AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.
Bagikan artikel
Gotrade News - Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu gelombang aksi jual risiko (risk-off) di pasar global, mengerek harga minyak ke level tertinggi lima minggu sekaligus menyeret bursa Asia dan Wall Street ke zona merah. Minyak Brent naik 0,7% ke US$95,34 per barel, sementara indeks saham kawasan Asia berguguran seiring investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai.
Ketegangan mencuat setelah AS melancarkan serangkaian serangan udara ke Iran pada Selasa, yang kemudian dibalas Teheran. Kekhawatiran utama pasar adalah potensi gangguan pasokan energi lewat Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.
Key Takeaways
Minyak Brent menyentuh level tertinggi lima minggu di US$95,34 per barel akibat kekhawatiran Selat Hormuz.
KOSPI Korea Selatan anjlok 3% dan Nikkei Jepang turun 2,2% dalam gelombang risk-off.
Dolar AS bertahan dekat level tertinggi dua minggu di 99,67 sebagai aset lindung nilai.
Wall Street sesi sebelumnya melemah, dengan S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq turun 1%.
Selat Hormuz Hidupkan Kembali Kecemasan Inflasi
Melansir Metrotvnews, indeks saham MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,8%, dengan KOSPI Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 3% dan Nikkei 225 Jepang turun 2,2%. Tekanan jual menyebar seiring meningkatnya kecemasan bahwa konflik dapat mengganggu aliran energi global.
Analis Westpac, seperti dikutip Metrotvnews, menyatakan bahwa "ancaman gangguan lebih lanjut terhadap Selat Hormuz telah menimbulkan kembali kecemasan atas inflasi". Kenaikan harga energi yang bertahan lama berpotensi memperumit prospek inflasi dan kebijakan moneter global.
Lonjakan harga minyak biasanya menjadi katalis positif bagi emiten energi terintegrasi di pasar saham AS. Investor kerap memantau nama-nama besar seperti Exxon Mobil (XOM), yang pendapatannya sangat terkait dengan pergerakan harga minyak mentah acuan.
Dolar dan Emas Jadi Tujuan Lindung Nilai
Di tengah gejolak, aset safe-haven mendapat sokongan. Indeks Dolar AS bertahan dekat level tertinggi dua minggu di 99,67, sementara emas relatif stabil di US$4.328,59 per troy ounce. Menurut Metrotvnews, aset kripto ikut tertekan tipis dengan Bitcoin turun 0,2% ke US$77.246,57 dan Ether melemah 0,3% ke US$2.412,60.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 4 basis poin ke 4,798%, mencerminkan repositioning investor terhadap risiko inflasi dari harga energi. Sentimen kehati-hatian ini terlihat pula pada futures e-mini S&P 500 yang bergerak flat, menandakan pasar belum menemukan pijakan arah setelah pelemahan sesi sebelumnya di mana Nasdaq Composite turun 1%.
Konflik Berlanjut, Status Nuklir Iran Tak Pasti
Dari sisi geopolitik, ketegangan belum menunjukkan tanda mereda. Dilansir Bloomberg Technoz, Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai balasan atas serangan udara AS ke situs militer dan area sipil di Iran selatan. Juru bicara markas Khatam al-Anbiya Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa "operasi penyerangan terhadap pihak Amerika ini akan terus berlanjut sampai mereka menyesali kejahatan yang telah diperbuat".
Retorika keras ini memperkuat premi risiko yang tertanam di harga minyak dan menekan selera investor terhadap aset berisiko, termasuk saham. Ketidakpastian durasi konflik menjadi variabel yang sulit dipetakan pasar. Ketegangan geopolitik semacam ini kerap memberi sentimen positif bagi sektor pertahanan, dengan investor menyoroti emiten seperti Lockheed Martin (LMT) yang bisnisnya terkait belanja militer.
Lapisan ketidakpastian bertambah dari isu nuklir. Menurut Bloomberg Technoz, Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi mengungkapkan bahwa badan tersebut kekurangan informasi soal material nuklir Iran dan tidak dapat memverifikasi lokasi maupun statusnya. Grossi mendesak agar inspektur kembali mendapatkan akses "dengan tingkat urgensi setinggi mungkin". Laporan IAEA itu disebarkan di Wina pada 1 September 2026, di tengah konflik yang telah berlangsung enam bulan antara Teheran dan Washington serta perebutan kendali atas Selat Hormuz.
Apa Artinya bagi Investor
Kombinasi lonjakan minyak, penguatan dolar, dan pelemahan bursa membentuk pola risk-off klasik yang lazim muncul saat risiko geopolitik meningkat. Bagi investor saham AS, dinamika ini bersifat dua arah: tekanan pada pasar secara luas di satu sisi, dan potensi rotasi ke sektor energi serta pertahanan di sisi lain. Aset lindung nilai berbasis emas, misalnya melalui emiten tambang seperti Newmont (NEM), juga kerap menjadi sorotan saat volatilitas meningkat.
Perlu ditegaskan, seluruh pergerakan di atas merupakan konteks pasar, bukan rekomendasi investasi. Arah pasar dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada eskalasi atau deeskalasi konflik dan kelanjutan gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz. Investor disarankan memantau perkembangan geopolitik dan data pasar secara berkelanjutan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.