Minyak Bisa US$150, BI Beber 3 Dampak ke Ekonomi RI

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Minyak Bisa US$150, BI Beber 3 Dampak ke Ekonomi RI

Share this article

Gotrade News - Harga minyak mentah Brent telah melonjak di atas US$103 per barel setelah blokade Selat Hormuz resmi diberlakukan, dan sejumlah analis kelas dunia memperingatkan harga bisa menembus US$150 jika situasi tidak mereda. Kenaikan 8% yang terjadi dalam sehari dinilai sama sekali belum mencerminkan dampak penuh dari gangguan pasokan yang sebenarnya.

Jorge Montepeque, Direktur Pelaksana Onyx Capital Group, menyatakan secara tegas bahwa harga minyak "harusnya US$140, US$150" berdasarkan perhitungan fundamental pasokan global. Blokade yang mulai berlaku Senin pukul 10 pagi waktu New York itu memotong salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, dan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak jangka menengahnya.


Key Takeaways:

  • Brent sudah di US$103/barel, analis Onyx Capital prediksi bisa capai US$140-US$150 jika blokade berlanjut
  • Bank Indonesia identifikasi 3 dampak besar: pengetatan kondisi finansial, kenaikan harga komoditas, dan penurunan produksi serta perdagangan
  • Saham energi AS seperti XOM, CVX, XLE, dan USO bisa jadi instrumen untuk memanfaatkan volatilitas ini, baik saat harga naik maupun turun

Kenapa Analis Sebut US$150 Bukan Angka Sembarangan

Harga Brent yang kini berada di atas US$103 per barel terlihat dramatis, tapi Montepeque dari Onyx Capital Group justru menyebut angka itu masih jauh dari "harga yang wajar" jika blokade Hormuz berjalan penuh. Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global, dan setiap gangguan berarti kapal tanker harus memutar rute sejauh ribuan mil laut, menambah biaya dan waktu pengiriman secara signifikan.

Wahyu Laksono, commodity observer yang dipantau Liputan6, menambahkan lapisan risiko lain: "unpredictability of Trump's stance." Komentar Trump yang sering muncul di luar jam perdagangan menciptakan tekanan psikologis tambahan di pasar, dan geopolitical risk premium yang tadinya sudah lama tidak diperhitungkan kini kembali masuk ke dalam harga minyak. WTI sempat anjlok ke sekitar $96 dan Brent ke $94, lalu keduanya surge di atas $100 dalam satu sesi perdagangan, gambaran volatilitas yang belum akan reda dalam waktu dekat.

3 Dampak Besar ke Indonesia Menurut Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, berbicara langsung di Central Banking Forum 2026 di Bali, dan apa yang ia sampaikan seharusnya menjadi alarm bagi siapapun yang memantau ekonomi Indonesia. BI mengidentifikasi tiga jalur transmisi utama dari gejolak harga minyak global ke perekonomian domestik.

Pertama, pengetatan kondisi finansial global. Ketidakpastian yang meningkat mendorong investor internasional berpindah ke aset-aset safe haven, dan ini berarti capital outflow dari negara berkembang seperti Indonesia mengalir ke negara-negara maju, memperkuat indeks dolar dan menekan nilai tukar rupiah. Kedua, peningkatan harga komoditas secara luas, termasuk energi dan pangan, yang langsung dirasakan oleh konsumen dan dunia usaha melalui kenaikan biaya produksi dan inflasi, suku bunga, dan saham yang saling mempengaruhi. Ketiga, penurunan produksi dan perdagangan, di mana gangguan rantai pasok global memukul ekspor-impor dan aktivitas manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.

Rupiah dan IHSG: Siapa Paling Rentan?

Dari tiga dampak yang diidentifikasi BI, tekanan pada nilai tukar rupiah adalah yang paling cepat terasa. Capital outflow yang dipicu flight-to-safety investor global memperkuat dolar AS, dan setiap penguatan dolar berarti rupiah harus bekerja lebih keras untuk membeli impor, termasuk minyak yang sebagian besar Indonesia beli dalam dolar.

Indonesia adalah net importir minyak, artinya kenaikan harga minyak global tidak otomatis menguntungkan neraca perdagangan seperti pada negara-negara produsen besar. Subsidi energi bisa membengkak, tekanan inflasi bisa meningkat, dan ruang BI untuk memangkas suku bunga menjadi lebih sempit. Ini adalah skenario yang perlu dipahami investor sebelum mengambil posisi, karena memahami risiko investasi adalah fondasi dari setiap strategi yang bertahan lama.

Peluang di Saham Energi AS: Profit di Dua Arah

Di sinilah sudut pandang yang sering terlewat: gejolak harga minyak bukan hanya berita buruk untuk portofolio, tapi juga bisa menjadi peluang jika investor tahu di mana posisi yang tepat. Saham-saham energi AS adalah instrumen yang paling langsung terpengaruh oleh kenaikan harga minyak global, dan Gotrade memungkinkan investor Indonesia untuk mengakses pasar ini.

Saham Exxon Mobil dan saham Chevron adalah dua nama terbesar di sektor energi AS yang pendapatannya berkorelasi langsung dengan harga minyak. Ketika Brent di atas $100, margin keuntungan mereka melebar, dan secara historis kedua saham ini mencatat kinerja positif selama periode harga minyak tinggi yang berkepanjangan.

Bagi yang ingin diversifikasi lebih luas tanpa memilih satu saham spesifik, ETF sektor energi XLE mengandung sekitar 23 perusahaan energi terbesar AS dalam satu instrumen. Sedangkan ETF minyak AS USO dirancang untuk mengikuti pergerakan harga minyak mentah WTI secara lebih langsung, cocok untuk investor yang ingin taruhan eksplisit pada arah harga minyak.

Strategi Dua Arah: Naik atau Turun, Tetap Ada Peluang

Yang membedakan investor yang mahir dari yang tidak adalah kemampuan membaca volatilitas sebagai peluang, bukan hanya ancaman. Harga minyak yang bergerak liar antara $94 dan $103 dalam satu sesi adalah gambaran bahwa pasar belum settle pada satu narasi, dan ketidakpastian itu sendiri menciptakan peluang entry di dua arah.

Bagi investor yang percaya harga minyak akan terus naik menuju proyeksi $140-150 yang disebut Montepeque, posisi buy di XOM, CVX, atau XLE adalah cara yang terukur untuk berpartisipasi dalam momentum ini. Bagi yang lebih berhati-hati dan melihat kemungkinan de-eskalasi geopolitik yang bisa menjatuhkan harga kembali, strategi yang berbeda bisa diterapkan. Pendekatan macro trading seperti ini, membaca event global lalu memetakan dampaknya ke instrumen spesifik, adalah cara investor institusional bermain di momen seperti ini. Investor ritel di Indonesia kini bisa melakukan hal yang sama melalui Gotrade.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade