Harga Minyak Melonjak Usai Trump Ancam Iran

Rendy AndriyantoRendy Andriyanto
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Bagikan artikel

Harga Minyak Melonjak Usai Trump Ancam Iran

Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan baru ke Iran. Menurut Kompas, Brent naik $3,86 atau 5,2% ke $78,02 per barel, level tertinggi sejak 19 Juni, sementara WTI menguat $3,08 atau 4,4% ke $73,52 per barel, tertinggi sejak 22 Juni.

Lonjakan intraday sempat mendekati 9% sebelum mereda setelah Trump menegaskan tidak berniat memulai perang berskala penuh. Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan membuka kemungkinan serangan baru setelah Iran menyerang pangkalan militer AS dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Key Takeaways

  • Brent naik 5,2% ke $78,02 dan WTI naik 4,4% ke $73,52 per barel.
  • Ancaman serangan baru Trump ke Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan lewat Selat Hormuz.
  • Saham energi AS berpotensi terangkat mengikuti kenaikan harga minyak.

Ancaman Baru Trump dan Ketegangan Selat Hormuz

Trump menegaskan gencatan senjata sementara dengan Iran sudah tidak berlaku. Melansir Bloomberg Technoz, Brent bahkan sempat naik hampir 7% dan menembus $80 per barel pada sesi Rabu, sedangkan WTI menguat 6%, menempatkan harga di level tertinggi dalam dua minggu. US Central Command (Centcom) mengonfirmasi serangan malam kedua ke Iran, dan eskalasi ini memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari salah satu kawasan penghasil energi utama dunia.

Baca juga: Gotrade Daily: Musim Laba Big Tech Dibuka Rabu Ini

Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif. Sebagai jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, gangguan sekecil apa pun di kawasan itu bisa mengguncang keseimbangan pasokan dan permintaan energi dunia. Dilansir Beritasatu, ancaman Trump untuk kembali menyerang Iran sempat mendorong harga minyak melaju hingga sekitar 8% secara intraday sebelum sebagian koreksi terjadi.

Dampak ke Saham Energi AS

Kenaikan harga minyak biasanya menjadi angin segar bagi emiten energi. Produsen minyak dan gas seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) berpotensi merasakan sentimen positif ketika harga Brent dan WTI naik, karena margin dari lini hulu ikut membaik. Investor yang ingin mengambil eksposur lebih luas ke sektor ini juga kerap mencermati SPDR Energy Select ETF (XLE) yang menampung sejumlah nama besar di industri energi AS.

Meski begitu, arah harga minyak ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Analis Jorge Leon dari Rystad Energy, seperti dikutip Kompas, menilai perkembangan terbaru "secara signifikan melemahkan keyakinan" bahwa gencatan senjata 60 hari bisa berlanjut menjadi damai permanen. Ketidakpastian ini membuat pasar minyak, dan saham-saham energi yang bergerak seiringnya, rentan terhadap volatilitas tinggi dalam waktu dekat.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Rendy Andriyanto
Ditulis oleh
Rendy Andriyanto

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade