Kevin Warsh Resmi Jadi Ketua The Fed Gantikan Powell

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Kevin Warsh Resmi Jadi Ketua The Fed Gantikan Powell

Share this article

Gotrade News - Senat Amerika Serikat resmi mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya melalui voting 54-45 pada Rabu (13/05/2026). Warsh akan menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya sebagai Ketua berakhir pada Jumat (16/05/2026).

Konfirmasi tersebut muncul saat inflasi AS masih bertengger di atas target 2% The Fed, membuka babak baru bagi kebijakan moneter. Pasar saham AS dan dolar kini bersiap menghadapi potensi pergeseran arah suku bunga di bawah kepemimpinan baru.

Key Takeaways

  • Senat AS mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed ke-11 dengan voting 54-45 mengikuti garis partai.
  • Warsh menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Jumat (16/05/2026) di tengah inflasi yang masih di atas target.
  • Trump diperkirakan mendorong Warsh menurunkan suku bunga, sebuah arah yang berbeda dari pendekatan Powell sebelumnya.

Proses Konfirmasi di Senat

Menurut Liputan6, hasil voting 54-45 hampir sepenuhnya mengikuti garis partai dengan dukungan mayoritas dari Republik. Hanya Senator Demokrat Pennsylvania John Fetterman yang menyeberang untuk memberikan dukungan kepada Warsh.

Proses konfirmasi sempat tertunda akibat manuver Senator Thom Tillis dari North Carolina. Tillis menuntut Departemen Kehakiman menghentikan investigasi terhadap Powell sebelum bersedia memuluskan pemungutan suara.

Dilansir Kompas Money, Warsh akan menjadi Ketua The Fed ke-11 dalam era perbankan modern Amerika Serikat. Pengalamannya sebagai mantan Gubernur The Fed periode 2006-2011 menjadi modal penting dalam transisi kepemimpinan ini.

Investor saham AS yang terekspos lewat S&P 500 ETF (SPY) akan memantau ketat pernyataan kebijakan pertama dari ketua baru. Setiap sinyal dovish berpotensi memicu reli pada indeks acuan AS.

Tekanan Politik dan Arah Suku Bunga

Melansir Investing.com Indonesia, Presiden Trump diperkirakan akan menekan Warsh untuk segera memangkas suku bunga acuan. Trump berulang kali mengkritik Powell sebagai terlalu ketat dalam menjaga kebijakan moneter.

Tekanan politik tersebut menempatkan Warsh dalam posisi sulit di tengah inflasi yang belum kembali ke target 2%. Pemangkasan suku bunga prematur berisiko memicu kembali tekanan harga yang belum sepenuhnya jinak.

Pasar obligasi melalui instrumen seperti 20 Yr Treasury ETF (TLT) akan menjadi barometer utama ekspektasi kebijakan moneter. Imbal hasil Treasury jangka panjang berpotensi bergerak agresif menyusul sinyal arah baru.

Dolar AS yang tercermin pada Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP) juga rentan terhadap pergeseran ekspektasi suku bunga. Pelemahan dolar sering kali menjadi konsekuensi langsung dari sikap dovish bank sentral AS.

Independensi The Fed kini menjadi sorotan utama pelaku pasar global di tengah transisi kepemimpinan ini. Kredibilitas Warsh dalam menavigasi tekanan politik akan menentukan respons pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Investor Indonesia perlu mencermati pertemuan FOMC pertama di bawah Warsh sebagai katalis penting. Arah kebijakan tersebut akan membentuk lanskap aset risiko sepanjang paruh kedua 2026.

Sumber

Disclaimer: Gotrade Indonesia adalah aplikasi investasi yang terdaftar resmi di OJK dan didukung oleh PT Valbury Asia Futures.

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade