Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,88% ke level 6.196 pada perdagangan Jumat (24/07), melanjutkan tekanan jual yang membuat indeks terbenam di zona merah selama tiga hari beruntun. Menurut Kompas, IHSG kehilangan 118 poin ke posisi 6.196,43 seiring aksi profit taking dan net sell investor asing. Kendati merosot tajam di akhir pekan, indeks sepanjang sepekan tercatat masih menguat tipis sekitar 0,34%.
Seluruh sektor kompak berada di zona merah pada penutupan hari ini. Dilansir Katadata, sektor basic industry menjadi yang paling dalam koreksinya dengan pelemahan 3,02%, memimpin tekanan atas indeks.
Asing Cabut Rp1,25 Triliun
Tekanan jual asing menjadi pemberat utama pergerakan bursa hari ini. Menurut Kompas, investor asing membukukan net sell senilai Rp1,25 triliun. Breadth pasar mencerminkan dominasi tekanan jual, dengan 587 saham melemah, hanya 104 saham menguat, dan 105 saham stagnan. Total volume transaksi mencapai 37,58 miliar saham dengan nilai Rp17,60 triliun dari frekuensi 2,24 juta kali.
Sejumlah saham komoditas dan pertambangan menjadi pemberat terbesar indeks. Melansir Katadata, saham CUAN anjlok 7,28% ke Rp700, ARCI turun 7,05% ke Rp1.055, dan TINS melemah 7,05% ke Rp3.430. Koreksi juga menyentuh BRMS yang turun 4,10% ke Rp585 dan AMMN yang melemah 4,27% ke Rp4.040.
Saham
Perubahan
Harga
CUAN
-7,28%
Rp700
ARCI
-7,05%
Rp1.055
TINS
-7,05%
Rp3.430
AMMN
-4,27%
Rp4.040
BRMS
-4,10%
Rp585
Sektor perbankan turut menekan indeks. Menurut Katadata, BMRI melemah 5,71% ke Rp4.130 sekaligus membukukan nilai transaksi tertinggi Rp1,68 triliun, diikuti BBNI yang turun 2,22% ke Rp3.520 dan BBRI yang melemah 1,00% ke Rp2.960, sementara BBCA relatif stagnan di Rp6.275. Di sisi lain, penguatan terbatas ditopang SINI yang melonjak 9,93%, MORA naik 3,94%, dan AKRA yang menguat 2,48% ke Rp1.445.
Minyak Dunia Tembus US$100 dan Tarif AS Picu Sentimen Risk-Off
Tekanan atas bursa domestik dipicu sederet sentimen eksternal yang membebani selera risiko investor global. Menurut Kompas, lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel, kebijakan tarif Amerika Serikat sebesar 10%, serta risiko inflasi dari konflik Timur Tengah menjadi pemberat sentimen pasar. Reli harga minyak di atas US$100 per barel itu turut mengangkat prospek raksasa energi AS seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX), sementara ketidakpastian tarif dan geopolitik menekan sentimen risiko yang juga membayangi emiten energi seperti ConocoPhillips (COP).
Pelemahan IHSG sejalan dengan koreksi bursa kawasan Asia. Dilansir Katadata, indeks Nikkei melemah 2,79%, Shanghai turun 1,61%, dan Hang Seng terkoreksi 0,98%. Kapitalisasi pasar bursa domestik tercatat Rp10.894 triliun.
Indeks Utama Kompak Melemah
Pelemahan tidak hanya menimpa IHSG tetapi juga indeks acuan lainnya. Menurut Sindonews, indeks LQ45 turun 1,97% ke 614, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 2,41% ke 371, IDX30 terkoreksi 1,86% ke 352, dan MNC36 turun 1,94% ke 268, seiring tekanan jual yang terjadi hampir di semua sektor.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.