Gotrade News - Pada Selasa (31/3), mantan Presiden AS, Donald Trump, menyatakan perang melawan Iran dapat berakhir dalam dua hingga tiga minggu. Prediksi ini dilontarkan setelah Amerika Serikat berhasil mencapai sebagian besar tujuan militernya di Timur Tengah. Trump menilai sudah saatnya AS mundur dan menyerahkan krisis Selat Hormuz kepada negara lain. Langkah ini dianggap mampu menurunkan ketegangan kawasan tersebut.
- Penyelesaian krisis Timur Tengah bisa mengurangi ketidakpastian pasar minyak.
- Harga minyak turun saat harapan perang segera berakhir meningkat.
- Stabilitas regional masih bergantung pada diplomasi setelah AS menarik diri.
Hingga saat ini, AS tetap berkomitmen memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Meskipun belum ada kesepakatan formal dengan Teheran, Trump merasa tujuan utama sudah tercapai. Sikap ini memicu spekulasi di pasar, termasuk sektor minyak dunia yang merespons positif kemungkinan akhir perang. Efek awal ini terlihat dari penurunan harga minyak mentah WTI sebesar 1,5% menjadi USD101,38 per barel.
Sejalan dengan pernyataan Trump, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni turun 2,6% ke USD104,63 per barel. Harapan berakhirnya konflik besar-besaran di Timur Tengah menjadi pendorong, meskipun ada catatan bahwa harga minyak tetap bergejolak. Analis memandang, jika harga kembali naik ke level USD125 atau USD130, dampak ekonominya bisa signifikan. Peter Cardillo dari Spartan Capital menyebut, situasi ini turut memengaruhi kebijakan AS terhadap Iran.












