Gotrade News - OPEC+ menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli 2026. Kenaikan ini menjadi yang keempat berturut-turut, diputuskan pada Minggu (7/6) lalu.
Namun produksi riil justru turun karena perang AS-Iran menutup aliran minyak via Selat Hormuz. Akibatnya harga minyak tetap tinggi meski kuota resmi terus dinaikkan setiap bulan.
Key Takeaways
OPEC+ menambah kuota 188.000 bpd mulai Juli, kenaikan keempat berturut-turut.
Selat Hormuz tertutup membuat produksi riil anjlok meski kuota naik.
Brent bertahan di USD93,09, jauh di atas USD72 sebelum perang.
Melansir Kompas.com, tujuh anggota inti menaikkan kuota sekitar 600.000 bpd selama April hingga Juni. Namun produksi riil rata-rata turun ke 33,19 juta bpd pada April dari 42,77 juta bpd di Februari.
Target tambahan 188.000 bpd untuk Juli sama dengan level Juni, tetapi di bawah 206.000 bpd pada Mei dan April. Kuota Irak sendiri naik sebesar 26.000 bpd dalam putaran terbaru ini.
Paradoks Kuota Naik Pasokan Turun
Arab Saudi tidak mampu memasok penuh sejak akhir Februari akibat gangguan rute pengiriman. Uni Emirat Arab bahkan keluar dari OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota.
Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menilai kenaikan kuota tidak berarti banyak selama Selat Hormuz tertutup. Mantan pejabat OPEC itu memperingatkan pasar bisa bergerak cepat ketika selat dibuka kembali.
Kondisi ini menahan harga minyak di level tinggi dan menguntungkan produsen besar AS seperti Exxon Mobil (XOM). Margin penjualan minyak mentah melebar saat harga acuan bertahan di kisaran USD90 per barel.
Pemain integrasi besar lain seperti Chevron (CVX) juga ikut menikmati momentum harga tinggi ini. Investor yang ingin eksposur langsung ke harga minyak dapat melirik United States Oil Fund (USO).
Harga Minyak dan Risiko Pembalikan
Dilansir KabarBursa.com, Brent menetap di USD93,09 per barel pada Jumat, turun 2,04 persen. WTI berada di USD90,54 per barel, melemah 2,69 persen pada sesi yang sama.
Sekitar 567.000 bpd dari pemotongan asli akan dikembalikan secara bertahap mulai Juli. Pemulihan penuh diperkirakan tercapai akhir September jika kenaikan dipertahankan hingga Agustus.
Langkah ini merupakan pemulihan bertahap atas pemotongan 1,65 juta bpd yang disepakati pada 2023. Tujuh dari 21 anggota yang bertemu meliputi Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.
Risiko utama muncul jika Selat Hormuz dibuka kembali dan pasokan riil membanjir pasar. Skenario itu bisa membalik kekhawatiran kekurangan menjadi kelebihan pasokan dengan sangat cepat.
Bagi investor, ketidakpastian ini membuat saham energi AS bergerak fluktuatif mengikuti dinamika geopolitik. Diversifikasi tetap penting selama harga minyak dipengaruhi faktor di luar fundamental permintaan dan penawaran.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.