Langkah agresif ini memicu perdebatan sengit di internal Partai Republik mengenai konsistensi kebijakan luar negeri Trump. Sebagian pihak khawatir intervensi ini melanggar prinsip non-intervensi yang selama ini menjadi kekuatan politiknya.
Rep. Marjorie Taylor Greene mengkritik bahwa langkah ini hanya melayani kepentingan korporasi besar dan eksekutif minyak.
Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk memposisikan AS sebagai pengelola Venezuela demi mengamankan akses energi. Pergeseran fokus ke aset minyak ini relevan bagi investor yang memegang saham energi seperti Chevron Corporation.
Menurut Trump, AS seharusnya mengambil minyak dari wilayah operasi militer sebagai bentuk pembayaran kembali.
Investor kini perlu mencermati apakah operasi ini akan berjalan singkat atau justru berlarut seperti perang Irak. Ketidakpastian durasi konflik militer sering kali menjadi sentimen pemberat bagi stabilitas pasar saham secara umum.
Senator Tom Cotton berpendapat bahwa operasi ini akan sukses dalam jangka panjang seperti penggulingan Noriega di Panama.
Namun, risiko politik domestik tetap membayangi di tengah tahun pemilu yang menentukan kontrol Kongres AS. Fokus publik pada isu biaya hidup bisa teralihkan atau justru memburuk jika operasi ini memakan biaya besar.