Gotrade News - AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap kapal Iran di Selat Hormuz pada 26 Mei 2026, menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Insiden ini terjadi di sebelah selatan Pulau Larak, menurut laporan media Iran Nour News yang mengonfirmasi korban di pihak militer.
Eskalasi militer ini langsung menggerakkan komoditas dan pasar global. Harga minyak, emas, dan saham defense menjadi sorotan investor karena risiko gangguan pasokan energi di jalur perdagangan strategis.
Key Takeaways
- Jet AS-Israel menyerang kapal Iran di Selat Hormuz pada 26 Mei 2026 dengan korban militer Iran.
- Harga gandum Chicago turun 1,6% empat sesi berturut-turut seiring harapan gencatan senjata.
- Yuan menguat ke level 6,7803/USD, terkuat lawan dolar sejak Februari 2023.
Eskalasi di Selat Hormuz
Menurut Bloomberg Technoz, Komando Pusat AS (USCENTCOM) menyatakan operasi ini untuk melindungi pasukan dari ancaman militer Iran. Kapten Tim Hawkins menegaskan tindakan tersebut sebagai langkah defensif terhadap aktivitas pasukan Iran di kawasan.
Selat Hormuz sebagian besar tertutup sejak serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari. Jalur ini menjadi rute vital arus minyak dan pupuk global, sehingga gangguan pasokan berdampak luas pada rantai komoditas dunia.
Saham energi seperti Exxon Mobil (XOM) berpotensi menjadi penerima manfaat dari kenaikan harga minyak. Investor mencermati pergerakan emiten energi besar karena sensitivitasnya terhadap premi risiko geopolitik di Timur Tengah.
Sektor pertahanan juga mendapat sorotan, dengan saham Lockheed Martin (LMT) sering menjadi proxy bagi pengetatan belanja militer. Permintaan terhadap sistem persenjataan dan rudal cenderung naik ketika ketegangan regional memanas.
Komoditas Bergerak, Yuan Menguat
Dilansir Bloomberg Technoz, harga gandum Chicago turun 1,6% dalam sesi keempat berturut-turut. Kedelai dan jagung ikut melemah seiring optimisme atas perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang menurut Trump berjalan sangat baik.
Pembukaan kembali Selat Hormuz akan memulihkan arus bahan bakar dan pupuk global. Pasar komoditas pertanian merespons sinyal damai lebih cepat dibandingkan komoditas energi yang masih terdampak risiko serangan susulan.
Investor yang mencari aset lindung nilai dapat menengok SPDR Gold Trust (GLD), yang biasa diburu saat ketegangan geopolitik meningkat. Permintaan emas fisik dan ETF emas cenderung naik ketika ketidakpastian kebijakan luar negeri AS membesar.
Melansir Katadata, yuan menguat ke 6,7803/USD pada 25 Mei 2026. Level tersebut merupakan posisi terkuat sejak Februari 2023, dengan apresiasi year-to-date mencapai hampir 3% terhadap dolar AS.
HSBC memperkirakan yuan menyentuh 6,65/USD pada akhir tahun. Deutsche Bank lebih agresif di 6,55, sementara Goldman Sachs memprediksi 6,50 dalam dua belas bulan ke depan seiring sentimen damai AS-Iran membaik.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memengaruhi alokasi portofolio antara aset energi, defense, dan safe haven. Diversifikasi melalui saham-saham AS yang likuid menjadi opsi mitigasi terhadap volatilitas geopolitik jangka pendek.












