Gotrade News - Harga emas spot anjlok 1,84 persen ke USD 4.482,11 per ons troy pada perdagangan Selasa (19/5), menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Kontrak emas berjangka Comex pengiriman Juni juga melemah 1 persen ke USD 4.511,20 per ons troy.
Penurunan dipicu penguatan dolar AS dan lonjakan yield obligasi Treasury 10 tahun ke level tertinggi lebih dari satu tahun. Kombinasi dua faktor ini menggerus daya tarik emas sebagai aset lindung nilai tanpa imbal hasil.
Key Takeaways
- Emas spot melemah 1,84 persen ke USD 4.482,11 per ons troy, terendah sejak akhir Maret.
- Yield Treasury 10 tahun menyentuh level tertinggi lebih dari satu tahun dan menekan logam mulia.
- Logam industri lain ikut tertekan, perak anjlok 5,7 persen dan platinum melemah 2,8 persen.
Pemicu Tekanan Emas
Menurut IDX Channel, yield Treasury 10 tahun berada di level tertinggi lebih dari satu tahun saat sesi perdagangan ditutup. Kondisi ini membuat investor memilih aset berbunga ketimbang emas yang tidak menawarkan kupon.
Edward Meir dari Marex menyatakan tekanan emas berasal dari kenaikan suku bunga riil global dan penguatan dolar AS. Penguatan greenback membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar.
Dilansir Liputan6, sebagian data menunjukkan emas spot bahkan sempat anjlok 2 persen ke USD 4.474,40 per ons troy. Kontrak Comex Juni di sesi yang sama tercatat melemah 1,8 persen ke USD 4.476,80 per ons troy.
Tekanan turut menyebar ke logam mulia lain pada sesi yang sama. Perak terjun 5,7 persen ke USD 73,25, platinum melemah 2,8 persen ke USD 1.923,55, sementara paladium tergerus 3,3 persen ke USD 1.371,25.
Pelemahan logam mulia ikut menekan saham-saham penambang emas global. Pelaku pasar memantau pergerakan saham produsen besar seperti Newmont (NEM) dan Agnico Eagle Mines (AEM) sebagai indikator sensitivitas margin terhadap harga emas.
Arah Berikutnya
Melansir Bloomberg Technoz, harga emas spot tercatat USD 4.486,1 per ons troy pada pukul 07:05 WIB Selasa, turun 0,12 persen dari penutupan sebelumnya. Penutupan sebelumnya berada di USD 4.491,4 per ons troy setelah merosot 1,65 persen.
Faktor geopolitik turut menambah volatilitas pada perdagangan logam mulia. Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran dalam beberapa hari ke depan, memperkeruh sentimen di pasar komoditas global.
Ole Hansen, Head of Commodities Strategy di Saxo Bank, menilai alasan struktural berinvestasi pada emas tetap utuh meski terjadi koreksi tajam. Ia memperkirakan permintaan bank sentral dapat kembali dominan setelah tekanan dari sisi energi mereda.
Investor yang ingin mengambil eksposur terhadap pemulihan harga emas dapat mencermati instrumen seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX). Produk ini menawarkan diversifikasi terhadap saham-saham penambang emas tanpa harus memilih satu emiten tunggal.
Pergerakan dolar AS akan tetap menjadi penentu utama arah emas dalam jangka pendek. Selama yield Treasury bertahan di level tinggi, ruang penguatan emas diperkirakan terbatas hingga muncul katalis baru.
Korelasi antara harga emas dan saham penambang biasanya menguat saat sentimen logam mulia memburuk secara cepat. Pelaku pasar dapat memantau divergensi pergerakan saham penambang sebagai sinyal awal pemulihan harga emas global.
Volatilitas tinggi membuat pengelolaan ukuran posisi menjadi lebih krusial bagi investor ritel yang mengikuti tren komoditas. Strategi bertahap dengan horizon menengah biasanya lebih sesuai dibanding masuk penuh saat harga sedang berfluktuasi tajam.












