Harga Minyak Ambles 5%, Sinyal Damai AS-Iran Menguat
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Harga minyak mentah ambles sekitar 5% pada Rabu (27/5) ke level terendah lebih dari sebulan terakhir. Pelemahan dipicu sinyal kemajuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasokan.
Penurunan tajam ini memberikan tekanan langsung ke saham energi global. Investor melepas posisi pada produsen migas besar AS seiring meredanya premi risiko geopolitik di pasar komoditas.
Key Takeaways
Brent turun 5,31% ke USD 94,29 per barel dan WTI melemah 5,55% ke USD 88,68 per barel.
Keduanya menyentuh level terendah sejak 17 April, terpangkas oleh sinyal kemajuan damai AS-Iran.
Saham energi besar seperti Exxon, Chevron, dan Halliburton ikut tertekan oleh penurunan harga komoditas.
Menurut IDX Channel, harga minyak jatuh ke posisi terendah sejak 17 April lalu. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyebut ada kemajuan dalam negosiasi perdamaian dengan Iran.
Televisi negara Iran turut melaporkan draf awal kerangka perjanjian Iran-AS sudah disiapkan. Laporan tersebut langsung memicu aksi jual masif di pasar minyak global.
Tekanan ke Saham Energi AS
Penurunan harga minyak memberikan dampak negatif ke produsen migas besar AS. Saham Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) ikut tertekan seiring pelemahan komoditas inti.
Saham penyedia jasa ladang minyak juga terdampak signifikan. Halliburton (HAL) mengikuti pola tekanan jual yang sama bersama emiten energi lainnya di Wall Street.
Dilansir Kabar Bursa, Brent sempat anjlok 5% ke USD 94,16 pada sesi awal perdagangan. WTI bahkan sempat turun 6% ke USD 87,77 pada sesi yang sama.
Sehari sebelumnya minyak justru menguat 3,6% setelah laporan serangan militer AS terhadap Iran. Pembalikan arah ini mencerminkan volatilitas tinggi di pasar komoditas pekan ini.
Komentar Pelaku Pasar dan Risiko Lanjutan
Presiden Donald Trump menyatakan Iran sangat ingin membuat kesepakatan, namun AS belum puas. Marco Rubio menambahkan ada sedikit kemajuan menuju kesepakatan damai antara kedua negara.
Dennis Kissler dari BOK Financial menyebut kontrak minyak menghadapi tekanan jual masif. Sentimen ini muncul setelah pemimpin militer Iran menyebut probabilitas konflik baru rendah.
International Energy Agency mengingatkan risiko ekstrem masih membayangi pasar minyak global. Penutupan Selat Hormuz dapat menghilangkan 14 juta barel per hari dari pasokan dunia.
Melansir Kompas, sebelumnya muncul kekhawatiran minyak bisa tembus USD 150 per barel. Lompatan harga sebesar itu berpotensi memicu masalah inflasi global yang lebih luas.
Pasar kini menanti kelanjutan negosiasi damai sebagai katalis utama arah harga minyak. Setiap perkembangan diplomatik dapat memicu pergerakan tajam di saham energi besar AS.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.