AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.
Bagikan artikel
Gotrade News - Harga minyak dunia nyaris menyentuh US$100 per barel setelah eskalasi konflik AS-Iran memicu lonjakan mingguan hampir 9%, sebuah pergerakan yang menekan Rupiah ke level 17.774 per dolar dan mengangkat saham energi AS. Menurut Liputan6, Brent crude diperdagangkan di US$95,63 per barel (naik sekitar 1%) sementara WTI berada di US$91,01 per barel. Ketegangan geopolitik yang membayangi Selat Hormuz kini menjadi risiko utama yang dicermati pasar global, karena setiap gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia berpotensi menyeret harga energi lebih tinggi dan membebani mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
Key Takeaways
Brent crude nyaris menyentuh US$100 dengan kenaikan mingguan hampir 9% akibat konflik AS-Iran.
Rupiah melemah ke 17.774 per dolar seiring tekanan harga minyak dan penguatan indeks dolar AS.
Saham energi AS berpotensi diuntungkan dari lonjakan harga minyak yang berkelanjutan.
Serangan Militer AS ke Fasilitas IRGC
Lonjakan harga minyak berakar pada eskalasi militer di kawasan Teluk. Dilansir Liputan6, militer AS menuntaskan serangan ke fasilitas Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 2 September, menyasar pertahanan udara, radar, aset maritim, kemampuan ranjau, hingga jaringan komunikasi. Iran membalas dengan menyerang posisi AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Pasar mengkhawatirkan kelanjutan konflik ini akan mengganggu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Selat Hormuz mencatat transit 17 juta barel pada Senin, tertinggi sejak perang dimulai akhir Februari, meski masih di bawah aliran normal pra-perang. Menurut Liputan6, Menteri Energi AS Chris Wright menyebut baseline pra-perang berada di kisaran 20 juta barel per hari, sehingga penurunan volume transit menjadi sinyal ketatnya pasokan yang mengalir dari kawasan tersebut.
Retorika dari Washington menambah ketidakpastian. Dalam pernyataan Presiden AS Donald Trump di Truth Social yang dikutip Liputan6, ia menyatakan tidak berusaha memaksa Iran kembali ke meja perundingan. "Saya jauh lebih menyukai posisi kami saat ini, dengan kendali nyaris penuh atas Selat Hormuz," ujar Trump.
Sikap tegas ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa harga minyak akan bertahan di level tinggi dalam waktu dekat. Melansir Bloomberg Technoz, Trump juga menegaskan pihaknya "siap untuk melakukannya lagi" terkait serangan, sebuah pernyataan yang mendorong lonjakan 9% selama tiga sesi berturut-turut dengan WTI di kisaran US$91 per barel dan Brent di bawah US$96 pada penutupan Rabu.
Analis Melihat Peluang Resolusi Damai
Meski begitu, sejumlah pelaku pasar menilai lonjakan ini belum tentu permanen. Menurut Dennis Kissler, VP Senior Trading BOK Financial Securities Inc. sebagaimana dikutip Bloomberg Technoz, eskalasi terbaru memang menopang pasar, namun kedua pihak masih mencari resolusi damai yang dapat dengan cepat menurunkan harga. Sebagian ekspor minyak Teluk Persia bahkan dilaporkan memakai tanker dengan transponder yang dimatikan, menandakan upaya menghindari deteksi di tengah situasi yang tegang.
Bagi investor saham AS, lonjakan harga minyak yang berkelanjutan biasanya menjadi katalis positif bagi sektor energi. Perusahaan-perusahaan seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) cenderung diuntungkan ketika margin dari produksi minyak melebar, sementara instrumen berbasis indeks seperti SPDR Energy Select ETF (XLE) memberikan eksposur ke keseluruhan sektor dalam satu produk. Namun, ketergantungan pada faktor geopolitik membuat pergerakan saham energi rentan terhadap pembalikan cepat begitu ketegangan mereda.
Tekanan ke Rupiah dan Suku Bunga BI
Di sisi lain, kenaikan harga minyak menjadi pukulan bagi mata uang negara importir. Dilansir Liputan6, Rupiah melemah ke 17.774 per dolar akibat kenaikan harga minyak, dan pemerintah menaikkan batas fuel surcharge penerbangan hingga 40% untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.
Tekanan berlanjut hingga sesi berikutnya. Menurut Bloomberg Technoz, Rupiah di pasar offshore (NDF) berada di Rp17.807 per dolar pada pukul 06.20 WIB, 3 September 2026, turun 0,32% dari penutupan sebelumnya di Rp17.726 per dolar. Sepanjang Mei hingga Juni 2026, Rupiah bergerak di rentang Rp17.693 hingga Rp18.188 per dolar, dan Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin untuk menahan pelemahan tersebut.
Instrumen
Level Terkini
Perubahan
Brent Crude
US$95,63/barel
+1,04%
WTI Crude
US$91,01/barel
naik mingguan ~9%
Rupiah (spot)
17.774/US$
melemah
Rupiah (NDF)
Rp17.807/US$
-0,32%
Kombinasi harga minyak tinggi dan penguatan indeks dolar AS menurut Bloomberg Technoz masih menekan pergerakan mata uang Asia secara umum. Bagi investor Indonesia yang mengoleksi saham AS, dinamika ini memiliki dua sisi: pelemahan Rupiah dapat menambah nilai portofolio dolar saat dikonversi, sementara lonjakan harga energi membuka peluang di sektor minyak yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Arah harga selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah ketegangan AS-Iran bereskalasi lebih jauh atau justru menemukan jalur resolusi damai.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.