Melansir Kompas, lembaga Metals Focus memproyeksikan rata-rata emas USD4.920 per ons pada paruh kedua 2026. Angka itu masih jauh di bawah rekor USD5.595 per ons yang tercatat pada Januari lalu.
World Gold Council menilai faktor geopolitik tetap menjadi elemen sentral dalam prospek permintaan emas global. Tema ini relevan bagi investor Indonesia yang mendiversifikasi portofolio ke pasar AS di tengah ketidakpastian.
Metals Focus bahkan memperkirakan investasi emas fisik akan melampaui permintaan perhiasan secara global untuk pertama kalinya. Pergeseran struktural itu menandakan minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai utama tetap kuat.
Investor yang ingin eksposur ke tema emas dapat melirik VanEck Gold Miners ETF (GDX) sebagai keranjang saham tambang emas. Pilihan saham tunggal mencakup Newmont (NEM) dan Agnico Eagle Mines (AEM) yang kinerja sahamnya cenderung mengikuti pergerakan harga logam mulia.
Untuk saat ini pasar global memilih menunggu kejelasan dari meja perundingan sebelum mengambil posisi besar. Emas tetap menjadi lindung nilai favorit, namun arah jangka pendeknya akan ditentukan oleh hasil resolusi geopolitik kawasan tersebut.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.