Gotrade News - Ketegangan di Selat Hormuz telah meningkatkan volatilitas harga minyak dunia, mendorong reli harga minyak mentah secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Trump mengancam serangan militer jika Iran tidak membuka kembali jalur pelayaran hari ini.
Key Takeaways:
- Ketegangan di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak.
- Minyak Brent mencapai hampir $110 per barel pada 2026.
- Harga bisa mencapai $150-$200 jika konflik bereskalasi.
Kemungkinan eskalasi konflik menjadi perhatian utama, dengan potensi Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di Timur Tengah. Hal ini memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hampir 80% untuk Brent dan 95% untuk WTI tahun ini.
Pasar energi mengalami tekanan dengan perlunya 400 juta barel dari cadangan darurat untuk menstabilkan pasokan global. Keadaan ini tidak cukup untuk menutup 20 juta barel per hari yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz, pelabuhan utama bagi 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Langkah Trump memberikan ultimatum pada Iran menambah ketidakpastian pasar. Jika Iran tetap menutup selat tersebut, harga minyak bisa melonjak lebih lanjut, memicu implikasi besar bagi ketahanan energi dan harga komoditas global.
Upaya Arab Saudi dan UEA untuk meningkatkan volume melalui jalur pipa tidak mengimbangi penurunan ekspor melalui selat tersebut. Ketidakpastian ini juga membuat Iran mungkin memblokir Bab el-Mandeb, mengancam rute minyak vital lainnya.
Pasar finansial dan investor harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Keputusan akhir Iran dan tindakan lebih lanjut dari Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengarahkan nasib pasar minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Referensi:
- Seeking Alpha, Oil surge puts energy ETFs at top of 2026 gains. Diakses 6 April 2026
- Axios, The massive economic impact of the global energy crisis. Diakses 6 April 2026
- The Motley Fool, Brace for Impact: Why Oil Prices Could Be Extremely Volatile This Week.. Diakses 6 April 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












