Gotrade News - Harga minyak mentah WTI melonjak 7,5% ke $90,18 per barel pada Sabtu (19/04), level tertinggi sejak awal 2026 setelah Marinir AS menyita kapal berbendera Iran di Teluk Oman. Lonjakan ini diperparah oleh penolakan Tehran terhadap negosiasi di Islamabad dan laporan penutupan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur transit 20% pasokan minyak dunia.
Key Takeaways
- Harga WTI melonjak 7,5% ke $90,18/barel dan Brent naik 6,2% ke $96 setelah AS menyita kapal kargo Iran bernama TOUSKA di Teluk Oman
- Futures Wall Street melemah tajam dengan Dow turun 455 poin dan Selat Hormuz dilaporkan ditutup kembali oleh Iran
- Gencatan senjata AS-Iran berakhir Selasa mendatang tanpa jadwal negosiasi baru yang disepakati kedua belah pihak
Penyitaan Kapal dan Eskalasi Militer
Presiden Trump mengonfirmasi bahwa Marinir Amerika Serikat telah menguasai kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA di perairan Teluk Oman. Menurut Benzinga, Trump menyatakan kapal tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal yang terdokumentasi sebelumnya.
Trump secara langsung menyebut tindakan Iran sebagai "pelanggaran total" terhadap ketentuan gencatan senjata yang telah disepakati kedua negara. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Washington memandang perjanjian gencatan senjata sudah tidak berlaku secara efektif meskipun batas waktu resminya baru berakhir Selasa.
Eskalasi semakin memanas ketika Trump memperingatkan kemungkinan serangan militer langsung terhadap infrastruktur vital Iran. Presiden AS menyatakan negaranya mampu "menghancurkan semua pembangkit listrik dan jembatan" jika kesepakatan diplomatik tidak tercapai dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Iran melalui kantor berita resmi IRNA secara tegas menolak berpartisipasi dalam putaran kedua negosiasi yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Penolakan ini praktis menutup jalur diplomatik terakhir yang tersedia sebelum tenggat gencatan senjata, meningkatkan probabilitas konfrontasi militer terbuka antara kedua negara.
Penyitaan kapal TOUSKA sendiri bukan insiden yang berdiri sendiri melainkan bagian dari pola eskalasi bertahap sejak gencatan senjata disepakati beberapa pekan lalu. Analis geopolitik memandang tindakan ini sebagai langkah kalkulatif Washington untuk menguji batas respons Tehran sebelum tenggat waktu diplomasi habis.
Dampak ke Pasar Energi dan Wall Street
Harga Brent crude melonjak 6,22% ke $96 per barel, sementara bensin RBOB naik 4,13% ke $3,13 per galon di pasar komoditas internasional. Menurut Investing.com, Selat Hormuz dilaporkan ditutup kembali oleh otoritas Iran, memperparah kekhawatiran gangguan rantai pasokan minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia untuk transportasi energi dengan volume transit sekitar 21 juta barel minyak per hari. Penutupan jalur ini meskipun bersifat sementara berpotensi menciptakan kelangkaan pasokan yang mendorong harga minyak menembus level $100 per barel.
Futures Dow Jones anjlok 455 poin atau 0,92% ke level 49.186 pada perdagangan pra-pasar akhir pekan. S&P 500 futures melemah 0,72% ke 7.110 dan Nasdaq 100 futures terkoreksi 0,68%, menghapus sebagian penguatan yang diraih pekan sebelumnya.
Penurunan tajam ini kontras dengan performa cemerlang Wall Street sepekan sebelumnya yang mencatat rally signifikan. S&P 500 sempat menguat sekitar 4,5% sementara Nasdaq Composite melonjak 6,8% didorong oleh optimisme negosiasi dagang dan laporan keuangan kuartal pertama yang solid.
Saham-saham energi berpotensi menjadi penerima manfaat utama ketika pasar dibuka Senin dengan Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) memimpin sektor. Kedua raksasa minyak AS ini memiliki korelasi tinggi dengan harga WTI dan secara historis mencatat lonjakan harga saham setiap kali terjadi gangguan pasokan dari Timur Tengah.
ConocoPhillips (COP) sebagai produsen minyak independen terbesar AS juga menjadi perhatian investor yang mencari eksposur ke sektor hulu energi. ETF SPDR Energy Select (XLE) dan United States Oil Fund (USO) menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan diversifikasi sektor energi tanpa memilih saham individual.
Kenaikan harga minyak yang tajam dalam waktu singkat juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap prospek inflasi AS yang baru menunjukkan tanda perlambatan. Federal Reserve yang sebelumnya diperkirakan mulai memangkas suku bunga pada semester kedua 2026 kini menghadapi tekanan baru jika harga energi tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Pasar global kini memantau dua variabel kritis menjelang batas waktu gencatan senjata Selasa mendatang. Tanpa terobosan diplomatik baru atau sinyal de-eskalasi dari kedua pihak, risiko gangguan pasokan energi berkepanjangan dan koreksi lebih dalam di pasar ekuitas akan terus membebani sentimen investor sepanjang pekan depan.
Sources












