Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,46% ke level 6.926 pada Rabu (30/04). Penurunan tajam ini membuat IHSG meninggalkan level psikologis 7.000 yang sebelumnya dijaga.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut tergerus signifikan. Menurut data Katadata, nilai pasar menguap Rp4.257 triliun sejak rekor tertinggi pada Januari 2026.
Key Takeaways:
- IHSG turun 2,46% ke 6.926, level psikologis 7.000 jebol
- Kapitalisasi pasar menguap Rp4.257 triliun sejak ATH 9.134
- Seluruh 11 sektor merah, material dan energi paling tertekan
Sebanyak 618 saham terkoreksi pada perdagangan sesi siang. Hanya 95 saham yang menguat sementara 98 saham lainnya stagnan, menurut laporan Katadata.
Nilai transaksi tercatat Rp11,27 triliun dengan volume 23,46 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan mencapai 1,55 juta kali transaksi pada sesi pertama.
Seluruh 11 sektor IHSG bergerak di zona merah pada Rabu (30/04). Sektor material memimpin pelemahan dengan koreksi 3,77%, diikuti sektor industri yang turun 3,21%, menurut Liputan6.
Pelemahan rupiah turut menjadi pemicu utama tekanan jual. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyatakan rupiah melemah ke level 17.390 per dolar AS pada perdagangan tersebut.
Saham sektor perbankan dan energi mendapat tekanan paling besar. Herditya Wicaksana menambahkan bursa regional Asia pun cenderung mengalami koreksi pada hari yang sama.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut merosot 2,39% ke 667,79. Saham ANTM tercatat anjlok 6,44% ke Rp3.630, menjadi salah satu pemberat indeks utama.
Saham DSSA menjadi pemberat terbesar dengan koreksi 10,17% ke Rp1.545. Saham ESSA juga merosot 7,85% ke Rp880 pada perdagangan Rabu (30/04), menurut Katadata.
Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga regional. Indeks Hang Seng melemah 1,29% sementara Nikkei turun 1,24% pada sesi yang sama.
Kapitalisasi pasar BEI saat ini berada di level Rp12.333 triliun. Angka tersebut turun 25,66% dari rekor Rp16.590 triliun yang dicetak pada 20 Januari 2026, menurut Katadata.
Sesi kedua tidak membawa pemulihan signifikan bagi IHSG. Indeks bahkan sempat memburuk hingga melemah 3% pada sesi kedua menurut laporan Liputan6.
Tekanan jual masih dominan jelang penutupan perdagangan. Investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah dan sentimen regional yang lemah.
Bagi investor ritel, koreksi ini membuka ruang evaluasi portofolio. Diversifikasi ke pasar saham AS dapat menjadi strategi mitigasi risiko konsentrasi pada pasar domestik.
Sumber:












